Setop Kekerasan oleh Geng Kriminal, Brasil Kirim Ratusan Tentara

Oleh Happy Ferdian Syah Utomo pada 06 Jan 2019, 12:03 WIB
Diperbarui 06 Jan 2019, 12:03 WIB
Petugas pemadam kebakaran berupaya memadamkan api akibat kerusuhan yang meluas di Kota Fortaleza di Brasil utara (AFP/Alex Gomez)

Liputan6.com, Fortaleza - Sekitar 300 tentara telah dikirim ke Kota Fortaleza di Brasil utara, guna mengatasi gelombang kekerasan kriminal yang telah berlangsung dalam beberapa hari terakhir.

Tentara Brasil akan berpatroli di sana dan di seluruh negara bagian Ceará, dalam upaya untuk menghentikan aksi penjarahan dan perusakan terhadap toko, bank, dan sarana transportasi publik.

Pengiriman ratusan tentara itu, sebagaimana dikutip dari BBC pada Minggu (6/1/2019), merupakan perintah dari Kementerian Kehakiman Brasil sebagai tindakan tegas terhadap puluhan serangan yang terjadi selama hampir sepekan.

Sebuah rilis video keamanan yang ditayangkan di televisi Brasil menunjukkan para geng kriminal membakar beberapa bangunan, termasuk kantor pemerintahan dan fasilitas publik.

Sekitar 50 tersangka yang diduga terkait dengan aksi kekerasan tersebut kini telah ditangkap.

Serangan itu adalah protes terhadap berbagai kebijakan baru yang lebih keras di penjara lokal, di mana sebagian besar diisi oleh anggota geng kriminal.

Otoritas di negara bagian Ceará memblokir sinyal ponsel di dalam penjara, dan juga mengakhiri kebijakan pemisahan narapidana berdasarkan afiliasi geng.

Pengerahan pasukan itu dilakukan hanya beberapa hari setelah pelantikan Presiden Jair Bolsonaro, yang terpilih dengan membawa janji untuk memerangi kejahatan di Brasil.

Bolsonaro dilaporkan memuji keputusan Menteri Kehakiman Sergio Moro untuk mengirim pasukan tentara sebagai "tepat, cepat dan efektif".

Sebelumnya, Moro diketahui berhasil memimpin penyelidikan besar-besaran terhadap korupsi Brasil yang dikenal sebagai Operasi Cuci Mobil.

 

Simak video pilihan berikut:

2 dari 2 halaman

Populasi Penjara Tertinggi Ketiga di Dunia

Ilustrasi penjara
Ilustrasi penjara (iStock)

Menurut catatan World Prison Brief, Brasil memiliki lebih dari 700.000 orang yang dihukum di balik jeruji besi. Ini adalah populasi penjara tertinggi ketiga di dunia setelah Amerika Serikat dan China.

Bolsonaro (63) memenangkan pemilu presiden dengan selisih yang lebar atas rival terdekatnya, Fernando Haddad dari Partai Buruh sayap kiri, pada 28 Oktober lalu.

Oleh kubu oposisi, Bolsonaro dinilai sebagao sosok pemecah belah karena ucapan rasis, homofobik, dan misoginistiknya telah membuat marah banyak orang.

Dalam pidato pelantikannya, Bolsonaro menjanjikan dukungan bagi militer dan polisi, dengan mengatakan: "Moto nasional adalah ketertiban dan kemajuan. Tidak ada masyarakat yang dapat berkembang tanpa menghargai ini".

Dalam referensi yang jelas untuk kontrol senjata, dia berkata: "Warga negara yang baik perlu memiliki sarana pertahanan diri".

Pernyataan di atas diperkuat dengan kicauan Bolsonaro di Twitter baru-baru ini, di mana dia akan mengeluarkan dekrit untuk mengizinkan warga tanpa catatan kriminal untuk memiliki senjata.

Sebelum menjadi politikus, Bolsonaro bertugas di militer Brasil, di mana ia sempat menjadi bagian dari pasukan penerjun payung, sebelum kemudian naik pangkat menjadi kapten.

Dia diketahui tetap menjalin hubungan dekat dengan angkatan bersenjata Brasil.

Lanjutkan Membaca ↓