Kekurangan Dana, Program Pangan Dunia Potong Jumlah Bantuan ke Palestina

Oleh Happy Ferdian Syah Utomo pada 14 Jan 2019, 16:33 WIB
Diperbarui 16 Jan 2019, 13:13 WIB
Warga Palestina membentang bendera negara mereka, bergembira menyambut rekonsiliasi antara Hamas dan Fatah

Liputan6.com, New York - Program Pangan Dunia (WFP) telah menangguhkan atau mengurangi bantuan untuk masyarakat Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza. Hal tersebut dikarenakan program sosial di bawah Perserikat Bangsa-Bangsa (PBB) itu kekurangan dana.

Sekitar 27.000 warga di Tepi Barat tidak lagi menerima bantuan melalui WFP sejak 1 Januari, kata Stephen Kearney, direktur organisasi terkait untuk Palestina.

Sebanyak 165.000 orang lainnya, termasuk 110.000 di Jalur Gaza, hanya menerima 80 persen dari jumlah biasanya, lanjut Kearney sebagaimana dikutip dari Al Jazeera pada Senin (14/1/2019).

Pemotongan tersebut diputuskan menyusul pengurangan bertahap jumlah sumbangan selama hampir empat tahun terakhir, di mana mundurnya komitmen AS memiliki efek terbesar pada isu terkait.

WFP sendiri telah berupaya melakukan banding pendanaan pada 19 Desember lalu, di mana hal itu membuahkan kontribusi tambahan dari Uni Eropa dan Swiss, meski jumlahnya tidak seberapa besar, kata Kearney.

Dikatakan pada saat itu, bahwa WFP membutuhkan dana sebesar US$ 57 juta (setara Rp 805 miliar) untuk mempertahankan operasional program sosialnya pada Palestina.

Kini, mereka juga tengah berusaha mencari kontribusi dari donor baru dalam upaya untuk mengisi kesenjangan sumber pendapatan.

Kearney menambahkan bahwa muncul pula kekhawatiran bahwa pemotongan dana tersebut akan memengaruhi ekonomi lokal, karena penduduk Palestina menggunakan kartu bantuan untuk membeli barang kebutuhan sehari-hari di berbagai toko setempat.

 

Simak video pilihan berikut: 

 

2 dari 2 halaman

Masalah Ekonomi di Jalur Gaza dan Tepi Barat

Pria Palestina di Jalur Gaza membawa bantuan kemanusiaan dari UNRWA PBB (File / AP PHOTO)
Pria Palestina di Jalur Gaza membawa bantuan kemanusiaan dari UNRWA PBB (File / AP PHOTO)

Sementara itu, kawasan Tepi Barat mengalami kenaikan angka pengangguran sebanyak 18 persen dari tahun lalu, yang berarti mencapai lebih dari setengah jumlah penduduknya.

Beberapa warga Palestina di sana juga diketahui berupaya bekerja di Israel dengan harapan mendapatkan gaji yang lebih tinggi.

Tetapi izin diperlukan untuk melakukan hal tersebut, dan Israel selektif dalam memilih siapa yang berhak diberi pekerjaan.

Sedangkan di Jalur Gaza, sekitar 80 persen dari dua juta penduduknya mengandalkan bantuan internasional.

Kawasan tersebut telah berada di bawah blokade Israel dan Mesir selama lebih dari satu dekade. Bahkan, Israel telah meluncurkan tiga serangan militer di wilayah itu sejak 2008, menyasar kelompok Hamas yang dinilainya sebagai pemberontak.

Di saat bersmaan, pemerintahan Donald Trump di AS dikabarkan telah memotong dana bantuan sekitar US$ 500 juta (setara Rp 7.06 triliun) bagi rakyat Palestina.

Lanjutkan Membaca ↓