Diprotes, PM Benjamin Netanyahu Mundur dari Jabatan Ganda Sebagai Menlu Israel

Oleh Happy Ferdian Syah Utomo pada 18 Feb 2019, 14:03 WIB
Diperbarui 18 Feb 2019, 14:15 WIB
Peresmian Kedutaan Besar AS di Yerusalem

Liputan6.com, Tel Aviv - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan pengunduran diri sebagai Menteri Luar Negeri setempat, jabatan ganda yang dipegangnya dalam empat tahun terakhir.

Dalam pengumuman resmi pada Minggu 17 Februari 2019, Netanyahu juga menunjuk Menteri Transportasi setempat, Yisrael Katz, sebagai petugas pelaksana terkait, hingga pembentukan pemerintahan baru setelah pemilu April mendatang.

Dikutip dari Al Jazeera pada Senin (18/2/2019), Netanyahu telah dihujani kritik karena mempertahankan jabatan menteri utama untuk dirinya sendiri. Selain itu, kecaman semakin keras mengarah padanya, ketika menambahkan peran menteri pertahanan Israel setelah pemegang jabatan sebelumnya, Avigdor Liberman, mengundurkan diri pada November lalu.

Adapun keputusannya untuk lepas dari jabatan menteri luar negeri, terjadi setelah sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang berbasis di Yerusalem, Movement for Quality Government in Israel, mengajukan petisi kepada Mahkamah Agung setempat atas jumlah portofolio yang dipegang oleh sang perdana menteri, lapor surat kabar Haaretz.

Netanyahu (69) yang secara luas diperkirakan akan terpilih kembali dalam pemilu 9 April nanti, juga dikabarkan memegang portofolio penting di Kementerian Kesehatan setempat.

Namun, saat ini, Netanyahu juga tengah dalam penyelidikan polisi untuk beberapa kasus dugaan korupsi. Fakta tersebut, menurut beberapa pengamat, akan menjegal langkahnya untuk kembali memimpin Israel. 

 

Simak video pilihan berikut: 

 

2 dari 2 halaman

Calon Penerus Netanyahu?

Bendera Israel
Bendera Israel berkibar di dekat Gerbang Jaffa di Kota Tua Yerusalem (20/3). Gerbang Jaffa adalah sebuah portal yang dibuat dari batu yang berada dalam deret tembok bersejarah Kota Lama Yerusalem. (AFP Photo/Thomas Coex)

Sementara itu, Yisrael Katz mengatakan pemindahan tugas pelaksanaan menandai "momen yang menggairahkan", dan bahwa dia akan "terus mempromosikan dan memimpin kebijakan luar negeri Israel ke pencapaian lebih lanjut, bersama dengan perdana menteri".

Pria 63 tahun itu memiliki pandangan sayap kanan tentang konflik Israel-Palestina, dan mengatakan kondisi sekarang tidak memungkinkan untuk solusi dua negara.

Belum lama ini, Katz "ditahbiskan" sebagai petinggi Partai Likud yang berkuasa di Israel.

Oleh para pengamat, jabatan tersebut dinilai mempekuat posisi Katz sebagai wakil tertinggi dan calon penerus Netanyahu.

Juga, beberapa waktu sebelumnya, Katz telah menyatakan akan maju sebagai calon perdana menteri setelah Benjamin Netanyahu mundur.

Lanjutkan Membaca ↓