Buntut Penembakan di Selandia Baru, Muslim Australia Diminta Waspada

Oleh Liputan6.com pada 16 Mar 2019, 11:03 WIB
Diperbarui 18 Mar 2019, 10:13 WIB
Penembakan di Masjid Selandia Baru

Liputan6.com, Christchurch - Para ulama Islam di Australia mengutuk serangan penembakan di masjid Selandia Baru, di dua masjid Christchurch sebagai "aksi teror" yang terinspirasi oleh paham Islamofobia.

Pihak berwenang Selandia Baru yakin bahwa 49 orang tewas setelah penembakan massal di dua masjid Christchurch, yang disebut Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, sebagai "salah satu hari terkelam di Selandia Baru".

Federasi Dewan Islam Australia (AFIC) mengutuk serangan penembakan di masjid Selandia Baru itu dan mendesak pemerintah di Australia di semua level untuk memberi perhatian ekstra pada sentimen anti-Muslim dan ekstrimisme.

Presiden AFIC, Rateb Jneid, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa para korban dan keluarga mereka berada dalam doanya.

"Dengan kesedihan yang mendalam kita mengetahui serangan teroris hari ini yang dilakukan terhadap jamaah yang tidak bersalah di sebuah Masjid di Christchurch, Selandia Baru," kata Dr Jneid seperti dikutip dari ABC Indonesia, Sabtu (16/3/2019).

"Kami menyampaikan doa dan simpati kami kepada para korban dan penyintas, keluarga mereka dan masyarakat Selandia Baru selama masa yang mengerikan ini," katanya.

"Tindakan teror terhadap para jamaah yang tidak bersalah ini adalah kekejaman dan kami berduka bersama para korban dan keluarga mereka."

Peringatan Akan Adanya Suasana Kebencian

Senator perempuan Muslim pertama Australia, Mehreen Faruqi, mengutuk sentimen anti-Islam di Australia, terutama "politisi sayap kanan seperti Pauline Hanson dan Fraser Anning".

"Ada darah di tangan para politisi yang menghasut kebencian. Bagi saya, ada hubungan yang jelas antara politik kebencian mereka dan kekerasan yang memalukan dan tidak masuk akal di Christchurch ini," unggahnya di Twitter.

"Muslim telah menjadi sasaran selama sholat Jum'at, ini bukan peristiwa terisolasi dengan penyebab misterius. Ini bukan peristiwa acak. Ini adalah konsekuensi dari kebencian Islamofobia dan rasis yang telah dinormalisasi dan dilegitimasi oleh beberapa politisi dan media. "

"Menghadiri salat Jumat adalah ritual keluarga bagi jutaan umat Islam. Hati saya hancur untuk semua orang yang kehilangan keluarga dan teman-teman hari ini, dan Muslim di seluruh dunia yang khawatir akan keselamatan mereka setiap hari."

Dr Jneid mengatakan dalam pernyataannya bahwa umat Islam di Australia perlu mewaspadai keselamatan mereka, terutama di sekitar masjid.

"Kami mendorong semua Masjid dan tempat ibadah di Australia untuk lebih waspada dan bagi anggota komunitas Muslim untuk secara khusus memperhatikan keselamatan mereka dalam beberapa hari mendatang," katanya.

Ia juga mendesak pemerintah Australia untuk mewaspadai "konsekuensi mengerikan" yang bisa timbul dari ujaran kebencian.

"Pembantaian hari ini adalah produk dari Islamofobia yang semakin meningkat dan marjinalisasi umat Islam dan merupakan pengingat bagi semua pihak, termasuk para pemimpin politik dan komentator media, tentang konsekuensi mengerikan yang bisa ditimbulkan oleh suasana kebencian dan perpecahan," katanya.

"Tidak ada negara atau komunitas yang kebal terhadap kekejaman seperti itu."

"Kami mendesak pemerintah di Australia, baik di tingkat Federal dan Negara Bagian, untuk memberikan perhatian ekstra pada munculnya sentimen anti-Muslim dan ekstrimisme dan memastikan bahwa keprihatinan komunitas Muslim didengar dan ditanggapi dengan tulus."

Saksikan juga video terkait penembakan di masjid Selandia Baru berikut ini:

2 dari 2 halaman

Jumlah Korban

Penembakan di Masjid Selandia Baru
Polisi dan staf ambulans membantu seorang lelaki yang terluka dalam insiden penembakan di Masjid Al Noor, Christchurch, Selandia Baru, Jumat (15/3). Tiga korban penembakan adalah perempuan dewasa dan seorang lagi adalah gadis cilik. (AP Photo/Mark Baker)

Penembakan di masjid Selandia Baru tercatat menelan korban tewas hingga 49 orang dan mengakibatkan puluhan lainnya luka-luka.

Pada penembakan hari Jumat itu, 41 di antaranya meninggal di Masjid Al-Noor, 7 orang di Masjid Linwood, dan seorang lagi meninggal di Christchurch Public Hospital.

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern kemudian mengumumkan kewarganegaraan sejumlah korban penembakan di Selandia Baru. Ia juga mengatakan perwakilan konsuler disediakan untuk setiap negara asing yang terdampak dalam serangan terhadap dua masjid Christchurch.

"Pada tahap ini kami mendapati bahwa mereka yang terdampak termasuk Pakistan, Turki, Arab Saudi, Bangladesh, Indonesia dan Malaysia," kata Ardern pada konferensi pers yang dikutip dari CNN, Sabtu (16/3/2019).

Selain itu, Kementerian Luar Negeri Yordania mengatakan dua warganya tewas dan lima lainnya cedera dalam serangan penembakan di Selandia Baru itu. Sejumlah warga Palestina juga dilaporkan hilang, menurut duta besar Palestina untuk Selandia Baru.

Sebelumnya, dalam pidato singkatnya menanggapi penembakan di masjid di Christchurch dan Linwood, PM Jacinda Ardern mengatakan insiden itu adalah "salah satu hari paling kelam di Selandia Baru" dan bahwa para korban telah memilih untuk menjadikan Selandia Baru rumah mereka. "Mereka adalah kita," katanya.

Sejauh ini polisi Selandia Baru memperingatkan penduduk Kota Christchurch untuk tetap di dalam rumah dan bangunan, serta diminta segera menelepon layanan darurat 111 jika melihat perilaku dan hal mencurigakan di sekitar mereka.

Lanjutkan Membaca ↓