Kabulkan Permintaan PM India, Arab Saudi Lepaskan 850 Tahanan

Oleh Siti Khotimah pada 22 Feb 2019, 09:32 WIB
Diperbarui 22 Feb 2019, 09:32 WIB
Putra Mahkota Arab Saudi di India

Liputan6.com, New Delhi - Arab Saudi akan membebaskan sebanyak 850 tahanan warga negara India dari penjara, sesuai permintaan dari Perdana Menteri India Narendra Modi.

Modi menyampaikan permohonan itu dalam kunjungan Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS) ke New Delhi, beberapa waktu lalu.

Berita pembebasan 850 narapidana India di Arab Saudi, disampaikan langsung oleh Raveesh Kumar, juru bicara Kementerian Luar Negeri India, sebagaimana dikutip dari Al Jazeera pada Kamis (21/2/2019).

"Atas permintaan Perdana Menteri Narendra Modi, Yang Mulia Putra Mahkota Arab Saudi telah memerintahkan pembebasan bagi 850 tahanan India yang ditahan di penjara Saudi," kata Kumar dalam sebuah twit.

Sebagaimana diketahui bahwa penjara Arab Saudi menahan paling banyak narapidana India dibandingkan dengan negara manapun. Pada awal Januari 2019, sebanyak 2.224 orang India mendekam di balik jeruji besi negeri minyak.

Tahanan tersebut dihukum karena berbagai alasan, di antaranya adalah kasus pembunuhan, penculikan, pelanggaran terkait narkoba dan alkohol, serta penyuapan.

 

Simak pula video pilihan berikut:

 

2 dari 2 halaman

Juga Bebaskan 2.100 Tahanan Pakistan

Perdana Menteri Pakistan Imran Khan berbincang bersama dengan Raja Salman dari Kerajaan Arab Saudi (AP/Saudi Press Agency)
Perdana Menteri Pakistan Imran Khan berbincang bersama dengan Raja Salman dari Kerajaan Arab Saudi (AP/Saudi Press Agency)

Sementara itu, Arab Saudi juga telah membebaskan sebanyak 2.100 tahanan asal pakistan pada Senin 18 Februari 2019. Hal itu disampaikan oleh Menteri Informasi Pakistan Fawad Chaudry.

Pembebasan menyusul penandatanganan perjanjian investasi antara Arab Saudi dan Pakistan senilai US$ 20 miliar (sekira Rp 281,27 triliun) pada Minggu 17 Februari 2019.

Sedangkan untuk India, MBS mengatakan sangat berharap terhadap peluang investasi senilai lebih dari US$ 100 miliar (sekira Rp 1.406,8 triliun) selama dua tahun ke depan.

Sikap "baik" pihak Saudi tersebut, khususnya dalam pembebasan narapidana dan pemberian investasi, disinyalir merupakan bagian dari misi perbaikan reputasi. Sebagaimana yang diketahui bahwa sejak Oktober lalu, citra Arab Saudi menjadi buruk akibat kasus pembunuhan jurnalis bernama Jamal Khashoggi.

Adapun sebelumnya, pejabat Saudi telah membantah terkait dugaan bahwa Khashoggi dibunuh oleh MBS. Otoritas negeri minyak juga mengatakan telah menghukum 11 tersangka yang terkait dengan kasus tersebut.

Lanjutkan Membaca ↓