Polusi Udara Tak Kunjung Usai, PM dan Gubernur Thailand Disidang

Oleh Siti Khotimah pada 08 Feb 2019, 11:03 WIB
Diperbarui 09 Feb 2019, 11:14 WIB
Ilustrasi bendera Thailand (AP/Sakchai Lalit)

Liputan6.com, Bangkok - Perdana Menteri Thailand Prayut Chan-o-cha, Gubernur Bangkok Aswin Kwanmuang, serta Dewan Lingkungan Nasional dipanggil untuk memberikan keterangan di Pengadilan Tata Usaha Pusat, Kamis 7 Februari 2019. Pemanggilan itu berkaitan dengan polusi udara PM2.5 yang tidak kunjung berhenti setelah hampir dua bulan.

Sebelumnya, sebuah organisasi bernama Stop Global Warming Association (SGWA) dan 41 warga negara Bangkok mengajukan pengaduan. Mereka menuduh bahwa ketiga pejabat lalai dalam mengatasi krisis asap, dikutip dari The Straits Times, Kamis (7/2/2019).

Tindakan mereka dianggap berbenturan dengan Undang-Undang Lingkungan dan Undang-Undang Kesehatan Masyarakat yang telah diimplementasikan di dalam negeri Thailand.

"Kami akan menyiapkan bukti kelalaian untuk kemudian mendesak pengadilan agar memerintahkan ketiga tersangka untuk menerapkan langkah-langkah penanganan polusi udara," kata Srisuwan Janya, Presiden SGWA.

Tidak hanya tiga pejabat itu, SGWA juga mengatakan bahwa oknum yang membakar perkebunan tebu serta pembeli lahan tebu yang terbakar juga harus menghadapi hukuman.

Sebagian besar masyarakat Bangkok sangat khawatir apabila krisis polusi ini tidak kunjung berakhir, sebagaimana disampaikan oleh Thanawat Polvichai, Direktur Prakiraan Ekonomi dan Bisnis University of Thai Chamber of Commerse, Thailand.

"Kami telah melakukan jajak pendapat selama festival Tahun Baru China, dan kami menemukan bahwa orang-orang khawatir jika PM2.5 akan berkepanjangan," tutur Polvichai.

 

Simak video pilihan berikut:

2 dari 2 halaman

Sudah Banyak Korban

Kabut asap di Thailand mengganggu siswa sekolah (AFP Photo / Romeo Gacad)
Kabut asap di Thailand mengganggu siswa sekolah (AFP Photo / Romeo Gacad)

Hingga saat ini, PM2.5 yang merupakan zat karsiogenik dengan materi partikulat berdiameter 2,5 mikrometer itu, telah menyebabkan banyak korban.

Korban finansial mencapai 10 - 15 miliar baht Thailand (sekira Rp 4,47 - 6,7 triliun) hingga saat ini. Jumlah itu meningkat dari beberapa pekan lalu, dimana menurut Pusat Penelitian Kasikorn, kabut asap telah menelan kerugian hingga 6,6 miliar baht (sekira Rp 2,97 triliun).

Uang itu didasarkan pada jumlah yang harus dikeluarkan masyarakat untuk membayar biaya medis dan masker wajah, serta penurunan pendapatan dari sektor pariwisata.

Di samping itu, PM.2 juga menyebabkan kenaikan jumlah pasien yang menderita penyakit pernapasan di Bangkok. Setidaknya 2,4 juta orang dari 11 juta warga ibu kota telah menderita alergi dan penyakit pernapasan.

Sebetulnya pemerintah juga telah bertindak, yakni dengan menyemai awan hujan, menyapu jalan, serta membatasi jumlah kendaraan. Meskipun demikian, upaya itu tidak kunjung membuahkan hasil.

Lanjutkan Membaca ↓