Tragis, Wanita Rusia Tewas Kehabisan Darah Akibat Digigit Babi

Oleh Siti Khotimah pada 09 Feb 2019, 10:04 WIB
Diperbarui 10 Feb 2019, 18:13 WIB
Babi Hutan atau Celeng

Liputan6.com, Udmurtia - Seorang wanita berusia 56 tahun di wilayah Udmurtia, Rusia bagian tengah, ditemukan tewas akibat serangan babi, sebagaimana dilaporkan oleh BBC News pada Jumat (8/2/2019).

Petani itu dikabarkan pingsan, sesaat sebelum meninggal. Meskipun demikian, ada dugaan lain bahwa epilepsinya kumat saat memberanikan diri untuk memberi makan babi liar.

Sang suami menemukan jasad perempuan yang telah kehilangan darah itu pada 1 Februari 2019, di lahan pertanian mereka yang berada di Distrik Malopurginsky di Udmurtia, sebelah timur kota Kazan, Rusia.

Korban dikatakan menderita gigitan parah yang diduga akibat babi ganas, di bagian wajah, telinga, dan pundaknya.

Menurut media lokal, sang suami tidur lebih awal sehari sebelumnya karena merasa tidak sehat. Keesokan harinya, ia tidak mendapati sang istri di rumah dan berusaha mencari ke ladang. Namun saat ditemukan, pasangannya itu sudah dalam kondisi tidak bernyawa.

Kepolisian setempat kemudian menerjunkan tim khusus untuk melakukan penyelidikan.

Saksikan video berikut:

2 of 2

Warga Hong Kong Kewalahan Atasi Babi Hutan

Iustrasi babi hutan (AP)
Iustrasi babi hutan (AP)

Masih terkait babi, Hong Kong kewalahan menangani hewan tersebut.

Pihak berwenang di pusat keuangan berpenduduk padat, sedang mencari cara untuk meminimalisir perjumpaan antara manusia dan babi hutan, yang dianggap membahayakan karena semakin meningkat di tengah populasi kota.

Menurut lembaga pemerintah, terdapat semakin banyak keluhan yang mereka terima dari masyarakat tentang hewan tersebut baru-baru ini --jumlah keluhan meningkat dari 294 di tahun 2013, menjadi 738 di tahun 2017.

Dikutip dari VOA Indonesia, babi hutan sekarang sering dijumpai di jalan-jalan, di taman-taman dan kawasan perumahan bahkan di pusat-pusat perbelanjaan, dan timbul kekhawatiran hewan itu tidak akan takut lagi bertemu dengan manusia.

Meskipun pemerintah berusaha mengambil tindakan seperti sterilisasi hewan dan pendidikan bagi manusia yang memberi makan hewan itu, namun yang lainnya mengatakan, solusinya adalah upaya penuh untuk memusnahkan babi-babi tersebut secara besar-besaran.

Perdebatan timbul terkait cara untuk menangani babi hutan di kota berpenduduk 7 juta jiwa tersebut, yang kini dipenuhi dekorasi bertema babi guna menyambut libur Tahun Baru Imlek. Babi adalah salah satu dari 12 hewan yang menjadi bagian siklus 12-tahunan shio China.

Departemen Pertanian, Perikanan, dan Konservasi mengatakan, pihaknya tidak tahu secara pasti bagaimana memberantas populasi babi hutan yang ada di Hong Kong.

Badan pemerintah itu berupaya memindahkan babi-babi hutan ke kawasan yang jauh dari pemukiman sebagai tindakan alternatif dari pemusnahan hewan tersebut.

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by