Miliarder George Soros Tuduh China Pakai Teknologi untuk Menekan Rakyatnya

Oleh Happy Ferdian Syah Utomo pada 25 Jan 2019, 12:04 WIB
Diperbarui 25 Jan 2019, 14:18 WIB
Miliarder sekaligus filantropis berpengaruh dunia, George Soros dalam agenda World Economic Forum 2019 (AFP/Fabrice Coffrini)

Liputan6.com, Davos - Miliarder filantropis George Soros menuding Presiden China Xi Jinping menggunakan teknologi mesin dan kecerdasan buatan untuk menekan rakyatnya.

Dalam jamuan makan malam dalam agenda tahuna World Economic Forum di Davos, Swiss, pada Kamis 24 Januari, Soros mengatakan bahwa Xi adalah lawan paling berbahaya bagi masyarakat modern yang terbuka.

Dikutip dari The Guardian pada Jumat (25/1/2019), Soros menyerukan dunia Barat untuk menindak perusahaan teknologi China, yang menurutnya, patuh sebagai alat kontrol otoriter pemerintahan Xi Jinping.

"Saya ingin Anda semua paham tentang bahaya yang dihadapi masyarakat terbuka, ketika instrumen kontrol dengan dukungan teknologi dan kecerdasan buatan berada di tangan rezim yang represif. Saya akan fokus memantau China, di mana Xi Jinping menginginkan negara satu partai berkuasa," kata Soros.

Di masa lalu, Soros telah menggunakan pidato utama di Davos untuk menyerang Donald Trump, dan kini dia kembali mengkritik presiden AS karena penanganannya terhadap China.

Ada risiko, kata Soros, tentang perang dingin antara dua ekonomi terbesar di dunia yang berubah menjadi panas.

Dia mengatakan bahwa di China semua informasi yang berkembang pesat akan dikonsolidasikan ke dalam basis data terpusat untuk menciptakan "sistem kredit sosial".

“Berdasarkan data itu, orang akan dievaluasi dengan algoritma yang akan menentukan apakah mereka menimbulkan ancaman bagi negara. Orang-orang akan diperlakukan sesuai poin yang dimiliknya," ujar Soros.

 

Simak video pilihan berikut: 

 

2 of 2

China Mendikte Ekonomi Global

Presiden China Tiba di Hong Kong
Presiden Cina Xi Jinping seusai berbicara kepada awak media di Bandara Internasional Hong Kong, Kamis (29/6). Selama sepekan terakhir, Kepolisian Hong Kong sudah melakukan berbagai antisipasi terkait kunjungan Presiden Xi Jinping. (AP Photo/Kin Cheung)

Menurut Soros, China bukan satu-satunya rezim otoriter di dunia, tetapi menjadi negara terkaya, terkuat dan paling maju dalam pembelajaran mesin dan kecerdasan buatan.

Dia berpendapat bahwa China ingin mendikte aturan dan prosedur tentang ekonomi digital, dengan mendominasi platform dan teknologi baru di negara-negara berkembang.

"Pandangan saya sekarang adalah bahwa alih-alih mengobarkan perang dagang dengan seluruh dunia, AS harus fokus pada China. Jangan membiarkan (perusahaan teknologi Cina) ZTE dan Huawei bertindak ganda sebagai agen pemerintah China, mereka perlu ditindak," ujar Soros.

"Jika perusahaan-perusahaan ini mendominasi pasar teknologi 5G, mereka akan menghadirkan risiko keamanan yang berbahaya bagi seluruh dunia," lanjutnya.

Soros mengatakan Trump mengambil pendekatan yang salah ke China, membuat konsesi ke Beijing dan menyatakan kemenangan sambil memperbarui serangannya terhadap sekutu AS.

"Kabijakan Trump bertanggung jawab atas pelemahan tujuan AS dalam mengekang penyalahgunaan dan ekses China. Kenyataannya adalah bahwa kita berada dalam perang dingin yang lambat laun memanas," pungkasnya.

Lanjutkan Membaca ↓