Badai Siklon Tropis Picu Banjir Besar di Afrika Tenggara, 115 Orang Tewas

Oleh Siti Khotimah pada 15 Mar 2019, 10:43 WIB
Badai tropis siklon Joyce disebut akan menghantam pantai barat Australia pada Jumat Petang (AP)

Liputan6.com, Maputo - Badai Siklon tropis "Idai" menghantam sejumlah negara di Afrika Tenggara, menyebabkan hujan deras, banjir bandang, dan tanah longsor. Sebanyak 115 orang telah dinyatakan tewas per Kamis, 14 Maret 2019 sebagai akibat bencana.

Sedikitnya terdapat 66 korban tewas di Mozambik, 45 di Malawi, dan 4 di Afrika Selatan, menyusul hujan deras yang menyebabkan banjir bandang. Korban luka-luka hingga saat ini terhitung 111 orang, mengutip media Al Jazeera pada Jumat (15/3/2019).

Banjir tersebut telah menerjang 5.756 rumah di Mozambik, menyebabkan 141.325 orang terdampak dari total 15.467 kepala keluarga, dengan 9.763 di antaranya merupakan siswa sekolah. Bencana juga menyebabkan rusaknya fasilitas umum yakni 18 rumah sakit serta 938 ruang kelas sekolah. Sebanyak 168.000 hektar perkebunan juga turut rusak.

Sedangkan di Malawi, terdapat 141.325 orang terdampak banjir, dengan 5.756 orang kehilangan tempat tinggal.

Saat ini, peringatan bahaya telah diterbitkan oleh otoritas Mozambik dan Malawi.

"Pemerintah telah mengeluarkan tanda merah (peringatan) terkait dengan berlanjutnya hujan dan siklon tropis Idai, yang diperkirakan akan menghantam negara dari Kamis hingga Jumat," kata juru bicara kabinet Mozambik Ana Comoana, pascapertemuan kabinet di Maputo yang membahas bencana tersebut.

Sedangkan di Malawi, Departemen Meteorologi telah mengingatkan prakiraan adanya hujan lebat dan banjir di bagian selatan negara antara Kamis hingga Minggu.

Evakuasi

Saat ini pemerintah Mozambik tengah berfokus pada proses evakuasi dan penyediaan fasilitas sementara bagi para korban terdampak.

Evakuasi tanggap darurat telah diterjunkan dengan sigap sesaat setelah terjadinya banjir untuk menyelamatkan korban hidup di zona rawan.

Saat ini, telah terdapat 16 pusat pengungsian yang dibuka di Provinsi Zambezia dan Tate untuk menampung korban dengan rumah tersapu banjir. Adapun untuk menyediakan bantuan kepada korban, pemerintah mengaku membutuhkan dana yang tidak sedikit.

"Pemerintah membutuhkan 1,1 miliar meticais (sekira Rp 229 miliar) untuk membantu 80.000 keluarga yang terdampak," kata Comoana.

Mozambik memang sangat rawan dengan fenomena cuaca ekstrem seperti banjir bandang. Pada 2015 lalu, 100 orang tewas akibat bencana itu, sedangkan pada 2000, korban mencapai 800 orang.

Cuaca ekstrem yang dimaksud sering kali datang bersamaan dengan fenomena siklon tropis Idai, yang terbentuk di Selat Mozambik.

 

Simak pula video pilihan berikut:

2 of 2

Siklon Kategori 3 Telah Terjadi

Ilustrasi badai
Ilustrasi badai (NOAA via AP)

Siklon tropis yang disebut oleh berbagai entitas sebelumnya telah terjadi, yakni berukuran Kategori 3 Siklon per Kamis malam. Kecepatan angin mencapai 224 kilometer per jam disertai dengan hujan lebat, sebagaimana dikabarkan oleh media Afrika Selatan News24.

Sebagai dampaknya, terjadi berbagai kerusakan dan pemadaman listrik.

Siklon Idai yang dimaksud tengah mengumpulkan kekuatan di Samudera Hindia dan diprediksikan akan menghantam Kota Beira di Privinsi Sofala.

Otoritas pembuat prakiraan cuaca Afrika Selatan mengatakan bahwa siklon Idai tengah "dalam perjalanan" menuju Beira, dan diprediksi akan menyebabkan tanah longsor malam ini.

Hal itu senada dengan laporan Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan.

"Siklon Tropis Idai, yang terbentuk di atas Selat Mozambik Utara pada 9 Maret, diperkirakan akan menyebabkan longsor di Beira (Mozambik timur) pada 14 atau 15 Maret," kata pihak PBB.

"Topan itu terjadi di atas Selat Mozambik pada 12 Maret dan diperkirakan akan memperkuat status sikon tropis yang intens (setara dengan Kategori 4) sebelum berdampak pada longsor," pungkasnya.

Kekuatan angin saat ini mencapai 105 knot, dengan curah hujan diprediksi akan berkisar 100-200 mm.

Lanjutkan Membaca ↓