Ungkap Korupsi Sepak Bola Afrika, Jurnalis Ghana Ditembak Mati

Oleh Happy Ferdian Syah Utomo pada 19 Jan 2019, 09:31 WIB
Masyarakat Ghana menyaksikan film dokumenter buatan Ahmed Hussein-Suale (AFP Photo)

Liputan6.com, Accra - Seorang wartawan di Ghana, yang diketahui membantu mengungkap korupsi di liga sepakbola Afrika, ditemukan tewas tertembak di ibu kota Accra.

Ahmed Husein --nama wartawan tersebut-- adalah bagian dari tim yang dipimpin oleh jurnalis investigasi terkemuka, Anas Aremeyaw Anas, yang hasil penyelidikannya memicu pengunduran diri ketua Asosiasi Sepak Bola Ghana.

Dikutip dari The Guardian pada Jumat (18/1/2019), lusinan wasit dan ofisial sepakbola di beberapa negara Afrika juga dilarang turun ke lapangan karena penyelidikan itu, termasuk pelatih tim nasional Nigeria, Salisu Yusuf, yang kedapatan menerima suap uang tunai dari jurnalis menyamar sebagai agen bakat.

Direktur departemen investigasi kriminal pada Kepolisian Ghana, Maame Yaa Tiwaa Addo-Danquah, mengatakan: "Orang-orang kami berada di lapangan saat ini untuk mengumpulkan informasi. Semua orang yang terhubung dengan pembunuhan ini akan dipanggil untuk diinterogasi."

Husein ditembak di leher dan dadanya saat berjalan pulang ke rumahnya pada Rabu 16 Januari 2019 malam. Pelakunya adalah beberapa orang tidak dikenal yang membawa senjata api, kata polisi.

Sebelumnya, Husein sempat melaporkan keluhan kepada polisi setelah seoran politikus Ghana, Kennedy Agyapong, menunjukkan fotonya di saluran televisi swasta.

Agyapong menjanjikan imbalan tunai untuk siapa pun yang bisa melakukan pembalasan terhadap Husein. Hal itu sontak memicu kehebohan di tengah publik Ghana, khususnya media sosial setempat.

"Pria itu sangat berbahaya, dia tinggal di Madinah. Jika dia datang ke sini, pukullah dia," kata Agyapong, sambil menunjuk ke foto Husein.

Agyapong sendiri menolak klaim bahwa dia merekayasa pembunuhan Husein.

 

Simak video pilihan berikut:

2 of 2

Mengguncang Ghana

Kisah 4 Jurnalis Tewas Tragis saat Tugas
Ilustrasi jurnalis. (Pixabay)

Sementara itu, Komite Perlindungan Jurnalis menyerukan penyelidikan segera terhadap penembakan Hussein, dan mendesak pemerintah Ghana untuk "memastikan bahwa ancaman terhadap pers ditanggapi dengan serius".

Regulator media nasional Ghana mengutuk pembunuhan Hussein. "Adalah kepentingan nasional untuk menangkap para pelaku kejahatan ini," ujar ketuanya, Yaw Boadu-Ayeboafo, dalam sebuah pernyataan.

Wartawan Ghana juga mengutuk pembunuhan reporter berusia 34 tahun itu, yang memainkan peran penting dalam beberapa penyelidikan korupsi di negara itu.

Oktober lalu, FIFA melarang mantan ketua Federasi Sepak Bola Ghana, Kwesi Nyantakyi, berkecimpung di rumput hijau selama seumur hidup, dan mendenda dia senilai hampir US$ 500.000 (setara Rp 7,09 miliar), setelah dia tertangkap kamera menerima dugaan suap.

Nyantakyi dituduh meminta US$ 11 juta (setara Rp 15,6 miliar) untuk mendapatkan kontrak pemerintah. Delapan wasit dan asisten wasit juga dilarang bertugas seumur hidup, dan 53 pejabat lain dikenakan larangan serupa selama 10 tahun.

Pengungkapan itu mengguncang Ghana, sebuah negara di mana sepak bola adalah olahraga nasional, dan di satu sisi, membanggakan diri sebagai negara demokrasi yang stabil di tengah wilayah bergejolak Afrika.

Lanjutkan Membaca ↓