Apa Penyebab Munculnya Rasa Ngilu di Hati Saat Putus Cinta?

Oleh Afra Augesti pada 04 Feb 2019, 15:00 WIB
Diperbarui 25 Sep 2019, 16:35 WIB
Depresi

Liputan6.com, Jakarta - Bagi sebagian besar orang, patah hati adalah pengalaman pribadi yang dianggap paling 'berkesan' selama hidup mereka. Meski citranya kerap dikaitkan dengan hal yang negatif dan rasa kesal.

Umumnya, mereka akan merasakan patah hati ketika mereka kehilangan seseorang atau sesuatu yang sangat dicintai atau didambakan, seperti hubungan romantis atau persahabatan, anggota keluarga, hewan peliharaan, pekerjaan atau peluang yang sangat penting.

Patah hati dapat menyebabkan munculnya stres, terutama jika kehilangan yang dialami mereka berlangsung secara tiba-tiba. Lalu, muncul rasa ngilu di di hati, yang dirasa menyakitkan dan tak dapat dijabarkan dengan kata-kata.

Stres ini dapat memengaruhi perasaan manusia secara emosional dan fisik, dan mungkin butuh berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun untuk pulih.

Lantas, apa yang membuat hati merasa seperti tersayat-sayat ketika seseorang mengalami putus cinta? Berikut penjelasan ilmiahnya, seperti dikutip dari situs health.qld.gov.au, Senin (4/2/2019).

 

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 of 4

1. Mengapa Rasanya Begitu Menyakitkan?

Putus Cinta atau Putus Hubungan
Ilustrasi Foto Putus Cinta (iStockphoto)

Studi menunjukkan bahwa otak manusia merekam rasa sakit emosional dari patah hati dengan cara yang sama seperti rasa sakit fisik. Itulah sebabnya seseorang mungkin merasa bahwa patah hati dapat menyebabkan munculnya luka fisik yang sesungguhnya.

Istilah umum yang digunakan oleh seseorang untuk menggambarkan patah hati antara lain "Saya merasa hati saya hancur", "Itu memilukan", "Seperti tamparan di wajah", semua ini mengisyaratkan bagaimana kita menghubungkan rasa sakit fisik dengan rasa sakit emosional.

Hormon-hormon patah hati

Hormon berlebih bukan hanya dihasilkan dalam tubuh remaja yang sedang beranjak dewasa. Tubuh seluruh manusia di muka Bumi ini menghasilkan deretan hormon setiap hari untuk tujuan yang berbeda, termasuk jatuh cinta.

Cinta, konon, dapat menimbulkan kecanduan, seperti obat, karena hormon-hormon yang ada di otak dilepaskan begitu saja ketika manusia terpikat pada seseorang atau sesuatu.

"Dopamin dan oksitosin, khususnya, adalah hormon yang membuat kita merasa baik dan ingin mengulangi perilaku, dan dilepaskan pada tingkat tinggi ketika kita sedang jatuh cinta," tulis studi tersebut.

Kemudian, ketika patah hati terjadi, kadar hormon ini turun dan diganti dengan hormon stres kortisol.

Namun, terlalu banyak kortisol selama periode tertentu dapat berkontribusi pada timbulnya kecemasan, mual, jerawat, dan kenaikan berat badan hingga semua gejala mental dan fisik yang tidak menyenangkan yang terkait dengan patah hati.

3 of 4

2. Hati yang Hancur Secara Medis

Putus Cinta atau Putus Hubungan
Ilustrasi Foto Putus Cinta (iStockphoto)

Pernah Anda bertanya-tanya, apakah patah hati yang benar-benar emosional dapat secara fisik menghancurkan hati Anda?

Takotsubo Cardiomyopathy adalah nama medis untuk suatu sindrom yang dapat disebabkan oleh patah hati, atau lebih tepatnya, tekanan dari situasi yang memilukan.

Stres akut, positif atau negatif, dapat menyebabkan ventrikel kiri jantung lumpuh, menyebabkan gejala seperti serangan jantung termasuk nyeri dada, lengan atau bahu, sesak napas, pusing, kehilangan kesadaran, mual dan muntah.

Berita baiknya: kondisi ini biasanya tidak menyebabkan kerusakan permanen seperti serangan jantung, dan seringkali sembuh dengan sendirinya.

Berita buruknya: patah hati bisa membuat stres dan 'sakit', lantaran sebagian besar orang sering berpikir bahwa mereka mengalami serangan jantung yang sebenarnya.

4 of 4

3. Cara Mengobati Sakit Hati

Putus Cinta
ilustrasi/copyright pexels.com/Austin Guevara

Ada beberapa metode penyembuhan terhadap patah hati yang dapat dicoba secara ilmiah.

Ketika Anda patah hati, Anda akan cenderung untuk untuk menarik diri dari kehidupan rutin Anda dan berhenti melakukan hal-hal yang Anda sukai. Anda menjadi pribadi yang tertutup dan murung.

Tetapi, ketika Anda berada dalam kondisi seperti ini, cobalah untuk keluar rumah dan berkeliling, menghabiskan waktu dengan orang-orang teman-teman terdekat tanpa harus membahas masa lalu, konsumsi makanan enak dan berolahraga.

Itu semua dapat membantu meningkatkan suasana hati Anda dan mengalihkan perhatian Anda dari rasa kesal.

Ingatlah bahwa pepatah lama mengatakan: "Anda akan sembuh bersama sang waktu". Seiring bergulirnya hari, ketika stres mereda dan Anda mulai tenang dan pulih, maka sistem tubuh Anda akan secara bertahap kembali normal.

Lanjutkan Membaca ↓