Polisi Filipina: Otak Teror Bom Jolo Adalah Hatib Hajan Sawadjaan, Bos Abu Sayyaf

Oleh Rizki Akbar Hasan pada 05 Feb 2019, 11:40 WIB
Ilustrasi bendera Filipina (AFP/Noel Cells)

Liputan6.com, Manila - Polisi Filipina (PNP) telah merilis nama yang diduga kuat dalang utama di balik teror bom ganda katedral di Jolo, Provinsi Sulu, Filipina Selatan, pada 27 Januari 2019.

Hatib Hajan Sawadjaan, pemimpin Kelompok Abu Sayyaf (ASG), telah disebut sebagai "dalang" dan "penyedia dana" pengeboman di Katedral Our Lady of Mount Carmel--menewaskan 23 orang dan melukai lebih dari 100 lainnya--kata PNP.

"Dia yang mendanai ini," kata Direktur Jenderal PNP Oscar Albayalde pada Senin, 3 Februari 2019, seperti dikutip dari Rappler Philippines, Selasa (5/2/2019).

Akan tetapi, Albayalde menambahkan bahwa Sawadjaan dan belasan tersangka lain masih buron.

"Empat belas lebih tersangka masih bebas, termasuk dalangnya, (Hatib Hajan) Sawadjaan. Sementara tiga lainnya, termasuk dua pengebom bunuh diri dari Asia telah terbunuh," lanjutnya.

Albayalde membuat pernyataan itu sesaat setelah mengumumkan penyerahan diri Alias Kamah dan empat tersangka lain kepada aparat. Mereka diduga kuat memiliki keterkaitan dengan teror bom Jolo.

Aparat meyakini bahwa Alias Kamah dan empat tersangka yang menyerah, memiliki koneksi dengan Sawadjaan.

Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri Filipina Eduardo Ano telah menuding Alias Kamah berperan "mengawasi" dua orang yang diduga menjadi bomber bunuh diri di Katedral Our Lady of Mount Carmel saat hari kejadian.

Ano juga menuding bahwa dua bomber itu "adalah orang Indonesia". Tapi, berbagai pejabat tinggi pemerintahan Indonesia menegaskan, masih terlalu dini untuk mencapai kesimpulan yang sama dengan Menteri Ano.

Senada, otoritas penegak hukum Filipina untuk sementara masih melabeli kedua pengebom itu dengan identifikasi "dua orang pasangan dari Asia" tanpa mereferensi kewarganegaraan mereka.

Selain itu, muncul juga berbagai laporan yang bertentangan terkait jenis pengeboman di Jolo. Beberapa aparat Filipina meyakini bahwa jenis pengeboman tidak sepenuhnya "bom bunuh diri" dan pelaku kemungkinan turut menggunakan "bom improvisasi yang diledakkan dari jauh".

*Selanjutnya di halaman kedua: Sawadjaan Terlibat dalam Perencanaan

 

Simak video pilihan berikut:

2 of 2

Sawadjaan Terlibat dalam Perencanaan

Dua Bom Meledak di Gereja Filipina Selatan saat Misa Minggu
Polisi mengevakuasi kantong jenazah pasca ledakan bom di Gereja Katolik Jolo, Filipina Selatan, Minggu (27/1). Dua bom meledak, Sedikitnya 27 orang tewas dan 57 orang lainnya mengalami luka. (Nickee Butlangan/AFP)

Menurut garis waktu yang diriwayatkan oleh Direktur Jenderal PNP Oscar Albayalde, Hatib Hajan Sawadjaan mendanai pembuatan alat peledak improvisasi (IED) dan merencanakan dengan "dua orang pasangan dari Asia" di Kota Patikul, Provinsi Sulu--beberapa hari sebelum mereka pergi ke Jolo untuk melancarkan aksinya.

Kota Patikul, pada Sabtu, 2 Februari 2019 lalu, telah diserbu oleh tentara Filipina, dalam sebuah operasi yang ditujukan untuk membongkar sarang sel teroris yang berkaitan dengan pengeboman Jolo. Dikatakan bahwa tentara baku tembak dengan "100 militan" di Barangay Kabbon Takas, Patikul.

Pada saat baku tembak itu, PNP menduga Sawadjaan dan belasan pelaku lainnya berhasil melarikan diri.

Ditanya bagaimana Sawadjaan mendanai pembuatan bom, Albayalde mengatakan, "Ia kemungkinan besar menggunakan uang tunai hasil dari aksi pemerasan yang dilakukan oleh sel Abu Sayyaf, uang tebusan penculikan, dan bahkan mungkin kegiatan obat-obatan terlarang."

Abu Sayyaf dan berbagai kelompok ekstremis lokal yang terafiliasi telah dikenal sejak lama melakukan penculikan terhadap warga lokal atau asing untuk dimintai tebusan. Belasan warga Indonesia diketahui telah menjadi korban.

Sawadjaan diketahui termasuk di antara para pemimpin Abu Sayyaf yang dilaporkan terluka selama pertemuan dengan pasukan pemerintah di Sulu pada September 2018.

Lanjutkan Membaca ↓