36 Negara Mengutuk Arab Saudi atas Pembunuhan Jamal Khashoggi

Oleh Rizki Akbar Hasan pada 09 Mar 2019, 11:58 WIB
Diperbarui 09 Mar 2019, 11:58 WIB
Jamal Khashoggi, sosok wartawan Arab Saudi yang tewas di konsulat negaranya di Istanbul, Turki, 2 Oktober 2018 (AP)
Perbesar
Jamal Khashoggi, sosok wartawan Arab Saudi yang tewas di konsulat negaranya di Istanbul, Turki, 2 Oktober 2018 (AP)

Liputan6.com, Jenewa - Sebanyak 36 negara mengutuk Arab Saudi atas pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi. Kecaman disuarakan dalam sebuah pertemuan di Dewan HAM PBB di Jenewa pada Kamis 7 Maret 2019.

Sebuah pernyataan yang dibacakan oleh Islandia atas nama sekelompok negara menyatakan "keprihatinan signifikan" tentang pelanggaran yang dilaporkan di Arab Saudi dan menuntut keadilan setelah pembunuhan Khashoggi.

"Investigasi atas pembunuhan itu harus cepat, efektif dan menyeluruh, independen dan tidak memihak, dan transparan. Mereka yang bertanggung jawab harus dimintai pertanggungjawaban," tambah pernyataan yang dibacakan oleh Duta Besar Islandia untuk PBB di Jenewa, Harald Aspelund, dikutip dari NDTV India, Sabtu (9/3/2019).

Ia meminta pihak berwenang Saudi "untuk mengungkapkan semua informasi yang tersedia" tentang penyelidikannya sendiri ketika bekerja sama dengan penyelidikan PBB yang terpisah mengenai kematian Jamal Khashoggi.

Pernyataan itu didukung oleh negara-negara Uni Eropa, Australia, Kanada, dan Selandia Baru.

Organisasi masyarakat sipil, Human Rights Watch (HRW) mengatakan pernyataan itu adalah "aksi kolektif pertama" di Dewan HAM tentang situasi hak asasi manusia di Arab Saudi, yang selama ini dianggap kerapp berhasil menghindari kritik di badan PBB tersebut.

Langkah Penting Menuju Keadilan

Direktur HRW Jenewa John Fisher menyebutnya "langkah penting menuju keadilan" dan mendesak "lebih banyak pengawasan" terhadap negara itu.

Menanggapi pernyataan itu, Duta Besar Arab Saudi untuk PBB di Jenewa mengutuk penggunaan "pernyataan bersama untuk tujuan politik."

"Gangguan dalam urusan dalam negeri dengan kedok membela hak asasi manusia sebenarnya merupakan serangan terhadap kedaulatan kita," kata duta besar Abdulaziz Alwasil.

Khashoggi, seorang kontributor Washington Post dan pengkritik Putra Mahkota Mohammed bin Salman, dibunuh di konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober.

Arab Saudi awalnya mengatakan tidak tahu nasib Jamal Khashoggi, namun kemudian mengubah pengakuannya setelah dunia mendesak Riyadh untuk bersikap transparan.

Sejak itu Negeri Petrodollar menyalahkan "sekelompok agen jahat" atas kematian Khashoggi dan jaksa penuntut umum kerajaan telah mendakwa 11 orang atas pembunuhannya.

Pelapor khusus PBB untuk eksekusi di luar proses hukum dan sewenang-wenang, Agnes Callamard, sedang melakukan penyelidikan atas pembunuhan tersebut.

Tetapi Callamard adalah seorang ahli hak asasi manusia independen yang tidak berbicara untuk PBB. Di sisi lain, komunitas internasional telah menyerukan Sekretaris Jenderal Antonio Guterres untuk mendorong penyelidikan penuh yang didukung PBB.

 

Simak video pilihan berikut:

2 dari 2 halaman

Jasad Jamal Khashoggi Dipanggang dalam Oven?

Anggota asosiasi wartawan Turki-Arab memegang poster dengan foto-foto Jamal Khashoggi, saat mereka mengadakan protes di dekat konsulat Arab Saudi di Istanbul pada Senin, 22 Oktober 2018 (AP/Lefteris Pitarakis)
Perbesar
Anggota asosiasi wartawan Turki-Arab memegang poster dengan foto-foto Jamal Khashoggi, saat mereka mengadakan protes di dekat konsulat Arab Saudi di Istanbul pada Senin, 22 Oktober 2018 (AP/Lefteris Pitarakis)

Sebuah film dokumenter mengklaim telah mengungkap nasib jasad jurnalis Arab Saudi, Jamal Khashoggi yang tewas terbunuh di Konsulat Saudi di Istanbul pada Oktober 2018.

Film itu, yang disusun oleh Al Jazeera Arabic dan tayang Minggu pekan lalu, mengklaim bahwa kemungkinan besar jasad Khashoggi dibakar dalam oven besar di kediaman jenderal Konsulat Saudi di Istanbul, demikian seperti dikutip dari Al Jazeera, Selasa 5 Maret 2019. Baca selengkapnya...

Lanjutkan Membaca ↓