Remaja Saudi yang Kabur Takut Dibunuh Keluarga Diizinkan Singgah di Thailand

Oleh Rizki Akbar Hasan pada 08 Jan 2019, 14:04 WIB
Diperbarui 09 Jan 2019, 22:14 WIB
Ilustrasi Bendera Arab Saudi (iStockphoto via Google Images)

Liputan6.com, Bangkok - Seorang remaja perempuan Arab Saudi yang terbang ke Thailand untuk melarikan diri dari keluarganya di Kuwait akan diizinkan menetap sementara di Negeri Gajah Putih. Demikian kata para pejabat Thailand, Senin 7 Januari 2019.

Wanita berusia 18 tahun, yang mengidentifikasi dirinya lewat akun Twitter sebagai Rahaf Mohammed Mutlaq al-Qunun, telah membarikade dirinya di kamar hotel bandara Bangkok dalam upaya untuk mencegah pejabat mengirimnya kembali ke keluarganya.

Dia memposting foto diri dan paspornya, dan mengatakan dia sedang mencari suaka ke "negara mana saja yang akan melindungi saya dari terluka atau terbunuh karena meninggalkan agama dan penyiksaan dari keluarga saya," demikian seperti dikutip dari CNN, Selasa (8/1/2019).

Sebelumnya pada hari Senin, Qunun memposting video di media sosial di mana dia bisa terdengar menolak orang-orang yang hendak masuk ke kamar hotelnya di bandara.

"Mereka berusaha membuat saya keluar sehingga mereka bisa membawa saya pergi. Saya mencoba menghubungi PBB," katanya kepada kamera. Kasur, meja, dan kursi terlihat membarikade pintu yang terkunci rantai.

Kepala keimigrasian Thailand, Surachet Hakpal, awalnya mengatakan kepada CNN bahwa Qunun akan kembali ke keluarganya di Kuwait pada Senin 7 Januari 2019.

Tetapi beberapa jam kemudian, Hakpal mengatakan Qunun malah akan dilepaskan dari bandara ke dalam perlindungan badan pengungsi PBB (UNHCR).

"Dia sekarang berada di bawah kedaulatan Thailand. Tidak seorang pun dan kedutaan tidak dapat memaksanya untuk pergi ke mana pun. Kami akan melindunginya sebaik mungkin," kata Hakpal pada konferensi pers Senin 7 Januari.

Rahaf Mohammed Mutlaq Al-Qunun (kedua dari kiri) (kredit: Keimigrasian Thailand)

"Kami akan berbicara dengannya dan melakukan apa pun yang dia minta. Karena dia lolos dari kesulitan untuk mencari bantuan kami, kami adalah Tanah Senyum, kami tidak akan mengirim siapa pun ke kematian mereka. Kami tidak akan melakukan itu, kami akan mematuhi hak asasi manusia di bawah supremasi hukum."

Setelah bertemu dengan pejabat imigrasi Thailand dan perwakilan UNHCR, Qunun meninggalkan hotel dengan staf UNHCR melalui pintu belakang untuk menghindari media yang menunggu di luar, Hakpal mengatakan kepada CNN.

Dalam sebuah pernyataan, UNHCR mengatakan akan "menilai kebutuhannya akan perlindungan pengungsi internasional dan menemukan solusi segera untuk situasinya."

Keluarga Qunun belum dapat dimintai keterangan untuk menanggapi tuduhan tersebut.

Melarikan Diri dari Perjodohan?

Sebelumnya, Rahaf Mohammed al-Qunun mengatakan bahwa dia melarikan diri dari keluarganya saat bepergian di Kuwait akhir pekan lalu karena mereka melakukan pelecehan fisik dan psikologis terhadapnya. Dari Kuwait, Qunun terbang ke Bangkok untuk transit ke Australia.

Wanita berusia 18 tahun itu mengatakan bahwa dia berencana untuk mencari suaka di Australia. Ia mengaku khawatir akan dibunuh jika dia dikembalikan ke keluarganya.

Qunun menjelaskan bahwa langkahnya sempat terkendala di bandara Bangkok, ketika dirinya dihentikan oleh pejabat Arab Saudi dan Kuwait ketika dia tiba di bandara Suvarnabhumi di ibu kota Thailand dan dokumen perjalanannya diambil secara paksa darinya, sebuah klaim yang didukung oleh Human Rights Watch.

"Saya meminta .... pemerintah Thailand ... untuk menghentikan deportasi saya ke Kuwait," katanya di Twitter. "Saya meminta polisi di Thailand untuk memulai proses suaka saya (ke Australia)."

Dalam sebuah pernyataan, Human Rights Watch mendesak pemerintah Thailand untuk memberikan Qunun "akses tidak terbatas untuk mengajukan klaim pengungsi dengan perwakilan UNHCR di Bangkok."

"Perempuan Saudi yang melarikan diri dari keluarga mereka dapat menghadapi kekerasan hebat dari kerabat, perampasan kebebasan, dan kerugian serius lainnya jika dikembalikan atas kehendak mereka," kata Michael Page, wakil direktur Timur Tengah di Human Rights Watch.

"Pihak berwenang Thailand harus segera menghentikan deportasi apa pun, dan mengizinkannya melanjutkan perjalanannya ke Australia atau mengizinkannya tetap di Thailand untuk mencari perlindungan sebagai pengungsi."

Kepala keimigrasian Thailand, Surachet Hakpal, awalnya mengatakan pada hari Minggu bahwa Qunun ditolak masuk Thailand dan melakukan transit ke Australia karena ia tidak memiliki "dokumen lebih lanjut seperti tiket pulang atau uang", dan Thailand telah menghubungi "kedutaan Arab Saudi untuk berkoordinasi". Namun dia membantah remaja Saudi itu ditahan oleh pihak berwenang Thailand.

"Untuk memasuki negara kami, dia harus mematuhi peraturan kami ... ini urusan internal mereka (Arab Saudi). Kami hanya menjalankan tugas kami," katanya.

Hakpal juga mengatakan Qunun berusaha melarikan diri karena akan dijodohkan untuk dinikahkan oleh keluarganya.

Phil Robertson, wakil direktur Human Rights Watch untuk Asia, yang berbasis di Bangkok, mengatakan tidak ada negara yang boleh mengganggu hak anak berusia 18 tahun untuk bepergian ke tempat yang diinginkannya.

Robertson mengatakan kepada CNN bahwa Qunun "khawatir akan hidupnya jika dia kembali ke Arab Saudi dan keluarganya, yang secara fisik dan psikologis telah melecehkannya karena berani untuk menegaskan kemerdekaannya."

 

Simak video pilihan berikut:

2 of 2

Tanggapan Arab Saudi

Arab Saudi
Ilustrasi (AP Photo/Hassan Ammar)

Dalam sebuah pernyataan, Kementerian Luar Negeri Arab Saudi mengatakan bahwa Qunun "tidak memiliki reservasi kembali atau program wisata, yang memerlukan deportasi oleh pihak berwenang Thailand."

Kementerian menambahkan bahwa pejabat konsuler Saudi berada dalam "kontak terus-menerus dengan keluarganya" dan dia akan "dideportasi ke Negara Kuwait di mana keluarganya tinggal."

Namun, Kemlu Saudi membantah tuduhan bahwa paspornya telah disita.

Undang-undang perwalian ketat Arab Saudi mengatur banyak aspek kehidupan perempuan. Wanita tidak boleh menikah, bercerai, mendapatkan pekerjaan, menjalani operasi elektif atau bepergian tanpa izin wali pria mereka.

Ketika ditanya tentang Qunun dan undang-undang perwalian di Arab Saudi pada hari Senin, juru bicara PBB Stephane Dujarric mengatakan, "sebagai masalah prinsip HAM dunia, Sekretaris Jenderal percaya pada perlakuan yang sama antara pria dan wanita di bawah hukum."

Lanjutkan Membaca ↓