Sultan Pahang Resmi Dilantik Jadi Raja Malaysia

Oleh Siti Khotimah pada 31 Jan 2019, 18:43 WIB
Diperbarui 30 Jul 2019, 12:56 WIB
Pemimpin negara bagian Pahang, Sultan Abdullah Ri'ayatuddin, dilantuk menjadi Raja Malaysi yang baru pada Kamis 24 Januari 2019 (Bernama)

Liputan6.com, Jakarta Raja baru Malaysia, Sultan Pahang, secara resmi naik takhta pada Kamis 31 Januari 2019. Raja Pahang, Sultan Abdullah Ri'ayatuddin, terpilih sebagai raja pasca perundingan Dewan Penguasa.

Prosesi ini sekaligus menandakan masa jabatannya selama lima tahun mendatang.

Dalam upacara tersebut, band Resimen Kerajaan Melayu memainkan lagu nasional. Selanjutnya simbol raja diberikan, bersamaan dengan dilepaskannya 21 tembakan kehormatan. Demikian sebagaimana dikutip dari Channel News Asia pada Kamis (31/1/2019).

 

Sultan Abdullah kemudian memberikan inspeksi kepada pasukan khusus dari Kesatuan Militer Kesultanan Diraja Malaysia.

Selanjutnya, Sultan menuju Istana Negara untuk mengucapkan sumpah jabatan. Dalam upacara yang sama, Sultan Perak, Sultan Nazrin Shah, juga mengucap sumpah sebagai wakil raja.

Sebelumnya, bendera raja telah dikibarkan di Istana Kuala Lumpur, Malaysia, sejak tengah malam.

Saksikan video berikut:

2 of 2

Cerdas dan Menyukai Olahraga

Sultan Abdullah Resmi Menjadi Raja Malaysia
Raja Malaysia Sultan Abdullah Sultan Ahmad Shah (kanan) berdoa di sebelah PM Mahathir Mohamad saat pelantikan di Istana Nasional, Kuala Lumpur, Kamis (31/1). Sultan Abdullah menjadi Raja ke-16 Malaysia menggantikan Sultan Muhammad V. (AP Photo/Yam G-Jun)

Sultan Abdullah naik takhta pada usia 59 tahun. Ia meneruskan Sultan Kelantan, Muhammad V yang menjadi raja dengan masa jabatan tersingkat dalam sejarah Malaysia.

Sultan Abdullah dikenal sebagai atlet yang memegang sejumlah jabatan di badan olahraga, termasuk FIFA. Ia juga menjabat sebagai Presiden Asosiasi Hoki Asia.

Raja baru Malaysia ini juga seorang yang cerdas, terbukti pernah menjalankan studi di Queen Elizabeth College, Oxford University, Inggris. Di sana, Sultan Abdullah mempelajari ilmu kebijakan luar negeri dan diplomasi.

Malaysia memang negara yang unik. Negeri jiran itu menerapkan sistem pemerintahan monarki konstitusional, dengan jabatan raja berganti setiap lima tahun berdasarkan rotasi.

Rotasi yang dimaksud harus melalui mekanisme pemilihan oleh Dewan Penguasa yang terdiri atas pucuk pimpinan sembilan negara bagian. Seluruh kesultanan itu bernafaskan Islam.

Lanjutkan Membaca ↓