Penutupan Pemerintah Ditangguhkan, PNS AS Masih Dibayangi Kekhawatiran

Oleh Happy Ferdian Syah Utomo pada 31 Jan 2019, 17:03 WIB
Diperbarui 31 Jan 2019, 17:03 WIB
Ilustrasi bendera Amerika Serikat (AFP Photo)
Perbesar
Ilustrasi bendera Amerika Serikat (AFP Photo)

Liputan6.com, Washington DC - Ratusan ribu pekerja federal --sebutan untuk PNS di Amerika Serikat (AS)-- dan kontraktor pemerintah kembali bekerja pada pekan ini, setelah government shutdown (penutupan pemerintah) terpanjang dalam sejarah Negeri Paman Sam ditangguhkan pada Jumat 26 Januari.

Tetapi kekhawatiran penutupan dan kendala keuangan belum berakhir, mengingat Donald Trump masih bersikukuh tentang niatan memperluas tembok perbatasan, demikian sebagaimaan dikutip dari Time.com pada Kamis (31/1/2019).

Beberapa pekerja mengatakan mereka bersyukur dapat kembali bekerja dan mulai menerima gaji, setelah lebih dari satu bulan menemui ketidakpastian.

Tetapi, rasa tidak aman yang ditimbulkan oleh penutupan itu --yang berlangsung dari 22 Desember hingga 25 Januari setelah perselisihan antara Donald Trump dan Kongres atas pendanaan tembok pebatasan senilai US$ 5,7 miliar-- masih terasa di sana.

Beberapa pegawai federal AS khawatir tentang keadaan genting dari situasi mereka, dan di saat bersamaan, juga mengaku marah karena pekerjaan mereka dipertaruhkan oleh pertempuran anggaran.

Sementara Donald Trump menandatangani undang-undang penghentian temporer dengan mendanai secara tertutup berbagai lembaga pemerintah hingga 15 Februari, yang tersisa kurang dari tiga pekan ke dapan.

Hal itu menyiratkan bahwa pemerintah AS dapat berhenti beroperasi lagi setelahnya, yang berarti gaji pekerja federal akan kembali meleset dari jadwal seharusnya.

Kecemasan kian memuncak ketika Donald Trump mengindikasikan dia tidak percaya bahwa negosiator kongres akan membuat kesepakatan tentang keamanan perbatasan sesuai dengan visinya.

Gedung Putih telah mengancam penutupan pemerintah lainnya jika tuntutan Trump tidak dipenuhi.

Pada hari Rabu, Donald Trump mengetwit bahwa komite bipartisan di parlemen, yang menegosiasikan pendanaan keamanan perbatasan, telah "membuang-buang waktu" jika pembicaraan mereka tidak termasuk "tembok atau penghalang fisik".

 

Simak video pilihan berikut; 

 

2 dari 2 halaman

Putar Otak untuk Bertahan Hidup

Capitol Hill, DPR Amerika Serikat - AP
Perbesar
Capitol Hill, DPR Amerika Serikat - AP

Selama 35 hari penutupan sebagian pemerintah AS, para pekerja federal melewatkan dua periode gaji.

Untuk mengakalinya, beberapa pegawai federal dan kontraktor pemerintah mencari pekerjaan tambahan, sementara yang lain ditarik kembali ke pekerjaan mereka tanpa bayaran.

Saat ini, banyak dari mereka fokus pada risiko penutupan pemerintah lainnya, yang kemungkinan besar tidak terhindarkan jika Donald Trump dan Kongres terus bersitegang.

"Saya akan menghemat setiap dolar yang saya bisa, hingga anggaran permanen disahkan," kata Jazz Sexton, karyawan Internal Revenue Service yang berbasis di Pittsburgh.

Sexton (32) adalah satu dari sekitar 800.000 orang pekerja federal yang akan menerima upah retroaktif pasca-penutupan pemerintah.

Dia bercerita bahwa penutupan pemerintah telah membuatnya terlambat dalam membayar sewa dan tagihan.

Pembayaran kembali dari pemerintah, beserta pengembalian pajaknya, dan setidaknya satu kali gaji di muka, akan menempatkannya pada posisi yang lebih baik jika shutdown kembali terjadi.

Sementara itu, Julie Burr (39), seorang karyawan untuk sebuah perusahaan swasta yang dikontrak oleh Kementerian Perhubungan AS, mengatakan bahwa dia sempat mengambil pekerjaan paruh waktu di jaringan toko buku Barnes & Noble, untuk mengimbangi pemasukan yang hilang selama penutupan pemerintahan lalu.

Shutdown, katanya, telah secara permanen mengubah perspektifnya tentang apa yang dia mau lakukan untuk keluarganya. Ketakutan bahwa pemerintah akan ditutup kembali setelah 15 Februari terlalu nyata baginya, dan mungkin mendorongnya untuk mencari pekerjaan di bidang baru.

Lanjutkan Membaca ↓