Asteroid Tabrak Bulan Saat Supermoon Darah, Picu Ledakan Setara 1 Ton Dinamit

Oleh Rizki Akbar Hasan pada 31 Jan 2019, 00:03 WIB
Fenomena Gerhana Bulan Total, atau Blood Supermoon, akan terjadi pada 20 Januari 2019 malam (AFP/Aris Messinis)

Liputan6.com, New York - Di tengah kemeriahan seputar fenomena gerhana Bulan "super blood wolf moon" pekan lalu, ternyata, ada kejadian alam lain di satelit alami Bumi yang tak kalah menariknya.

Menurut pantauan ilmuwan, gerhana pekan lalu diselingi oleh fenomena asteroid yang menabrak permukaan Bulan dengan energi dahsyat.

Peristiwa itu kabarnya disaksikan oleh sejumlah pasang mata di Bumi, yang mengaku melihat 'kilatan cahaya' di Bulan saat "super blood wolf moon" terjadi.

Para peneliti telah menganalisis beberapa pengamatan dampak tabrakan itu untuk mendapatkan gambaran yang lebih baik tentang apa yang sebenarnya menciptakan kilatan yang terlihat oleh sejumlah pasang mata di Bumi.

Para peneliti dari Kolombia dan Republik Dominika melihat video yang diambil oleh para astronom amatir untuk merekonstruksi momen ketika Bulan dihantam oleh asteroid tersebut --menurut draf makalah yang dikirim ke jurnal Icarus dan diposting di server pra-cetak Cornell University.

Menurut perkiraan, peneliti menilai bahwa tabrakan itu menghasilkan jumlah energi yang sama seperti antara 0,9 dan 1,8 ton dinamit, meninggalkan kawah yang bisa mencapai berdiameter 15 m dan "dapat dideteksi oleh wahana badan antariksa yang ada di Bulan," demikian seperti dikutip dari Cnet, Rabu (30/1/2019).

Kawah itu berada di dekat bagian barat Bulan --permukaan yang kerap menghadap Bumi.

Hebatnya, asteroid yang menabrak Bulan diperkirakan hanya berdiameter tak lebih dari 30-50 cm, namun, melesat dengan kecepatan luar biasa, 13,8 km/detik.

Tabrakan itu menambah daftar kawah yang tercipta dari hasil asteroid yang menabrak Bulan --di mana satelit alami Bumi itu telah memiliki banyak di antaranya, implikasi dari tidak adanya atmosfer di lunar.

Beriku salah satu video yang menunjukkan bukti seputar tabrakan asteroid di permukaan Bulan saat gerhana "super blood wolf moon" terjadi pekan lalu:

 

Simak juga video pilihan berikut ini:

2 of 2

Mengapa Supermoon Januari 2019 Disebut Super Blood Wolf Moon? Ini 3 Faktanya

Proses Terjadinya Gerhana Bulan
Fase gerhana bulan "super blue blood moon" terlihat di atas langit Jakarta, Rabu (31/1). Ini merupakan fenomena langka karena bulan menunjukkan tiga fenomena sekaligus, yaitu supermoon, blue moon, dan gerhana bulan. (Liputan6.com/Arya Manggala)

Supermoon kembali muncul di awal 2019. Kali ini, pada bulan Januari, dinamakan sebagai Super Blood Wolf Moon, yang menghiasi langit malam pada 20 hingga 21 Januari 2019.

Menurut NASA, orang-orang yang tinggal di kawasan Amerika utara dan selatan, dapat melihat keseluruhan proses gerhana bulan tersebut. Begitu juga di lokasi-lokasi seperti Greenland, Islandia, Irlandia, Britania Raya, Norwegia, Swedia, Portugal, serta pantai-pantai di Prancis dan Spanyol.

Wilayah Eropa lainnya, pun dengan Afrika, dapat memandang Gerhana Bulan Sebagian sebelum satelit alam Bumi ini hilang di balik awan. Sementara itu, sisi timur Amerika Utara adalah tempat yang memiliki pemandangan terbaik.

Akan tetapi, Supermoon dilaporkan terlihat dari Pantai Barat ke Pantai Timur, dan terjadi jauh lebih lama daripada gerhana sebelumnya. Durasinya kira-kira 1 jam dan 3 menit.

Menurut badan antariksa milik pemerintah Amerika Serikat itu, Super Blood Wolf Moon sangat jarang muncul dan tampak di angkasa. Hanya penduduk di 28 negara yang dapat menyaksikannya dengan jelas atau dengan mata kepala sendiri.

Namun, beberapa orang belum mengetahui mengapa Supermoonpada Januari tahun ini dinamakan Super Blood Wolf Moon. Inilah tiga hal yang perlu diketahui publik terkait peristiwa alam tersebut, seperti dikutip dari ABC, Senin (21/1/2019).

Baca tiga alasannya di sini...

Lanjutkan Membaca ↓