Islandia Izinkan Perburuan 2.130 Paus dalam 5 Tahun Mendatang, Alasannya?

Oleh Liputan6.com pada 26 Feb 2019, 09:31 WIB
Diperbarui 26 Feb 2019, 09:31 WIB
Ilustrasi perburuan paus
Perbesar
Sejumlah pihak masih melakukan perburuan paus dewasa ini, meskipun mendapatkan kecaman dari konservasionis dan aktivis hak-hak hewan (AFP Photo)

Liputan6.com, Reykjavik - Otoritas Islandia akan mengizinkan perburuan paus selama lima tahun mendatang. Perburuan dapat dilakukan hingga 2.130 ekor paus balin.

Kebijakan perburuan paus tersebut diperbarui pekan ini oleh Menteri Perikanan Islandia Kristjan Juliusson.

Juliusson mengumumkan kuota tahunan perburuan adalah sebanyak 209 paus sirip dan 217 paus minke untuk lima tahun ke depan, sebagaimana dikutip dari VOA Indonesia pada Senin (25/2/2019).

Walaupun banyak orang Islandia yang mendukung perburuan ikan paus, cukup banyak pengusaha dan politisi yang menentangnya.

Berpotensi Menurunkan Pariwisata

Para penentang kebijakan perburuan paus bukanlah tanpa alasan. Mereka mengaitkan pembunuhan hewan tersebut dengan ketergantungan negara kepulauan di Atlantik Utara pada sektor pariwisata.

Menurut mereka, perburuan paus akan berdampak buruk bagi bisnis wisata yang telah menjadi andalan perekonomian negata. Hal itu berkaitan dengan reputasi Islandia yang akan buruk di mata publik internasional.

"Kita berisiko merusak sektor pariwisata, industri yang paling penting bagi kita," kata legislator Bjarkey Gunnarsdottir, merujuk pada kritik internasional dan tekanan diplomatik yang dihadapi Islandia karena mengizinkan perburuan paus secara komersial.

 

Simak pula video pilihan berikut:

 

Asosiasi Biro Wisata Turut Bicara

Sadis, Pembantaian Ratusan Paus Pilot Jadi Tradisi di Denmark
Perbesar
Bagian tubuh paus pilot tergeletak di dermaga di Jatnavegur, dekat Vagar, Kepulauan Faroe, Denmark, Rabu (22/8). Hasil buruan dibagi menurut sistem tradisional yang rumit antara pemburu dengan penduduk setempat. (MADS CLAUS RASMUSSEN/RITZAU SCANPIX/AFP)

Sejumlah pemilik biro wisata yang tergabung dalam Asosiasi Industri Perjalanan Islandia (SAF) juga mengecam kebijakan pemerintah Islandia.

Dalam sebuah pernyataan pada Jumat 22 Februari 2019, SAF mengatakan bahwa tindakan pemerintah sangat merugikan kepentingan mereka. Pemerintah telah merusak "kepentingan besar" dan reputasi negara hanya untuk memberi manfaat bagi sektor kecil perburuan paus.

Padahal, menurut mereka hanya sedikit negara yang berkeinginan membeli daging hewan itu. Sedangkan sektor pariwisata menargetkan seluruh negara di dunia.

"Pasar mereka untuk menjual daging paus adalah Jepang, Norwegia dan Republik Palau," kata agen pariwisata itu. "Pasar kami adalah seluruh dunia."

Badan Statistik Islandia mengatakan bahwa pariwisata menyumbang 8,6 persen dari produksi ekonomi Islandia. Pada 2016, untuk pertama kalinya pariwisata menghasilkan pendapatan lebih besar dari industri perikanan Islandia untuk pertama kalinya.

Islandia memiliki empat kapal yang dilengkapi tombak, dimiliki oleh tiga perusahaan pelayaran yang dilaporkan mengalami kerugian atau untung kecil. Menurut Direktorat Perikanan pada tahun lalu, industri ini membunuh lima paus minke dan 145 paus sirip.

Sejak perburuan paus komersial dilanjutkan di Islandia pada 2006, perusahaan perburuan paus tidak pernah menyentuh angka penuh dalam kuota perburuan mereka. Akibatnya, muncul anggapan bahwa tidak mungkin juga kuota 2.130 paus ini akan diburu atau dibunuh berdasarkan kebijakan ini.

Komisi Penangkapan Ikan Paus Internasional atau International Whaling Commission (IWC) memberlakukan larangan perburuan ikan paus komersial pada 1980-an karena berkurangnya stok hewan tersebut.

Sedangkan beberapa waktu lalu, Jepang menyatakan penarikan diri dari IWC karena ketidaksepakatannya dengan kebijakan anti-perburuan paus.

Islandia sendiri saat ini masih berstatus sebagai anggota IWC, meskipun melegalisasi perburuan paus selama lima tahun ke depan.

Lanjutkan Membaca ↓