Presiden Filipina Sebut Para Perempuan yang Mengkritiknya Sebagai Jalang

Oleh Happy Ferdian Syah Utomo pada 12 Mar 2019, 16:26 WIB
Diperbarui 12 Mar 2019, 16:26 WIB
Rodrigo Duterte
Perbesar
Presiden Filipina Rodrigo Duterte memberi tahu puluhan polisi yang berada di hadapannya bahwa mereka akan diawasi. (Ted Aljibe/AFP)

Liputan6.com, Manila - Presiden Filipina Rodrigo Duterte kembali menyampaikan retorika ofensifnya terhadap perempuan, yang kali ini ditambah dengan ejekan "puta", kata dalam bahasa Tagalog untuk menyebut "jalang".

Berbicara di sebuah acara perayaan peranan perempuan dalam penegakan hukum dan keamanan nasiona negara itu, Duterte mengambil kesempatan untuk menyindir perempuan karena mengkritiknya, demikian sebagaimana dikutip dari The Guardian pada Selasa (12/3/2019).

Di hadapan hadirin yang sebagian besar perempuan, Duterte menyebut militer dan polisi wanita sebagai "puta", dan mengatakan: "Anda perempuan gila, merampas kebebasan berekspresi saya."

"Anda mengkritik setiap kalimat atau kata yang saya katakan," klaimnya.

Pidatonya mengikuti komentar memecah-belah pekan lalu, di mana ia memperingatkan perempuan untuk menjauh dari para imam Katolik, yang telah menjadi kritikus paling vokal tentang perang brutalnya terhadap narkoba.

Pidato tersebut menuai kritik luas di Filipina, terutama dari kalangan perempuan.

Namun, dengan gaya khasnya, Duterte justru memperkuat komentarnya, dengan balik menuding bahwa perempuan "menolak imam", dan mengatakan "itu bukan salahku".

Uniknya, dalam konferensi terkait, presiden Filipina itu juga menunjukkan betapa dia mengagumi perempuan.

"Saya suka perempuan," katanya kepada hadiri. "Itu sebabnya Anda tahu saya punya dua istri. Itu berarti saya menyukai perempuan."

Pidato itu disambut dengan tawa ringan, meskipun sebagian besar audiens memilih diam.

 

Simak video pilihan berikut:

2 dari 2 halaman

Bukan Kali Pertama Terjadi

Rodrigo Duterte
Perbesar
Presiden Filipina Rodrigo Duterte. (AFP)

Pidato Duterte yang berlangsung pada Senin 11 Maret itu, merupakan yang terbaru dari serangkaian komentar ofensif yang berkaitan dengan perempuan, di mana telah menarik tuduhan seksisme dan ketimpangan gender.

Tahun lalu, dia dicap sebagai misoginis dan "macho-fasis" setelah memerintahkan tentara untuk menembak pemberontak komunis perempuan di vagina.

Selama kampanye pemilihannya pada 2016, berbicara tentang kerusuhan penjara tahun 1989 di mana seorang misionaris Australia terbunuh, dan para tahanan berbaris untuk memperkosanya, Duterte bercanda bahwa dia berharap memiliki kesempatan untuk ikut melakukannya sendiri.

Juni lalu, saat berada di atas panggung, dia meraih dan mencium bibir seorang pendukung wanita yang sudah menikah.

Namun terlepas dari kritik yang mengarah padanya, menurut sebuah jajak pendapat terbaru oleh Social Weather Stations di Filipina, popularitas Duterte tetap sangat tinggi, dengan peringkat persetujuan sebesar 76 persen.

Lanjutkan Membaca ↓