Remaja Palestina Tewas dalam Bentrokan di Jalur Gaza

Oleh Teddy Tri Setio Berty pada 23 Feb 2019, 13:04 WIB
Diperbarui 23 Feb 2019, 13:16 WIB
Seorang remaja asal Palestina berusia 15 tahun tewas dalam bentrokan di jalur Gaza (AFP)

Liputan6.com, Gaza - Sekitar 8.000 pengunjuk rasa Palestina berkumpul di beberapa titik pagar perbatasan Gaza sambil melempar batu dan membakar ban di hadapan tentara Israel, Jumat 22 Februari 2019.

Dalam aksi protes tersebut, pejabat Hamas menyebut seorang remaja laki-laki berusia 15 tahun tewas dalam aksi unjuk rasa.

Ia meninggal dunia setelah mengalami luka tembak. Korban yang sebelumnya diidentifikasi berusia 12 tahun -- kemudian diralat berusia 15 tahun -- diketahui bernama Yousef al-Dayya.

Dikutip dari laman Timesofisrael.com, Sabtu (23/2/2019) Kementerian Kesehatan Palestina menyebut nyawa Yousef tak bisa diselamatkan setelah luka parah pada bagian dada.

Aksi protes ini telah berlangsung sejak lama. Warga Palestina terus melakukan aksi unjuk rasa mingguan menuntut pemerintahan Israel.

Dua Remaja Lain Turut Tewas

Mereka membakar ban dan melempari batu ke arah tentara Israel. Pada Jumat 8 Februari lalu, dua remaja Palestina juga dilaporkan tewas.

Kementerian Kesehatan Palestina melaporkan Hasan Shelbi yang berusia 14 tahun dan remaja berusia 18 tahun yang tak disebutkan identitasnya tewas setelah ditembak oleh militer Israel (IDF).

Seorang sumber mengatakan, bocah laki-laki berusia 14 tahun itu tewas setelah ditembak pada bagian dada saat aksi protes berlangsung. Ia sendiri merupakan kerabat dari pemimpin Hamas, Ismail Haniyeh.

Ismail Haniyeh adalah pejabat senior Hamas dan menjabat sebagai kepala politik organisasi.

Sekitar 7.000 pengunjuk rasa menghadapi pasukan IDF di beberapa lokasi di seluruh Jalur Gaza kala itu.

Para pemrotes menyerang militer Israel dengan melempar batu dan bahan peledak. Mereka juga kerap memotong pagar besi yang telah dibuat oleh Israel.

Kementerian menambahkan, sebanyak 17 warga Palestina lainnya terluka usai ditembak tentara-tentara Israel di sejumlah lokasi aksi demo di sepanjang perbatasan Gaza.

Militer Israel menolak berkomentar mengenai kematian dua remaja Palestina itu.

"Mereka melemparkan batu-batu ke pasukan Israel dan ke arah pagar keamanan, serta sejumlah bahan peledak yang tidak sampai melewati pagar," ujar juru bicara militer Israel.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

2 dari 2 halaman

Bangun Tembok di Jalur Gaza Palestina

Perjuangan Pemuda Palestina Demi Salat Jumat di Al Aqsa
Pemandangan saat pemuda Palestina menggunakan tangga saat memanjat tembok pembatas Israel dalam perjalanan menuju Masjid Al Aqsa untuk mengikuti salat Jumat terakhir di bulan Ramadhan, Al-Ram, Utara Yerusalem, Jumat (8/6). (AP Photo/Majdi Mohammed)

Tembok sepanjang enam meter di jalur Gaza mulai dibangun oleh Israel, sejak awal tahun ini. Pagar itu dibangun untuk memperkuat daerah perbatasan, sebagaimana disampaikan oleh Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel, Minggu 3 Januari 2019 sebelum rapat kabinet.

Menurut Menteri Pertahanan Israel, Avigdo Lieberman, pembangunan struktur bangunan telah dimulai sejak Kamis, 31 Januari 2019, dan diprediksikan akan selesai pada akhir tahun 2019.

"Sangat masif dan kuat," kata Lieberman dalam sebuah kesempatan, menjelaskan karakteristik tembok perbatasan yang tengah dibangun, dikutip dari Al Jazeera.

Selain tembok, Israel juga tengah mengerjakan proyek besar penghalang bawah tanah sepanjang 65 kilometer. Kedua proyek itu berfungsi sama, yakni mencegah masuknya pejuang Palestina ke dalam teritori negara yang beribu kota di Tel Aviv.

Lanjutkan Membaca ↓