40 Tahun Revolusi Islam Iran, Donald Trump Jadi Target Kemarahan Pemimpin Setempat

Oleh Happy Ferdian Syah Utomo pada 12 Feb 2019, 11:31 WIB
Peringatan 40 tahun revolusi Islam iran di alun-alun kota Teheran, 11 Februari 2019 (AP Photo)

Liputan6.com, Teheran - Dalam pidato peringatan 40 tahun revolusi Islam, Senin 11 Februari, Presiden Iran Hassan Rouhanni menyebut timpalannya di Amerika Serikat (AS), Donald Trump, sebagai "bodoh" karena berupaya menghancurkan negaranya.

Meski begitu, Rouhani bersikeras bahwa apapun "rencana jahat musuh" terhadap Iran akan gagal, demikian sebagaimana dikutip dari The Guardian pada Selasa (12/2/2019).

Ratusan ribu warga Iran, termasuk tentara, pelajar, ulama, dan wanita berpakaian cadar yang menggedong anak, berkumpul di tengah cuaca dingin yang menyelimuti ibu kota Teheran, untuk menandai peringatan terkait.

Stasiun televisi pemerintah memperlihatkan kerumunan orang membawa bendera Iran seraya meneriakkan "Kematian bagi Israel, Kematian bagi Amerika", yang merupakan jargon utama revolusi negara itu.

Beberapa orang terlihat membakar bendera AS di bawah potret Ayatollah Ruhollah Khomeini, ulama Syiah yang menggulingkan dinasti Shah pada 1979 silam.

"Kehadiran orang-orang hari ini di berbagai jalan di seluruh Iran ... berarti bahwa musuh tidak akan pernah mencapai tujuan jahatnya di sini," kata Hassan Rouhani yang mengajak kerumunan massa di Lapangan Azadi (Kebebasan) Teheran, untuk mengutuk "konspirasi" pimpinan AS.

Rouhani juga menegaskan dalam pidatonya bahwa "tidak perlu dipertanyakan kepatuhan terhadap pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei".

Di saat bersamaan, Donald Trump mengetwit sebuah gambar dengan keterangan dalam bahasa Paris, yang menyebut revolusi telah gagal total di Iran.

"40 tahun korupsi. 40 tahun represi. 40 tahun teror. Rezim di Iran hanya menghasilkan kegagalan #40yearsoffailure. Orang-orang Iran yang telah lama menderita layak mendapatkan masa depan yang lebih cerah," twitnya dalam aksara Parsi, yang dibarengi oleh gambar berisi pernyataan serupa dalam bahasa Inggris.

Twit tersebut langsung dibalas oleh menteri luar negeri Iran, Mohammad Javad Zarif, dalam bahasa Inggris. Isinya kurang lebih menyindir beberapa tindakan sepihak AS, yang dinilainya, berusaha menghancurkan kedaulatan dan perdamaian di Negeri Persia.

 

Simak video pilihan berikut: 

 

2 of 2

Iran Mengklaim Lebih Kuat dari Sebelumnya

Keakraban Erdogan, Putin, Rouhani Saat Bahas Perdamaian Suriah
Presiden Iran Hassan Rouhani berbicara dalam pertemuan dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Presiden Rusia Vladimir Putin terkait perdamaian Suriah di Ankara, Turki, Rabu (4/4). (AFP PHOTO/ADEM ALTAN)

Sebagian besar jalan yang menuju Lapangan Azadi di pusat kota Teheran dipenuhi oleh rombongan orang, yang diiringi oleh lagu dan slogan revolusioner dari pengeras suara.

Replika seukuran kapal pesiar dan rudal balistik buatan Iran dihadirkan sebagai simbol menantang AS, setelah tahun lalu Teheran kembali dijatuhkan sanksi, menyusul penarikan Washington dari kesepakatan program nuklir terkait.

Dalam perayaan tersebut, Rouhani juga mengecam seruan AS dan Eropa tentang perjanjian baru, yang dinilainya mengekang pengembangan program rudal Iran.

"Kami belum, dan tidak akan, meminta izin dari siapa pun untuk meningkatkan kekuatan pertahanan kami, dan untuk membangun semua jenis ... rudal," katanya di hadapan ribuan massa.

Berbicara dari panggung berhias bunga yang menghadap ke alun-alun kota, Rouhani memperingatkan bahwa Iran sekarang jauh lebih kuat daripada ketika berhadapan dengan Irak, dalam perang 1980-1988 yang menghancurkan.

"Hari ini seluruh dunia harus tahu bahwa Republik Islam Iran jauh lebih kuat daripada masa perang," kata Rouhani.

Sementara itu, Yadollah Javani, wakil kepala Pasukan Revolusi Iran untuk urusan politik, mengatakan negara itu akan menghancurkan kota-kota di Israel jika AS menyerang.

"Amerika Serikat tidak memiliki keberanian untuk menembakkan satu peluru pun kepada kami, terlepas dari semua aset defensif dan militernya. Tetapi jika mereka menyerang, kami akan menghancurkan Tel Aviv dan Haifa," kata Javani kepada kantor berita IRNA.

Lanjutkan Membaca ↓