Soal Rohingya, PBB Tegaskan Pengungsi yang Lari dari Konflik Harus Dilindungi

Oleh Liputan6.com pada 04 Mar 2019, 07:31 WIB
Diperbarui 04 Mar 2019, 08:15 WIB
Etnis Muslim Rohingya, yang baru saja melintas perbatasan Myanmar menuju Bangladesh, sedang menunggu giliran menerima bantuan makanan dekat kamp pengungsi Balukhali (AP)

Liputan6.com, New York - PBB menegaskan, pengungsi yang menyelamatkan diri dari konflik harus diberi perlindungan.

Dikutip dari laman VOA Indonesia, Senin (4/3/2019) penegasan ini dikeluarkan setelah Bangladesh menyatakan tidak lagi mau menerima pengungsi Muslim Rohingya dari Myanmar.

Menteri Luar Negeri Bangladesh Shahidul Haque mengemukakan kepada Dewan Keamanan pada Kamis (28/2) lalu bahwa krisis pengungsi di negerinya sudah bertambah buruk dan ia kecewa belum ada seorang pun dari ratusan ribu pengungsi yang berlindung di negerinya pulang ke negara asal mereka.

"Bangladesh amat bermurah hati dalam menolong pengungsi Rohingya. Penting sekali orang yang menyelamatkan diri dari konflik mendapatkan perlindungan ke mana saja mereka pergi," kata juru bicara PBB Stephane Dujarric.

Sesuai kesepakatan yang dicapai dengan Bangladesh, Myanmar setuju menerima kembali sebagian pengungsi itu. Tetapi PBB bersikukuh keselamatan mereka harus menjadi sarat utama bagi kepulangan mereka.

Haque mengatakan kepada sidang Dewan Keamanan tentang Myanmar bahwa Bangladesh tidak lagi dapat menerima pengungsi dari Myanmar, menunjukkan Bangladesh siap menutup perbatasannya bagi pengungsi.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

2 dari 2 halaman

Bangladesh Kewalahan Tampung Pengungsi Rohingya

Banjir dan Tanah Longsor Ancam Ratusan Ribu Pengungsi Rohingya
Pengungsi Rohingya memperbaiki rumahnya di Kamp Pengungsi Kutupalong, Bangladesh, 28 April 2018. Apabila hujan tiba, ada ancaman serius kamp pengungsi yang dibangun secara tidak teratur itu mengalami kebanjiran dan longsoran lumpur. (AP Photo / A.M. Ahad)

Menteri luar negeri Bangladesh, Shahidul Haque mengemukakan di Dewan Keamanan PBB hari Kamis pekan ini negaranya tidak bisa lagi menampung pengungsi dari Myanmar, sekitar 18 bulan setelah lebih dari 700 ribu Muslim Rohingya menyelamatkan diri masuk ke Bangladesh.

Serangan pemberontak Rohingya terhadap pos militer Myanmar di negarabagian Rakhine disusul operasi penumpasan oleh militer Myanmar menyebabkan mereka mengungsi. Amerika Serikat, Inggris dan negara lain menuduh militer Myanmar melakukan pembersihan etnis, tetapi dibantah oleh Myanmar.

Shahidul Haque menuduh Myanmar memberi janji kosong dan bermacam tindakan merintangi dalam perundingan mengenai kepulangan pengungsi Rohingya itu ke negarabagian Rakhine.

Tidak seorang pun dari mereka yang dengan sukarela mau pulang karena tidak adanya suasana kondusif di sana, katanya.

Myanmar mengatakan sudah siap menerima kepulangan Muslim Rohingya itu sejak bulan Januari tetapi PBB mengatakan kondisinya masih belum tepat bagi mereka untuk pulang.

Rohingya itu sendiri mengatakan mereka ingin ada jaminan keamanan dan diakui sebagai warga negara sebelum mereka pulang.

Negara-negara Barat anggota Dewan Keamanan PBB menyesalkan kurangnya tindakan dari pemerintah Myanmar.

Lanjutkan Membaca ↓