Pertama di Dunia, Kantor Berita China Pakai Robot Jadi Pembawa Acara Berita

Oleh Happy Ferdian Syah Utomo pada 04 Mar 2019, 15:01 WIB
Diperbarui 04 Mar 2019, 15:01 WIB
Xin Xiaomeng, robot pembaca berita pertama di dunia, tampil dalam salah satu program televisi Xinhua (Liputan6.com/Xinhua)
Perbesar
Xin Xiaomeng, robot pembaca berita pertama di dunia, tampil dalam salah satu program televisi Xinhua (Liputan6.com/Xinhua)

Liputan6.com, Beijing - Kantor berita pemerintah China, Xinhua, melakukan terobosan dengan menghadirkan robot yang didukung teknologi kecerdasan buatan, untuk membawakan acara berita.

Robot berbentuk layaknya manusia itu meniru ekspresi wajah dan tingkah laku humanis untuk menyampaikan berita kedatangan para delegasi pertemuan tahunan Parlemen China di Beijing, Minggu, 3 Maret 2019.

Dikutip dari The Straits Times pada Senin (4/3/2019), robot tersebut diberi nama Xin Xiaomeng, yang berwujud wanita etnis Han berambut pendek, mengenakan blus merah muda dan anting kecil di kedua telinganya. Penampilannya merupakan yang pertama untuk jenisnya di dunia. 

Xiaomeng tampil selama satu menit dalam siaran berita petang kantor berita Xinhua, dan seketika menjadi bahan pembicaraan di media sosial setempat, Weibo.

Penciptaan Xin Xiaomeng sendiri didasarkan pada wujud asli dari Qu Meng, salah seorang presenter populer di China, dan pengerjaannya dilakukan bekerjasama dengan perusahaan teknologi Sogou Inc.

Sebelumnya, Xinhua sempat memamerkan dua robot pembaca berita yang mengenakan pakaian pria pada November lalu, yakni tepatnya di tengah gelaran World Internet Conference di Kota Wuzhen, China timur.

Saat ini, China sedang berupaya untuk meningkatkan kehebatannya dalam teknologi kecerdasan buatan, mulai dari peralatan pengintai hingga mobil yang bisa berjalan tanpa kemudi.

 

Simak video pilihan berikut: 

 

Paling Optimistis Dibanding Negara Lain

Ilustrasi Bendera China (AFP/STR)
Perbesar
Ilustrasi Bendera China (AFP/STR)

Sementara itu, menurut riset terbaru oleh Dentsu Aegis Network (DAN), diketahui bahwa rakyat China paling optimistis menghadapi pengaruh teknologi digital dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), dibandingkan negara lain.

"Hal ini karena orang-orang di China percaya bahwa sistem pendidikan mereka mampu memberikan ilmu dan perangkat yang mereka butuhkan untuk sukses, terlepas dari apapun yang terjadi di masa depan," ujar chief executive officer Dentsu Aegis Network China, Susana Tsui, sebagaimana dilansir situs Entrepreneur.com.

Laporan dari riset tersebut juga menunjukkan 68 persen masyarakat China merasa optimistis dengan pendidikan formal yang mereka terima.

Angka ini sangat tinggi saat dibandingkan dengan rata-rata optimisme masyarakat global, yakni 41 persen.

Menurut Tsui, pemerintah China cepat tanggap dalam menerima dan bereksperimen dengan teknologi baru di sekolah-sekolah. Tujuannya ialah untuk mengembangkan generasi baru yang terbiasa bekerja berdampingan dengan kecerdasan buatan.

"Kelas AI akan disertakan di sekolah dasar dan menengah, sedangkan buku baru tentang AI tengah dikembangkan oleh ahli, yang nantinya akan mencakup topik seperti teknologi pengenal wajah (facial recognition) dan kemudi otonom (autonomous driving)," ungkap Tsui.

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait