Peringatan Konten!!

Artikel ini tidak disarankan untuk Anda yang masih berusia di bawah

18 Tahun

Verifikasi UmurStop di Sini

Kisah Eks Korban Budak Seks Jepang, Melawan Hingga Ajal Menjemput

Oleh Afra Augesti pada 03 Feb 2019, 21:00 WIB
Diperbarui 03 Feb 2019, 21:00 WIB
Bukti Perdana Video 'Budak Seks' Jepang di Korea Ditemukan
Perbesar
Bukti Perdana Video 'Budak Seks' Jepang di Korea Ditemukan (US NATIONAL ARCHIVES)

Liputan6.com, Seoul - Ratusan orang tampak memenuhi jalanan di Seoul, Korea Selatan, pada Jumat 1 Februari 2019, berjalan mengiringi sebuah peti jenazah menuju ke Kedutaan Besar Jepang.

Hati mereka diselimuti rasa duka medalam dan amarah, sebab di dalam peti mati itu terbaring jasad Kim Bok-dong, seorang wanita Negeri Gingseng yang dianggap sebagai pahlawan. Dia menjadi korban budak seks pemerintah Negeri Sakura sebelum dan selama era Perang Dunia II. Kala itu, usianya masih 14 tahun.

Peti jenazahnya didorong perlahan-lahan, melalui ibu kota dalam cuaca yang dingin, di bawah suhu nol derajat Celcius.

Banyak simpatisan yang membawa serta spanduk bertuliskan "Pahlawan kita Kim Bok-dong" (Our hero Kim Bok-dong) dan menyerukan kalimat sumpah serapah yang berbunyi anti-Jepang.

Pada hari itu, sebuah upacara penghormatan terakhir digelar untuk Kim, di jalan yang berada di samping patung perunggu gadis Korea yang duduk menghadap ke arah depan Kedubes Jepang di Seoul.

Patung tersebut merupakan sebuah simbol yang mewakili 200.000 wanita dari Korea Selatan dan negara-negara Asia lainnya yang dipaksa menjadi pekerja seks komersial di rumah-umah bordil Jepang selama masa perang.

Pada usia 14 tahun, Kim Bok-dong mengaku ditipu oleh Jepang. Dia mulanya diiming-imingi menjadi pekerja sipil, namun dia justru dijadikan budak seks oleh tentara Jepang pada era Perang Dunia II. (Foto: AFP)

Kim Bok-dong, oleh sebagian besar wanita warga negara Korea Selatan, dianggap sebagai pemimpin terkasih dari gerakan protes "wanita penghibur".

Para pendukung Kim mengatakan, sebelum ajal menjemputnya, Kim meniggalkan kata-kata terakhir berupa kemarahan terhadap Jepang. Dia ingin agar perjuangannya untuk mengungkapkan keadilan tidak berhenti sampai di sini.

Sementara pihak Jepang mengklaim, masalah tersebut sebenarnya sudah diselesaikan dengan perjanjian. Selain itu, mereka juga telah melayangkan permintaan maaf kepada Kim dan seluruh perempuan yang merasa menjadi korban.

Akan tetapi, para aktivis kaum Hawa di Korea Selatan menegaskan, sikap Jepang itu tidak cukup. Akibatnya, mereka menuntut permintaan maaf dan reparasi yang lebih formal dari Tokyo.

"Kim mewariskan kepada kami pelajaran tentang perdamaian, apa itu hak asasi manusia, membantu mereka yang lemah dan yang terluka," kata Presiden Korean Council for the Women Drafted for Military Sexual Slavery by Japan, Yoon Mi-hyang, seperti dikutip dari CNN, Minggu (3/2/2019).

Tak Bisa Punya Keturunan

Menurut cerita Kim semasa hidupnya, tentara Jepang datang ke rumahnya ketika dia masih remaja. Kala itu umurnya baru 14 tahun. Entah dari mana mereka mengetahui alamat rumah Kim.

Seorang komandan menyampaikan kepadanya bahwa dia akan diterbangkan ke Jepang untuk membantu Negeri Matahari Terbit selama Perang Dunia II, di mana Korea Selatan adalah koloni Jepang.

Kim mengira dia akan dipekerjakan sebagai buruh pabrik. Namun, dugaannya salah besar.

Setelah delapan tahun berikutnya, ketika usianya 22 tahun, Kim dijemput oleh tentara yang dahulu menyambangi kediamannya. Dia pun dibawa, ketika pasukan kekaisaran Jepang menyebar ke seluruh Asia.

Tiba di Jepang, dia justru dijebloskan ke lokalisasi dan dipaksa untuk melayani permintaan tentara-tentara yang berahi.

"Setiap hari Minggu, pasukan-pasukan itu datang ke rumah bordil dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore," kata Kim kepada CNN dalam sebuah wawancara pada tahun 2012.

"Pada hari Sabtu, dari siang sampai jam 5 sore, ditambah hari kerja. Saya tidak bisa bergerak di akhir pekan, fisik saya rusak," kenangnya sedih.

Namun, bagi Kim, 'pil pahit' tersebut bukanlah kiamat. Setelah perang, dia berkeliling dunia. Kali ini atas kemauannya sendiri, untuk menceritakan kisah tragis yang dialaminya dan meningkatkan kesadaran akan masalah "wanita penghibur". Dia bahkan menginjakkan kakinya di Jepang.

Pada suatu hari, Kim mengklaim bahwa dirinya tidak akan pernah bisa punya anak dari hasil perkawinan, seumur hidupnya. Hal ini lantaran kejadian yang menimpanya di masa lalu dan Jepang telah menghancurkan masa depannya.

"Di usia saya yang renta, saya tidak akan pernah mendengar satu orang pun yang memanggil saya 'ibu', saya tidak bisa punya anak," tambah Kim.

 

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 2 halaman

Permintaan Maaf dan Repatriasi

Presiden Korea Selatan Moon Jae-in (AP/Jon Gambrell)
Perbesar
Presiden Korea Selatan Moon Jae-in (AP/Jon Gambrell)

Kim dan para pendukungnya berulang kali menyerukan kepada pemerintah Jepang untuk mengakui bahwa rumah-rumah bordil pada masa perang adalah ilegal dan menekankan harus ada sanksi negara. Akan tetapi, beberapa ultra-konservatif di Jepang mengklaim para wanita itu bekerja secara sukarela demi uang.

"Saya ingin Jepang bertobat dan meminta maaf," kata Kim pada 2012. "Jepang mengatakan bahwa masyarakat sipil-lah yang mengaku-aku seperti itu. Mereka bilang, mereka tidak menyeret orang lain dengan paksaan, tetapi kami-lah yang secara sukarela melakukannya. Ini sebuah kebohongan besar!"

Seluruh perdana menteri Jepang yang pernah menjabat di masa lalu telah meminta maaf kepada Korea Selatan. Tokyo percaya masalah ini sudah rampung pada tahun 1965, sebagai bagian dari perjanjian untuk menormalkan hubungan antara kedua negara.

Kesepakatan penting lainnya yang dicapai pada 2015 adalah permintaan maaf dan janji US$ 8 juta (setara Rp 111 milair) untuk membangun sebuah yayasan yang menopang "wanita penghibur" yang masih hidup.

"Saya pikir, kami melakukan tugas kami untuk generasi saat ini, dengan mencapai resolusi final dan tidak dapat dipulihkan sebelum peringatan berakhirnya Perang Dunia II yang ke-70," Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe menuturkan.

Tetapi kesepakatan tersebut terbukti tidak final atau tidak dapat diubah karena banyak mantan "wanita penghibur" menolaknya. Kata mereka, mereka bahkan belum diajak berunding.

Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in, mendukung sikap mereka ketika ia mengambil alih kekuasaan dua tahun kemudian, mengundang seluruh korban yang selamat ke Blue House pada tahun lalu untuk meminta maaf atas nama pemerintah.

"Saya ingin menyampaikan permintaan maaf kepada semua nenek karena melakukan perjanjian yang tidak pantas dengan Jepang," aku Moon.

Moon sempat mengunjungi Kim di rumah sakit pada 2018, ketika Kim dirawat karena kanker stadium akhir, sebelum Kim mangkat. Moon juga memberikan penghormatan terakhir untuk jenazah Kim sebelum dikremasi.

Saat ini, hanya ada 23 "wanita penghibur" yang diketahui masih hidup. Lee Yong-su (90) adalah salah satunya, yang merupakan teman Kim Bok-dong. Dia terlihat menghadiri pemakaman Kim pada Jumat kemarin untuk mengucapkan salam perpisahan terakhir.

Lanjutkan Membaca ↓