Angelina Jolie Menengok Pengungsi Rohingya di Bangladesh

Oleh Rizki Akbar Hasan pada 05 Feb 2019, 17:03 WIB
Angelina Jolie

Liputan6.com, Cox's Bazar - Aktris Hollywood, Angelina Jolie melawat ke kamp pengungsi Rohingya di Bangladesh pada Selasa 5 Januari 2019.

Bertindak sebagai utusan khusus badan PBB untuk urusan pengungsi (UNHCR), Jolie bertemu dengan anak-anak dan perempuan Rohingya. Ia mendengarkan kesaksian mereka yang menjadi korban kekerasan saat melarikan diri dari Rakhine, Myanmar ketika krisis bersenjata pecah di negara bagian itu pada 2017 lalu.

Dalam kunjungan yang dijadwalkan berlangsung selama lima hari, Jolie juga menilai kebutuhan kemanusiaan para pengungsi Rohingya dan beberapa tantangan yang lebih kritis yang dihadapi Bangladesh sebagai tuan rumah para pengungsi.

Di kamp Hoikyang Chakmarkul di Teknaf, Jolie berbicara dengan perwakilan dari sekitar 750.000 orang Rohingya, yang melarikan diri dari Rakhine selama penumpasan militer brutal pada akhir Agustus 2017.

Jolie pertama kali bertemu seorang gadis 10 tahun bernama Haresha dan ingin tahu tentang penderitaannya di Myanmar. Dia juga menanyakan tentang kesejahteraan Haresha dan situasinya di Bangladesh, demikian seperti dikutip dari The Daily Star, Selasa (5/2/2019).

Bintang film itu kemudian pindah ke rumah-285 di Blok-G kamp tempat dia berbicara dengan beberapa perempuan Rohingya yang menghadapi kekerasan seksual di Myanmar. Dia ingin tahu tentang kehidupan mereka di Bangladesh dan bahan bantuan yang mereka terima.

Jolie berbicara dengan beberapa orang Rohingya lainnya dan mendengarkan pengalaman mereka tentang penyiksaan, kekerasan, pembunuhan dan serangan pembakaran di Negara Bagian Rakhine, Myanmar. Dia menerima saran mereka tentang tindakan apa yang harus diambil untuk repatriasi Rohingya yang aman ke tanah air mereka di Bangladesh.

Dia juga bertukar pandangan dengan sukarelawan dari Brac sebelum berangkat ke sebuah hotel di Cox's Bazar.

Utusan UNHCR itu juga dijadwalkan untuk mengunjungi kamp-kamp pengungsi lain di Ukhia dan berpidato pada konferensi pers hari ini.

Angelina Jolie akan mengakhiri kunjungannya dengan bertemu Perdana Menteri Sheikh Hasina, Menteri Luar Negeri AK Abdul Momen dan pejabat senior di Dhaka besok pada 6 Februari 2019, kata pernyataan dari UNHCR kemarin.

Pertemuan tersebut akan berfokus pada bagaimana badan pengungsi PBB dapat mendukung upaya terbaik pemerintah Bangladesh untuk para pengungsi Rohingya.

Kunjungan Jolie datang tepat sebelum peluncuran permohonan baru untuk situasi kemanusiaan di Bangladesh --Rencana Respons Bersama 2019-- yang berupaya mengumpulkan sekitar US$ 920 juta untuk terus memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi Rohingya dan masyarakat yang dengan murah hati menampung mereka, lanjut pernyataan dari UNHCR.

Ini adalah kunjungan perdana Angelina Jolie ke Bangladesh. Namun, ia telah beberapa kali bertemu dengan para etnis Rohingya dalam kunjungan ke Myanmar pada Juli 2015 dan ke India pada 2006.

 

Simak video pilihan berikut:

 

2 of 2

DPR AS Tuduh Militer Myanmar Lakukan Genosida pada Rohingya..

Etnis Muslim Rohingya, yang baru saja melintas perbatasan Myanmar menuju Bangladesh, sedang menunggu giliran menerima bantuan makanan dekat kamp pengungsi Balukhali (AP)
Etnis Muslim Rohingya, yang baru saja melintas perbatasan Myanmar menuju Bangladesh, sedang menunggu giliran menerima bantuan makanan dekat kamp pengungsi Balukhali (AP)

Dewan Perwakilan AS menyetujui resolusi dengan perbandingan suara 394-1 Kamis 13 Desember 2018, untuk menyatakan aksi militer Myanmar terhadap minoritas Muslim Rohingya di negara itu sebagai tindakan genosida.

Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang dirilis bulan Agustus mengatakan militer melakukan pembunuhan massal dan pemerkosaan dengan "niat genosida" dan juga secara definitif menyerukan supaya para pejabat Myanmar dikenai tuduhan genosida untuk pertama kalinya.

Dikutip dari laman VOA Indonesia, militer Myanmar membantah tuduhan genosida Rohingya sebelumnya, dan menegaskan bahwa tindakan mereka adalah bagian dari kampanye anti-teroris.

Kekejaman tersebut telah mendorong PBB dan sejumlah pemimpin politik dan hak asasi manusia untuk mempertanyakan kemajuan Myanmar menuju demokrasi.

Satuan Tugas Burma, sebuah koalisi organisasi Muslim AS dan Kanada, memuji sikap PBB tersebut.

Lanjutkan Membaca ↓