Presiden Omar al-Basyir: Arab Spring Versi Sudan Tengah Berlangsung

Oleh Siti Khotimah pada 28 Jan 2019, 14:01 WIB
Presiden Sudan, Omar al-Basyir bertemu dengan Presiden Mesir, Abdul Fattah al-Sisi (AFP Photo)

Liputan6.com, Khartoum - Presiden Sudan, Omar al-Basyir, menyatakan sejumlah pengunjuk rasa di negaranya terinspirasi Arab Spring 2011. Ia mengutuk sejumlah oknum yang berusaha merusak stabilitas di dalam negerinya.

Kalimat itu disampaikan pada pertemuannya dengan Presiden Mesir, Abdul Fattah al-Sisi, pada Minggu (27/1/2019).

Dalam pertemuan, ia menyampaikan bahwa konflik yang berlarut di negara timur laut Afrika tersebut, terjadi karena sebagian kelompok ingin menciptakan Arab Spring versi Sudan, dikutip dari Al Jazeera pada Senin (28/1/2019).

Pertemuan dengan Presiden Mesir adalah pertemuan kedua al-Basyir di tahun 2019.

Konflik berkepanjangan di Sudan terjadi karena menuntut al-Basyir turun dari tampuk kekuasaan. Ia juga harus menghadapi kondisi perekonomian yang kian memburuk, dibuktikan dengan melambungnya harga bahan pokok.

Al-Basyir mengaku bahwa protes yang dialamatkan kepadanya tidak seburuk yang dipikirkan oleh publik. Dalam sebuah konferensi pers, ia mengutuk sejumlah organisasi yang menurutnya, bertujuan merusak stabilitas dan keamanan kawasan.

"Banyak sekali organisasi negatif yang berusaha mengguncang stabilitas dan keamanan kawasan", tuturnya.

"Kami menyadari bahwa ada masalah, kami tidak membantahnya, namun itu tidak sebesar yang digambarkan oleh media. Itu (konflik di Sudan) adalah percobaan untuk meniru apa yang dinamakan "Arab Spring", (kali ini) versi Sudan," jelasnya kemudian.

Simak video pilihan berikut:

2 of 2

Protes Berlarut di Sudan

Presiden Sudan Omar al-Basyir (AFP Photo)
Presiden Sudan Omar al-Basyir (AFP Photo)

Aksi protes di Sudan bermula di bagian timur laut wilayah Atbara, kemudian merambat cepat ke sejumah kota karena faktor ekonomi yang memburuk.

Di tengah aksi protes terhadap inflasi tersebut, kemudian massa menuntut al-Basyir yang telah menjabat selama 29 tahun, untuk turun dari kekuasaannya.

Aparat menggunakan serangan gas air mata serta peluru karet untuk melawan gelombang protes.

Sebanyak 30 orang telah tewas sejak protes tersebut berkecamuk, meskipun menurut organisasi hak asasi manusaia jumlah korban jiwa telah lebih dari 40 orang.

Omar al-Basyir menyatakan bahwa proses pergantian kekuasaan hanya dapat dilakukan melalui pemilihan umum. Ia sendiri --yang telah berkuasa sejak 1989 dengan jalan kudeta militer--, berencana berpartisipasi kembali dalam pemilu tahun depan.

Al-Basyir pernah didakwa oleh Pengadilan Pidana Internasional (International Criminal Court) atas kasus genosida di Darfur, Sudan Selatan. Sebagai akibat, geraknya ke negara-negara di kawasan Arab dan Amerika, sempat dibatasi.

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait