Israel Kembali Bangun Tembok di Jalur Gaza Palestina

Oleh Siti Khotimah pada 04 Feb 2019, 16:00 WIB
Diperbarui 09 Feb 2019, 16:01 WIB
Ilustrasi Bendera Israel dan Yerusalem (AFP)

Liputan6.com, Tel Aviv - Tembok sepanjang enam meter di jalur Gaza mulai dibangun oleh Israel, sejak akhir pekan lalu. Pagar itu dibangun untuk memperkuat daerah perbatasan, sebagaimana disampaikan oleh Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel, Minggu 3 Januari 2019 sebelum rapat kabinet.

Menurut Menteri Pertahanan Israel, Avigdo Lieberman, pembangunan struktur bangunan telah dimulai sejak Kamis, 31 Januari 2019, dan diprediksikan akan selesai pada akhir tahun 2019.

"Sangat masif dan kuat," kata Lieberman dalam sebuah kesempatan, menjelaskan karakteristik tembok perbatasan yang tengah dibangun, dikutip dari Al Jazeera, Senin (4/2/2019).

Selain tembok, Israel juga tengah mengerjakan proyek besar penghalang bawah tanah sepanjang 65 kilometer. Kedua proyek itu berfungsi sama, yakni mencegah masuknya pejuang Palestina ke dalam teritori negara yang beribu kota di Tel Aviv.

 

Saksikan video pilihan berikut:

2 dari 2 halaman

Kasus Infiltrasi Warga Palestina

Terowongan Palestina-Israel
Sebuah gambar yang diambil dengan lensa fisheye menunjukkan sebuah terowongan dari Gaza ke Israel dekat Kibbutz selatan Kissufim, Israel, (18/1). (JACK GUEZ /POOL/AFP)

Pembangunan pembatas seolah berhubungan dengan infiltrasi beberapa pejuang Palestina beberapa waktu lalu, yang ditahan oleh otoritas Israel.

Media lokal palestina, Ma'an, mengabarkan bahwa setidaknya lima orang pejuang Palestina telah ditahan saat melintas di perbatasan Gaza, pada Minggu pagi 3 Februari 2019.

Petugas Israel kemudian membawa lima pejuang yang tidak diketahui identitasnya, ke sebuah tempat untuk ditahan, karena dianggap membahayakan keamanan negara.

Sebelumnya, dua orang warga negara Palestina juga ditahan dengan alasan yang sama pada Jumat, 25 Januari 2019 lalu. Sebelum ditahan, mereka sempat menjalani proses interogasi.

Menurut sebuah informasi dari the Palestinian Prisoners Center for Studies, sebanyak 380 warga Palestina, termasuk 5 perempuan dan 67 anak-anak telah ditahan oleh otoritas Israel dalam Januari 2019, sebagaimana dikutip dari International Middle East Media Center.

Dari jumlah tersebut, 12 warga negara Palestina, termasuk lima nelayan, dibunuh ketika berada di Pantai Gaza. Salah satu dari mereka ditangkap ketika hendak melintas di kota Beit Hanoun, sebelah timur laut perbatasan Gaza.

Penahanan semacam itu memang sudah sering terjadi, setidaknya sejak Israel memblokade Palestina secara militer, 12 tahun silam.

Lanjutkan Membaca ↓