Seperti Meja... Struktur Batu Misterius Ditemukan di Sahara Bagian Barat

Oleh Afra Augesti pada 05 Feb 2019, 18:35 WIB
Diperbarui 05 Feb 2019, 19:16 WIB
Batu Misterius di Sahara

Liputan6.com, El Aaiún, Tifariti - Ratusan struktur batu berusia kisaran ribuan tahun telah ditemukan di Sahara bagian barat, sebuah wilayah di Afrika yang jarang dijelajahi oleh para arkeolog. Demikian seperti dilaporkan oleh Live Science, yang dikutip pada Selasa (5/2/2019).

Struktur-struktur itu muncul dalam berbagai ukuran dan bentuk yang aneh. Meski begitu, para peneliti masih belum negetahui kapan pastinya semua batu tersebut diciptakan, para arkeolog melaporkan dalam buku "The Archaeology of Western Sahara: A Synthesis of Fieldwork, 2002 to 2009" (Oxbow Books, 2018).

Sekitar 75 persen wilayah Sahara bagian barat, termasuk sebagian besar garis pantainya, dikendalikan oleh Maroko. Sementara 25 persennya dikuasai oleh Republik Demokratik Arab Sahrawi. Sebelum 1991, kedua pemerintah berada dalam keadaan perang.

Antara tahun 2002 dan 2009, para arkeolog melakukan survei lanskap dan penggalian di Sahara bagian barat, yang dikendalikan oleh Republik Demokratik Arab Sahrawi. Mereka juga menyelidiki gambar yang ditangkap oleh satelit di Google Earth.

"Karena sejarah konfliknya, penelitian arkeologis dan palaeoenvironmental di Sahara bagian barat sangat terbatas," tulis Joanne Clarke, seorang dosen senior di University of East Anglia, dan Nick Brooks, seorang peneliti independen.

"Peta arkeologis Sahara bagian barat tetap secara harfiah dan kiasan hampir kosong, karena jauh dari pantai Atlantik," tulis Clarke dan Brooks, mencatat bahwa orang yang tinggal di daerah itu mengetahui struktur batu-batu misterius terkait. Beberapa pekerjaan telah dilakukan oleh para peneliti Spanyol tentang seni cadas di Sahara bagian barat.

 

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 of 3

Struktur Misterius

Batu Misterius di Sahara
Struktur bebatuan di Sahara bagian barat ditemukan dalam berbagai bentuk dan ukuran, termasuk yang melengkung ke cakrawala. (Kredit: Hak Cipta Nick Brooks dan Joanne Clarke)

Struktur batu dirancang dalam berbagai bentuk. Ada yang terlihat seperti Bulan sabit, lingkaran, garis lurus, persegi panjang yang tampak seperti platform.

Beberapa struktur terdiri dari bebatuan yang telah ditumpuk, beberapa struktur lainnya menggunakan kombinasi desain ini.

Sebagai contoh, satu struktur memiliki campuran garis lurus, batu, platform dan tumpukan batu yang membentuk 'gerombolan' sepanjang 630 meter.

Meskipun para arkeolog belum mengetahui manfaat dari masing-masing struktur tersebut, namun mereka mengatakan bahwa beberapa batu mungkin dipakai sebagai penanda kuburan.

Penggalian kecil telah dilakukan pada struktur-struktur itu, dan arkeolog telah menemukan beberapa artefak yang dapat diberi tanggal menggunakan metode radiokarbon.

Di antara beberapa situs yang digali adalah dua "tumuli" (tumpukan batu) yang berisi makam manusia sejak sekitar 1.500 tahun.

Riset itu menunjukkan bahwa Sahara bagian barat pernah menjadi tempat yang dapat menopang lebih banyak kehidupan hewan daripada sekarang.

Para arkeolog pun mendokumentasikan seni cadas yang memperlihatkan gambar sapi, jerapah, oryx, dan domba Barbary.

Sementara itu, para peneliti lingkungan menemukan bukti lain, bahwa di sana pernah ada danau dan sumber air. Keduannya lalu mengering pada ribuan tahun yang lalu.

3 of 3

Masalah Keamanan

Perjuangan Peserta Marathon des Sables di Tengah Gurun Sahara
Peserta melintasi bukit pasir saat mengikuti kompetisi Marathon des Sables ke-33 di gurun Sahara, Maroko (14/4). Sekitar 1.000 peserta dari 50 negara ikut berkompetisi dalam Marathon des Sables ini. (AP Photo / Mosa'ab Elshamy)

Saat ini, masalah keamanan yang berlaku di wilayah tersebut membuat penelitian Clarke dan Brooks terpaksa dihentikan.

Hal tersebut disebabkan oleh adanya aktivitas dari kelompok teroris "Al-Qaeda di Islam Maghreb" atau AQIM di daerah gurun dekat Sahara bagian barat.

Pada 2013, komplotan tersebut menculik dua peneliti Spanyol dan menyeretnya ke sebuah kamp pengungsi di Tindouf, Aljazair, tepat di seberang perbatasan dari Sahara bagian barat.

Di satu sisi, meski orang-orang Sahrawi dan Republik Demokratik Arab Sahrawi sangat menentang kelompok teroris itu, namun sangat sulit bagi pihak berwenang untuk secara efektif berpatroli di daerah padang pasir yang luas, di mana struktur batu berada, menurut Clarke dan Brooks.

Ini berarti, para arkeolog tidak dapat bekerja di sana dengan aman untuk sekarang, sebab risiko keamanan yang ditimbulkan oleh kelompok-kelompok teroris dan ekstremis di wilayah itu menunjukkan bahwa para arkeolog tidak bisa berkegiatan di sebagian besar Afrika Utara.

Lanjutkan Membaca ↓