Menlu Korea Utara: Kami Mengajukan Proposal Realistis, Tapi AS Minta Lebih

Oleh Happy Ferdian Syah Utomo pada 01 Mar 2019, 13:04 WIB
Menteri Luar Negeri Korea Utara Ri Yong-ho (AFP)

Liputan6.com, Hanoi - Menteri Luar Negeri Korea Utara Ri Yong-ho mengatakan negaranya telah membuat proposal realistis pada pertemuan puncak dengan Amerika Serikat (AS), termasuk membongkar kompleks nuklirnya di Yongbyon sebagai imbalan atas pencabutan sebagian sanksi.

"AS menuntut lebih banyak di luar pembongkaran Yongbyon," kata Menlu Ri pada konferensi pers di Hanoi, Vietnam, Kamis 28 Februari 2019 waktu setempat.

Dia mengatakan jika Amerika Serikat menghapus sebagian sanksi, Korea Utara dapat secara permanen membongkar semua produksi bahan nuklir, termasuk plutonium dan uranium di bawah pengawasan Washington, demikian sebagaimana dikutip dari The Straits Times pada Jumat (1/3/2019).

Ri mengatakan kepada wartawan bahwa Pyongyang sedang mencari bantuan sanksi parsial, bukan pencabutan sanksi sepenuhnya.

Selain itu, Ri juga mengatakan jika kedua negara berhasil melalui beberapa tingkat untuk membangun kepercayaan, Korea Utara akan bersedia meneruskan denuklirisasi.

Selain menawarkan untuk membongkar Yongbyon, Korea Utara menawarkan untuk menghentikan uji coba nuklir secara permanen, ujar Ri pada konferensi pers.

Di lain pihak, Presiden AS Donald Trump mengatakan dua hari pembicaraan di ibu kota Vietnam telah membuat kemajuan yang baik dalam membangun hubungan dan pada masalah utama denuklirisasi, tetapi penting untuk tidak terburu-buru melakukan kesepakatan yang buruk.

Adapun tentang keputusannya untuk pergi lebih dulu meninggalkan KTT Vietnam, Trump beralasan karena tuntutan Korea Utara tidak dapat diterima, jika ingin seluruh sanksi dicabut.

 

Simak video pilihan berikut:

2 of 2

Korea Utara Tidak Siap Memenuhi Tuntutan AS

Kaus Kim Jong Un dan Donald Trump
Seorang pekerja Vietnam bersiap untuk mencetak kaus bergambar wajah Presiden AS Donald Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un di Hanoi, Jumat (22/2). Pembuatan kaus itu menyambut KTT kedua AS-Korea Utara pada 27 Februari mendatang. (Nhac NGUYEN/AFP)

Senada dengan pernyataan Trump, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan bahwa Korea Utara "tidak siap" untuk memenuhi tuntutan Gedung Putih.

"Kami tidak melakukan sesuatu yang masuk akal bagi Amerika Serikat. Saya pikir Ketua Kim berharap bahwa kami akan melakukannya. Kami memintanya untuk melakukan lebih banyak. Dia tidak siap untuk melakukan itu. Tapi saya masih optimis," kata Pompeo, sebagaimana dikutip dari CNN.

Menurutnya, negosiasi akan memakan waktu lebih panjang untuk menemukan kesepakatan yang setara, tidak hanya antara Donald Trump dan Kim Jong-un, namun juga bagi kedua negara.

"Saya pikir, ketika kami terus bekerja pada waktu-waktu mendatang, kami dapat membuat kemajuan, dapat mencapai apa yang dunia inginkan yaitu melakukan denuklirisasi Korea Utara, dan mengurangi risiko bagi rakyat Amerika dan orang-orang lainnya di dunia," ungkap Pompeo.

Sementara itu, setelah mengakui bahwa KTT Vietnam berakhir tanpa kesepakatan karena sanksi, Donald Trump mengatakan ia ingin melihat pembatasan ekonomi dicabut dari Korea Utara di masa depan.

"Saya sangat ingin mencabut sanksi, karena negara itu memiliki begitu banyak potensi untuk tumbuh," kata Trump.

Lanjutkan Membaca ↓