PBB Khawatirkan Kekerasan yang Meningkat di Myanmar

Oleh Liputan6.com pada 12 Feb 2019, 10:01 WIB
Etnis Muslim Rohingya, yang baru saja melintas perbatasan Myanmar menuju Bangladesh, sedang menunggu giliran menerima bantuan makanan dekat kamp pengungsi Balukhali (AP)

Liputan6.com, Rakhine - Badan PBB untuk urusan pengungsi (UNHCR) mengaku tidak bisa menilai skala situasi kemanusiaan saat ini di daerah-daerah yang bergejolak di Negara Bagian Chin dan Rakhine karena tidak punya akses ke daerah-daerah itu dan daerah lain di Myanmar.

Dikutip dari laman VOA Indonesia, Selasa (12/2/2019) tetapi UNHCR mengatakan, laporan yang diterima dari situasi keamanan yang memburuk di kedua negara bagian itu sangat mengkhawatirkan.

Dikatakan, badan itu tidak tahu berapa banyak orang yang telah meninggalkan rumah dan menjadi pengungsi di dalam negeri sendiri sejak kekerasan berkobar Desember lalu.

Selain itu, di negara bagian Rakhine, juru bicara UNHCR Andrej Mahecic mengatakan sejumlah Muslim Rohingya telah melarikan diri ke Bangladesh untuk mencari suaka.

"Yang kami ketahui dari beberapa laporan, sekitar 200 orang mencari perlindungan dan keselamatan. Ini dilaporkan di daerah yang sangat terpencil di mana kami benar-benar tidak memiliki akses," ujarnya.

Sudah lebih dari 720 ribu pengungsi Rohingya melarikan diri ke Bangladesh sejak Agustus 2017 guna menghindari penganiayaan dan kekerasan di Myanmar. Karena krisis pengungsi sebelumnya di Myanmar, Bangladesh saat ini menjadi tempat tinggal bagi hampir satu juta pengungsi Rohingya.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Pusaran Angin Langka Muncul di Jepang

Tutup Video
2 of 2

Faktor Diskriminasi

Banjir dan Tanah Longsor Ancam Ratusan Ribu Pengungsi Rohingya
Pengungsi Rohingya memperbaiki rumahnya di Kamp Pengungsi Kutupalong, Bangladesh, 28 April 2018. Apabila hujan tiba, ada ancaman serius kamp pengungsi yang dibangun secara tidak teratur itu mengalami kebanjiran dan longsoran lumpur. (AP Photo / A.M. Ahad)

UNHCR memuji kemurahan hati negara itu dan memohon pihak berwenang agar terus mengizinkan orang-orang yang melarikan diri dari kekerasan di Myanmar untuk berlindung di Bangladesh.

Mayoritas penduduk Myanmar, dulu dikenal sebagai Birma, beragama Budha. Negara itu memiliki sejarah panjang ketegangan dengan etnis minoritas, sebagian besar atas dasar agama.

Chin adalah satu-satunya negara bagian di Myanmar yang mayoritas penduduknya Kristen. Negara bagian itu juga wilayah termiskin dan paling tidak berkembang di negara itu.

Populasi besar Muslim Rohingya di negara bagian Rakhine terus mengalami diskriminasi dan penindasan dari komunitas Budha yang mayoritas.

Meski telah tinggal selama beberapa generasi, orang-orang Rohingya tidak diakui sebagai warga Myanmar dan tetap tanpa kewarganegaraan.

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait