Donald Trump Desak Sekutu Eropa Ikut Menangani Militan ISIS

Oleh Happy Ferdian Syah Utomo pada 18 Feb 2019, 09:01 WIB
Diperbarui 18 Feb 2019, 09:01 WIB
Presiden Amerka Serikat (AS) Donald Trump siap meluncurkan sanksi paling berat terhadap Iran, Senn, 5 November 2018  (AFP).

Liputan6.com, Washington DC - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyerukan kepada Inggris dan sekutu Eropa lainnya, untuk kembali menginterogasi dan mengadili lebih dari 800 militan ISIS, yang ditangkap dalam pertempuran terakhir melawan kelompok itu.

Seruan tersebut disampaikan Trump via cuitan di Twitter, bersamaan ketika pasukan Kurdi --yang didukung AS-- melanjutkan serangan terhadap kantong pertahanan terakhir ISIS di sisi Suriah dari perbatasan Irak.

Dikutip dari BBC pada Minggu (17/2/2019), para militan ISIS ditahan oleh pasukan bersenjata pimpinan Kurdi.

Donald Trump juga menambahkan bahwa kekuatan ISIS siap untuk dilumpuhkan.

"AS tidak ingin menyaksikan para militan ISIS menyebar ke Eropa. Kami melakukan begitu banyak aksi, serta menghabiskan banyak waktu untuk maju dan melakukan penumpasan yang mereka (negara-negara Eropa) mampu lakukan," twit Trump menyindir ketidakkompakan Eropa terhadap kebijakan AS.

Jika Eropa mengabaikannya, lanjut Trump, dengan terpaksa AS akan membebaskan para militan ISIS.

Pejabat pemerintahan Donald Trump juga mengatakan kepada surat kabar Sunday Telegraph bahwa mereka khawatir beberapa militan yang ditahan akan membahayakan negara-negara Eropa, kecuali mereka dibawa ke pengadilan.

Pernyataan Trump menggemakan peringatan kepala intelijen luar negeri Inggris, Alex Younger, pada hari Jumat bahwa ISIS mereorganisasi untuk serangan lebih lanjut, meskipun mengalami kekalahan militer di Suriah.

Younger juga menyatakan kekhawatirannya tentang militan yang kembali ke Eropa dengan keterampilan dan koneksi "berbahaya".

 

Simak video pilihan berikut: 

 

2 dari 2 halaman

Belum Ada Kabar Kekalahan ISIS

Donald Trump
Donald Trump telah mengancam penutupan sangat lama terhadap pemerintah AS apabila pendanaan untuk pembangunan tembok perbatasan tidak direstui. (AP File)

Kicauan Donald Trump muncul di tengah kontroversi di Inggris tentang kasus Shamima Begum, satu dari tiga siswi yang meninggalkan London pada 2015 untuk bergabung dengan ISIS.

Begum mengatakan ingin kembali untuk melahirkan anak yang tengah dikandungnya, tetapi pemerintah setempat tampak enggan membawanya kembali ke Inggris.

Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Jumat 16 Februari, bahwa kekalahan ISIS akan diumumkan "selama 24 jam ke depan".

Tetapi 24 jam itu berlalu pada hari Sabtu tanpa ada pengumuman lebih lanjut dari Gedung Putih tentang masalah tersebut.

Sebaliknya, para pasukan Kurdi mengatakan berita itu kemungkinan akan muncul "dalam beberapa hari mendatang", ketika warga sipil melanjutkan upaya evakuasi.

Jiya Furat, pemimpin pertempuran kelompok Baghuz yang pro oPasukan Demokrat Suriah (SDF), mengatakan militan ISIS sekarang terjebak di sudut sempit seluas 700 meter persegi.

ISIS sendiri telah menderita kerugian besar, tetapi PBB mengatakan masih ada kendali atas pengikut kelompok militan tersebut, yang berkisar antara 14.000 dan 18.000 orang di Irak dan Suriah.

Lanjutkan Membaca ↓