Gara-Gara Perubahan Iklim, Bumi Jadi Tampak Berwarna Lebih Biru?

Oleh Afra Augesti pada 05 Feb 2019, 21:00 WIB
Diperbarui 05 Feb 2019, 21:00 WIB
Ilustrasi Bumi

Liputan6.com, New York - Beberapa orang mungkin berpendapat bahwa warna perubahan iklim adalah merah, warna yang paling sering menandai peningkatan suhu yang dramatis pada peta iklim.

Tetapi, menurut sebuah studi baru, warna nyata pemanasan global adalah biru. Saat lautan Bumi menghangat, warna airnya akan menjadi lebih biru.

Para ilmuwan membangun model terperinci komunitas fitoplankton di seluruh dunia, agar bisa akurat mensimulasikan dampak perubahan iklim pada rasio spesies ganggang yang berbeda.

Mereka juga mempelajari data yang dihimpun oleh citra satelit, supaya lebih memahami cara yang diterapkan oleh berbagai jenis spesies fitoplankton dalam menyerap dan memantulkan cahaya.

Analisis mereka, yang dirinci minggu ini dalam jurnal Nature Communications, menunjukkan bahwa setengah dari lautan Bumi akan lebih biru pada akhir abad ini.

Perubahan warna tidak akan terlihat jelas bagi manusia, tetapi studi spektral oleh kamera satelit dapat membantu para ilmuwan mengukur perubahan warna tersebut, sebagai proksi untuk pengembangan perubahan iklim.

"Model ini menampilkan perubahan yang tidak tampak besar bila disaksikan dengan mata telanjang, dan lautan akan tetap terlihat seperti memiliki daerah biru di daerah subtropis, dan lebih hijau di dekat khatulistiwa dan kutub," tutur pemimpin penulis studi, Stephanie Dutkiewicz, yang juga merupakan seorang ahli planet di MIT.

"Pola dasar tersebut akan tetap berada di sana, tetapi itu akan cukup berbeda sehingga akan memengaruhi sisa jaring makanan yang didukung fitoplankton," lanjutnya, sebagaimana dikutip dari UPI, Selasa (5/2/2019).

Warna lautan tergantung pada jenis organisme dan molekul yang mengambang di dekat permukaan. Molekul air menyerap sebagian besar spektrum cahaya, hanya memantulkan sinar biru, seperti samudra pada umumnya.

Fitoplankton menghasilkan klorofil, yang menyerap banyak spektrum tetapi memantulkan cahaya hijau. Di tempat-tempat dengan fitoplankton besar, samudra tampak biru kehijauan.

Para ilmuwan sebelumnya telah mencoba mengukur kadar klorofil sebagai proksi efek pemanasan global dan perubahan iklim di lautan. Tetapi klorofil hanyalah salah satu dari banyak variabel yang mempengaruhi warna lautan.

Variabilitas iklim alami juga dapat mengubah kadar klorofil, membatasi nilainya sebagai ukuran dampak perubahan iklim terhadap lautan yang ada di seluruh Bumi.

 

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

Bahaya Mengancam

Ilustrasi Samudra Hindia
Ilustrasi Samudra Hindia (AFP)

Dalam penelitian baru tersebut, para ilmuwan memutuskan untuk mempelajari perubahan penanda spektral lautan menggunakan gambar satelit.

Setelah membangun model lautan ala mereka, yang mensimulasikan bagaimana efek pemanasan global pada suhu Bumi, pengasaman, arus dan perpaduannya, ini semua akan berdampak pada metabolisme dan proliferasi spesies fitoplankton yang berbeda.

Para peneliti menggabungkan analisis spektral mereka untuk mensimulasikan dampak pergeseran dalam komunitas fitoplankton terhadap warna lautan.

Tim menemukan bahwa prediksi model mereka cocok dengan tanda penanda spektral yang diukur oleh satelit.

Menurut prediksi model, pemanasan global akan terus mengubah susunan biokimia lautan di dunia dengan cara mengubah warnanya.

Perubahan 'halus' sudah terjadi, dan pada tahun 2100, perubahan warna akan jauh lebih jelas. Ini disebut sebagai dampak ekologis yang signifikan dari pemanasan global.

"Akan ada perbedaan mencolok dalam 50 persen warna lautan pada akhir Abad ke-21," kata Dutkiewicz.

"Itu bisa berpotensi sangat serius. Berbagai jenis fitoplankton menyerap cahaya secara berbeda. Jika perubahan iklim memindahkan satu komunitas fitoplankton ke komunitas lainnya, maka itu juga akan mengubah jenis rantai makanan yang didukung mereka."

Lanjutkan Membaca ↓