Ilmuwan Temukan Bukti Ledakan Dahsyat dari Matahari, Ini Penjelasannya

Oleh Siti Khotimah pada 13 Mar 2019, 11:01 WIB
Badai Matahari 2012

Liputan6.com, Jakarta - Ilmuwan dunia telah menemukan bukti adanya ledakan besar radiasi dari matahari yang menghantam Bumi. Fenomena itu terjadi lebih dari 2.000 tahun yang lalu, tepatnya 660 Sebelum Masehi (SM).

Bukti ditemukan di inti es Greenland, di mana berdasarkan analisis ilmiah diketahui bahwa partikel proton telah membombardir bumi di sekitar tahun yang telah disebutkan. Tragedi itu adalah ledakan radiasi terbesar yang pernah tercatat oleh alat modern.

Bukti yang ditemukan oleh para ilmuwan adalah berupa isotop radioaktif, yakni beryllium-10 dan chlorine-36. Kedua jenis unsur dipercaya berasal dari angkasa luar.

Raimund Muscheler, seorang profesor departemen geologi dari Lund University, Swedia, yang menjadi bagian dari tim penulis Journal Proceedings of the National Academy of Science (PNAS), membahas ledakan radiasi ini; mengatakan bahwa peristiwa ledakan mengandung partikel matahari berenergi tinggi.

"Itu peristiwa partikel matahari berenergi tinggi, atau peristiwa (menghantamnya) proton matahari. Itu partikel yang berenergi tinggi yang secara langsung mengenai Bumi kemudian menghasilkan partikel yang kita teliti," kata Muscheler, mengutip BBC News pada Rabu (13/3/2019).

Profesor Muscheler juga terlibat dalam penelitian di inti es dan situs "cincin pohon" (tree rings) di Greenland, untuk mengonfirmasi terjadinya dua badai matahari besar lainnya. Para ilmuwan menemukan isotop carbon-14 di situs tersebut, dan memastikan bahwa peristiwa serupa terjadi pada 775 dan 994 M, sebagaimana dikutip dari laman earth.com -sebagian sumber lain hanya menyebutkan satu peristiwa yakni 774-775.

"Peristiwa yang terjadi pada kedua tahun tersebut kira-kira berukuran sama. Ada ketidakpastian, namun terlihat hampir sama," kata Muscheler.

Meskipun badai matahari besar tersebut jarang terjadi, penelitian barunya menunjukkan bahwa peristiwa tersebut merupakan efek berulang dari aktivitas matahari.

"Berkaitan dengan hal ini juga terdapat partikel energi yang lebih rendah yang biasanya datang dalam 1-4 hari ke bumi. Hal itu menghasilkan badai geometrik," lanjutnya.

 

Simak pula video pilihan berikut:

 

2 of 2

Dampak Ledakan Besar Radiasi

Ilustrasi badai Matahari
Ilustrasi badai Matahari (NASA's Goddard Space Flight Center/Genna Duberstein).

Partikel proton yang tercatat di Greenland disebut dengan Solar Proton Event (SPE). Jika SPE tersebut terjadi di era sekarang, maka dapat mematikan alat-alat elektronik di satelit yang kita andalkan untuk layanan komunikasi dan informasi, misalnya GPS.

Radiasi besar dari matahari juga berpotensi membahayakan kesehatan para antariksawan dan pekerja profesional aviasi. Di antaranya adalah astronot, serta pilot dan awak pesawat komersial yang melakukan penerbangan dekat dengan kutub seperti rute transatlantik.

Jenis radiasi yang lain bahkan mampu memicu aurora di atmosfer, yang memiliki dampak buruk yakni mematikan jaringan listrik.

SPE yang terjadi pada 660 SM diperkirakan tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap makhluk hidup saat itu. Efek dari radiasi besar tersebut, yang paling mungkin adalah terjadinya aurora di pada wilayah garis lintang rendah (dekat kutub), akibat adanya badai geomagnetik.

Jika menilik sejarah, 660 SM merujuk pada Zaman Besi di Eropa dan Timur Tengah, sebelum adanya Imperium Romawi yang tercatat baru bermula pada 27 SM. Adapun pemimpin terkenal yang hidup di masa ledakan terbesar itu adalah Kaisar Jimmu, kaisar pertama Jepang.

Saat ini, ilmuwan tengah berfokus meneliti seberapa umum dan sering kejadian ekstrem tersebut. Hal itu akan berguna untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya badai matahari besar di masa yang akan datang.

Lanjutkan Membaca ↓