Dua Kapal Kargo Meledak Saat Isi BBM di Krimea, 10 Orang Tewas

Oleh Happy Ferdian Syah Utomo pada 22 Jan 2019, 09:32 WIB
Kapal kargo terbakar di Selat Kerch, dekat Semenanjung Krimea, pada Senin 21 Januari 2019 (TASS via AFP)

Liputan6.com, Kerch - Sebanyak sepuluh orang pelaut ditemukan tewas dan 14 lainnya terluka, ketika dua kapal kargo terbakar di Selat Kerch, dekat Semenanjung Krimea, kata kementerian transportasi Rusia pada Senin 21 Januari 2019 waktu setempat.

Beberapa saat sebelumnya, otoritas terkait mengatakan bahwa para kru kapal sempat melompat ke laut, guna menghindari kobaran api yang membesar dengan cepat.

Dikutip dari The Guardian pada Selasa (21/1/2019), kedua kapal kargo yang meledak itu diketahui berbendera Tanzania, dengan nama Candice (Venice) dan Maestro.

Secara total, kedua kapal mengangkut 31 awak, yang terdiri dari 16 orang warga negara India, dan 15 lainnya berasal dari Turki.

Hingga berita ini ditulis, pencarian masih terus dilakukan untuk menemukan tujuh awak kapal yang hilang.

Salah seorang sumber di industri pelayaran mengatakan bahwa beberapa waktu sebelum kebakaran terjadi, muncul badai di laut lepas. Dia menduga bahwa sisa gelombang tinggi turut memicu ledakan.

Lembaga Federal untuk Transportasi Laut dan Sungai Rusia mengatakan kobaran api muncul saat bahan bakar dipompa dari satu kapal ke kapal lainnya.

Sementara ini, dugaan sisa gelombang tinggi masih dipertimbangkan sebagai pemicu bocornya jalur pemindahan bakar, sehingga menyebabkan kebakaran.

Meski begitu, otoritas Rusia belum mengeluarkan pernyataan apapun terkait kebakaran itu.

 

Simak video pilihan berikut: 

 

2 of 2

Gejolak di Selat Kerch

Selat Kerch, Laut Azov, Semenanjung Krimea (AP PHOTO)
Selat Kerch, Laut Azov, Semenanjung Krimea (AP PHOTO)

Selat Kerch, yang berada antara Semenanjung Krimea --yang dicaplok Moskow-- dan Rusia selatan, adalah pintu kontrol bagi akses pelayaran dari Laut Hitam ke Laut Azov.

Di sana, terdapat dua pelabuhan yang kerap bersitegang, yakni pelabuhan milik Rusia dan Ukraina.

Pada November 2018, Rusia menahan tiga kapal angkatan laut Ukraina dan awaknya di Laut Hitam dekat Selat Kerch, memicu ketegangan antara kedua negara.

Presiden Ukrainan Petro Poroshenko menggambarkan tindakan Rusia sebagai "tidak beralasan dan gila".

Sementara itu, Uni Eropa meminta Rusia untuk "mengembalikan kebebasan melintas di Selat Kerch", dan mendesak "kedua negara untuk saling menahan diri".

Di lain pihak, NATO mengatakan pihaknya mendukung kedaulatan Ukraina dan integritas wilayahnya, termasuk hak navigasi di perairan teritorialnya".

Sebagaimana diketahui, Rusia mencaplok Semenanjung Krimea dari Ukraina pada 2004 silam, yang kemudian memicu banyak ketegangan antara dua negara hingga saat ini.

Lanjutkan Membaca ↓