Festival Film Australia Indonesia 2019: Perlawanan atas Superioritas dalam Ladies in Black

Oleh Happy Ferdian Syah Utomo pada 08 Mar 2019, 20:18 WIB
Cuplikan film Ladies in Black dalam Festival Film Australia Indonesia di Jakarta, 8 Maret 2019 (AP/Sony Pictures)

Liputan6.com, Jakarta - Ketika mendefinisikan masyarakat Barat, anggapan umumnya adalah bahwa komunitas ini berisikan orang kulit putih dengan pikiran maju dan terbuka.

Terkesan superior memang, namun persepsi itu berusaha diubah oleh Bruce Beresford dalam film berjudul Ladies in Black.

Berlatar waktu pada 1959 silam, film ini menceritakan tentang suka duka para pramuniaga toko serba ada (toserba) mewah Goode's di Kota Sydney, Australia, di mana secara eksplisit memperlihatkan sisi inferior warga kulit putih di tengah komunitas Barat.

Terdapat terminologi "reffo" yang merujuk pada kelompok pendatang kulit putih dari Eropa setelah Perang Dunia II. Tidak seperti imigran di negara Barat pada umumnya, mereka justru memandang rendah penduduk lokal Australia, meski berkulit serupa.

Ada sebuah dialog unik yang dibahas oleh Magda (Julia Ormond) ketika menanggapi permintaan kolega sesama imigran, Rudi (Ryan Corr), untuk dicarikan jodoh.

"Sulit menemukan yang sebanding dengan kita (reffo) di sini. Semua orang Australia yang berpendidikan telah pergi, dan hanya tersisa para naif. Bisa sakit kepala aku memikirkannya," ujar Magda, yang diamini oleh suaminya, Stefan (Vincent Perez).

Tidak sampai di situ, anomali superior-inferior juga terlihat pada adegan lain ketika para pramuniaga mendeskripsikan Magda sebagai "sosok bermental kolonial", yang memiliki selera terlalu tinggi untuk masyarakat Australia.

"Tapi, dia memiliki uang lebih banyak, apa yang bisa kita lakukan? Banyak reffo yang justru menggaji kita," ujar Fay (Rachey Taylor), menanggapi pergunjingan oleh teman sesama pramuniaga.

Terlepas dari itu semua, film Ladies in Black turut menceritakan bagaimana Australia pasca Perang Dunia II menjadi tujuan para "pecundang Eropa" untuk seakan mengulangi kolonialisasi Barat di Negeri Kanguru.

Para imigran kaya dari Eropa datang ke Australia untuk menyelamatkan uangnya dari kehancuran perang, dan menggunakannua untuk menjalankan bisnis yang berdiri di atas nostalgia penduduk setempat akan "kemegahan tanah leluhurnya".

Goode's adalah salah satu contohnya, di mana kemewahan barang-barang yang dijualnya selalu dijejali dengan janji "estetika Eropa yang eksklusif".

 

Simak video pilihan berikut: 

 

2 of 2

Film Terlaris di Australia pada 2018

Bendera negara Australia - AFP
Bendera negara Australia - AFP

Ladies in Black menerima apresiasi positif dari para kritikus sinema. Di situs agregasi ulasan, Rotten Tomatoes, film ini memiliki peringkat persetujuan sebesar 83 persen berdasarkan 16 resensi, dengan peringkat rata-rata 7/10.

Neil Young dari majalah Hollywood Reporter menyebut film ini, diam-diam tetapi secara efektif menunjukkan sisi positif isu imigrasi dan integrasi yang jarang ditekankan, dan karenanya patut mendapat perhatian jauh di luar Australia.

Kritikus film Australia David Stratton, yang menulis untuk majalah The Australian, menyebut "Ladies in Black dapat dilihat secara keliru sebagai kisah ringan, padahal tidak. Film ini penuh dengan subteks dan nuansa, dan pada saat yang sama, berhasil menjadi hiburan yang benar-benar menyenangkan".

Film ini merupakan akhir dari proyek panjang yang memakan waktu produksi hampir 30 tahun lamanya, yang berawal dari keinginan sutradara --sekaligue penulis skenario-- Bruce Beresford untuk mengangkat novel karya Madeleine St John, Women in Black.

Baru pada 2017, film itu benar-benar direalisasikan dengan produksi utama dilakukan sebagian besar di Sydney, Australia.

Ladies in Black meraih sukses besar saat dirilis pada 2018, di mana berhasil mengantongi pendapatan sebesar US$ 9,2 juta, atau setara 131 miliar. Film itu juga menjadi karya sinema lokal terlaris di tahun yang sama.

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait