Beda Pendapat Otoritas AS soal Boeing 737 MAX 8 Laik Terbang Pascatragedi Ethiopian Airlines

Oleh Rizki Akbar Hasan pada 12 Mar 2019, 15:23 WIB
Banner Ethiopian Airlines dan Lion Air

Liputan6.com, Washington DC - Administrasi Penerbangan Federal AS (FAA) mengatakan kepada maskapai penerbangan bahwa Boeing 737 MAX 8 layak terbang, meski dua kecelakaan fatal dalam kurun enam bulan terjadi melibatkan pesawat itu. Akan tetapi, beberapa figur di dalam FAA sendiri meragukan penilaian tersebut.

Sebuah pesawat Ethiopian Airlines ET 302 dalam perjalanan dari Addis Ababa ke Nairobi jatuh setelah lepas landas pada Minggu, 10 Maret 2019, menewaskan sebanyak 157 orang di dalamnya.

Tragedi itu hanya berselang enam bulan usai Lion Air JT 610 jatuh pada Oktober 2018, menewaskan semua 189 orang di dalamnya.

Menteri Transportasi AS, Elaine Chao, mengatakan FAA akan "mengambil tindakan segera dan tepat" jika ditemukan cacat di pesawat.

Ketua FAA Dan Elwell mengatakan pemberitahuan itu "menginformasikan komunitas internasional di mana kita berada dan (memberikan) ... satu jawaban untuk seluruh komunitas".

Dalam sebuah pernyataan, FAA mengatakan Boeing sedang bekerja untuk menyelesaikan "penguatan sistem kontrol pesawat, yang bisa mengurangi ketergantungan dengan prosedur yang ada hubungannya hal yang harus diingat oleh pilot."

Ilustrasi pesawat Boeing 737 Max 8 (AFP/Stephen Brashear)

Reuters dan media lain sudah melaporkan bahwa Boeing sudah berbulan-bulan merencanakan perubahan desain setelah kecelakaan Lion Air di Indonesia. Namun, pernyataan FAA ini merupakan konfirmasi publik pertama.

FAA mengatakan pernyataan terbuka ini bahwa ada kesamaan antara kecelakaan di Ethiopia dan di Indonesia.

"Namun, penyelidikan baru dilakukan, dan sampai sekarang kami belum mendapatkan data untuk bisa membuat kesimpulan atau tindakan," kata pernyataan FAA.

Akan tetapi, Paul Hudson, Presiden FlyersRights.org dan Anggota Komite Penasihat Pembuatan Peraturan Penerbangan FAA, menyerukan agar pesawat itu dikandangkan.

"Sikap 'tunggu dan lihat' dari FAA berisiko atas nyawa dan reputasi keselamatan industri penerbangan AS," kata Hudson dalam sebuah pernyataan, Senin.

Dalam email yang dikirim kepada karyawan yang dilihat oleh Reuters, Direktur Eksekutif Boeing Dennis Muilenburg mengatakan dia yakin dengan keamanan pesawat 737 MAX.

Sejumlah negara, maskapai, dan komunitas aviasi telah mengandangkan pesawat tipe terbaru Boeing tersebut sambil menunggu penyelidikan menyeluruh komplet.

Sejumlah Maskapai dan Negara Kandangkan 737 MAX

Akan tetapi, pada Senin, 11 Maret 2019 malam, Administrasi Penerbangan Federal (FAA) mengeluarkan "pemberitahuan lanjutan" yang mengatakan pesawat itu aman untuk terbang.

China, Indonesia, dan Ethiopia pada hari Senin memerintahkan maskapai mereka untuk mengandangkan 737 MAX 8. Aerolineas dari Argentina, Aeromexico Meksiko, dan Gol Brasil juga menangguhkan penerbangan yang menggunakan pesawat itu.

Sementara itu, Otoritas Penerbangan Sipil Singapura (CAAS) pada hari Selasa mengatakan" menangguhkan operasi semua varian Boeing 737 dari pesawat MAS yang masuk dan keluar dari Singapura. Penangguhan akan berlaku mulai pukul 14.00 waktu setempat (06.00 GMT) per tanggal 12 Maret 2019.

Maskapai lain mempertahankan 737 MAX 8 dalam armada mereka setelah Boeing mengatakan itu aman.

 

Simak video pilihan berikut:

 

2 of 2

Mengenal Ethiopian Airlines, Maskapai Terbesar di Benua Afrika

Pesawat Ethiopian Airlines
Pemeriksaan terhadap awak Pesawat B 7777 F kargo Ethiopian Airlines yang dipaksa mendarat masih terus berlanjut. (Liputan6.com/ M Syukur)

Setelah kejadian nahas yang menimpa Ethiopian Airlines pada hari minggu lalu, kini maskapai terbaik dan terbesar di Afrika ini harus rela mendapatkan image buruk dari kejadian ini.

Boeing 737 MAX 8 yang jatuh tidak jauh dari Addis Ababa ini telah menewaskan 157 orang di dalamnya. Hal ini tentunya sangat tragis dan amat disayangkan karena mengingat rekam jejak yang baik yang dimiliki oleh maskapai ini.

Al Jazeera menyebut Ethiopian Airlines saat ini merupakan maskapai terbesar di benua Afrika. Maskapai miliki pemerintah Ethiopia ini berdiri pada tahun 1945 dan merupakan joint venture bersama perusahaan Amerika Serikat (AS). Baca selengkapnya...

Lanjutkan Membaca ↓