Ramuan Keabadian Ditemukan dalam Makam Kuno di China, Mujarab?

Oleh Afra Augesti pada 06 Mar 2019, 00:45 WIB
Diperbarui 06 Mar 2019, 00:45 WIB
Ramuan Ajaib di China
Perbesar
Para arkeolog di provinsi Henan, Cina tengah, mengatakan telah menemukan sebuah pot perunggu yang mereka yakini berisi sampel eliksir legendaris yang dirujuk dalam teks kuno Tiongkok. (Institute of Cultural Relics and Archaeology)

Liputan6.com, Beijing - Para arkeolog di China menemukan sebuah ramuan di sebuah makam kuno berusia sekitar 2.000 tahun.

Larutan eliksir tersebut konon bisa mengubah logam menjadi emas dan dapat memperpanjang kehidupan tanpa batas, setidaknya itu yang diyakini oleh para ahli zaman dahulu. 

Cairan ini disimpan di dalam sebuah pot berbahan perunggu, yang dikubur bersama barang-barang antik lainnya. Makam tersebut merupakan milik keluarga bangsawan Dinasti Han Barat (202 SM-8 M).

Saat digali, di dalam wadah tersebut berisi enam pint --unit cairan yang ukurannya sama dengan setengah liter-- atau setara dengan 3,5 liter cairan yang konon merupakan ramuan ajaib.

"Ini adalah pertama kalinya kami melihat ramuan keabadian, yang kerap disebut mitos di China," kata Shi Jiazhen, kepala Institute of Cultural Relics and Archaeology di Luoyang, tempat situs pemakaman tersebut digali.

"Cairan ini memiliki nilai yang signifikan untuk studi pemikiran kuno orang-orang Tiongkok, tentang mencapai keabadian dan evolusi peradaban," imbuhnya, sebagaimana dikutip dari Daily Mail, Selasa (5/3/2019).

China yang kaya akan obat-obat tradisonal, masih berusaha mencari ramuan ajaib selama ribuan tahun, yang berdasarkan cerita turun-temurun akan memberi mereka kehidupan eksternal.

Awalnya para arkeolog berpikir bahwa enam pint tersebut adalah minuman keras, karena mengeluarkan aroma alkohol.

Sejumlah besar pot tanah liat yang dicat berwarna-warni, batu giok, dan artefak perunggu juga digali dari dalam makam seluas 2.260 persegi (210 meter persegi). Kerangka-kerangka manusia yang termasuk di dalamnya pun telah diawetkan.

Pan Fusheng, seorang arkeolog yang terlibat dalam proyek itu, menambahkan, "Kuburan ini menyimpan banyak barang berharga untuk mempelajari kehidupan bangsawan Han Barat serta ritual pemakaman dan adat istiadat pada masa itu."

Hasil laboratorium mengungkapkan ramuan itu sebagian besar terdiri dari potasium nitrat dan alunite (mineral aluminium kalium sulfat yang terhidrasi) yang tidak beracun, tetapi tetap digunakan dalam pestisida, pupuk dan bahan bakar roket.

Meski demikian, para ahli jarang sekali menemukan studi kasus yang mengungkapkan adanya pejabat tinggi dan kaisar di China yang minum obat mujarab seperti itu.

Kisah yang paling tersohor adalah Kaisar Pertama Tiongkok, Qin Shihuang, yang mengirim ekspedisi untuk menemukan pulau legendaris di mana terdapat cairan berkhasiat untuk hidup abbadi dalam jumlah besar. Shihuang percaya bahwa ramuan itu berbentuk merkuri perak.

Tanpa pikir panjang, sewaktu pasukannya menemukan benda yang dimaksud, sang kaisar pun langsung menenggaknya. Namun nahas, konon ia langsung mati keracunan, seperti banyak tokoh sejarah lainnya.

Sementara itu, pemindaian ruang pemakaman utama kaisar mengungkapkan tingginya tingkat merkuri pada tubuhnya dan makamnya telah dijelaskan dalam teks sejarah sebagai "sungai dan danau merkuri".

 

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

Seperti Apa Mitos Ramuan Keabadian di China?

Ramuan Ajaib di China
Perbesar
Sejumlah besar pot tanah liat yang dicat berwarna-warni, batu giok, dan artefak perunggu juga digali dari makam seluas 2260 persegi, termasuk kerangka manusia. (Institute of Cultural Relics and Archaeology)

Para bangsawan dan kaisar Tiongkok kuno sangat terobsesi untuk menemukan ramuan keabadian. Menurut cerita lokal, ramuan ini digunakan untuk menipu kematian.

Buku sejarah resmi China Twenty-Four Histories mendokumentasikan berbagai individu berpangkat tinggi selama periode Dinasti Han Barat yang berupaya menemukan 'eliksir kehidupan'.

Ramuan yang dimaksud sebetulnya banyak mengandung bahan kimia yang sangat beracun, seperti merkuri dan arsenik.

Praktek berburu tersebut menjadi populer selama periode perang berkepanjangan atau Warring State dan sosok yang paling kencang melakukan pencarian adalah Kaisar Pertama China, Qin Shihuang, yang kemungkinan meninggal karena keracunan merkuri dari hasil perburuannya sendiri.

Dia mengirim pasukan ke negeri antah berantah demi mendapatkan apa yang ia inginkan, yang dia yakini akan membuatnya hidup abadi selamanya. Ia juga pernah mengirim salah satu pejabatnya ke Gunung Penglai yang mistis, atau 'Pulau Penglai yang Abadi' demi menggenggam cairan itu.

Namun pasukan Shihuang ada yang tidak pernah kembali dan ada pula, kemungkinan besar, tidak pernah menemukan ramuan yang dimaksud sang kaisar.

 

Lanjutkan Membaca ↓