Lebih dari Sepekan, Para Dokter Gelar Aksi Protes Besar-besaran di Sudan

Oleh Happy Ferdian Syah Utomo pada 28 Des 2018, 08:31 WIB
Suasana mencekam ketika rakyat sipil berlarian menyelamatkan diri dari kepungan perang Sudan Selatan (AFP/Justin Lynch)

Liputan6.com, Khartoum - Mahasiswa kedokteran di Universitas Gadarif di Sudan Timur bergabung dengan dokter di sebuah rumah sakit pusat pada Rabu, 26 Desember, untuk menuntut pengunduran diri Presiden Omar al-Bashir, ketika protes antipemerintah memasuki hari kedelapan.

Para dokter Sudan, yang melancarkan aksi protes sejak hari Senin, meminta anggota profesi lain untuk bergabung untuk mendesak turunnya pemerintah yang berkuasa saat ini.

Dikutip dari Al Jazeera pada Kamis (27/12/2018), para mahasiswa kedokteran meneriakkan slogan-slogan menentang pemerintah ketika mereka meninggalkan kampus dan memasuki rumah sakit terdekat, kata para saksi mata.

Pasukan keamanan Sudan merespons dengan menutup rumah sakit, kata saksi mata lainnya.

"Protes yang dilakukan oleh mahasiswa kedokteran dan dokter Universitas Gadarif adalah bagian dari gelombang demonstrasi yang terus berlanjut sepanjang pekan ini," kata Altaher al-Mardi, kontributor Al Jazeera melaporkan dari ibu kota Khartoum.

"Para siswa dan dokter menyatakan dukungan mereka untuk sesama demonstran, serta melontarkan kecaman atas penggunaan kekuatan penuh oleh otoritas keamanana," tambahnya.

Sementara itu, Asosiasi Dokter Sudan merilis sebuah pernyataan yang mengatakan sembilan pengunjuk rasa telah terluka selama demonstrasi di ibu kota Khartoum pada Selasa, 25 Desember. Salah satu pemrotes berada dalam kondisi kritis, menurut pernyataan itu.

Polisi anti huru-hara di Khartoum menggunakan amunisi dan gas air mata, dalam upaya membubarkan demonstran yang berbaris menuju istana presiden pada hari Selasa.

Video yang diunggah online tampak menunjukkan kerumunan beberapa ratus orang menuju istana.

Juga pada hari Rabu, sebuah koalisi payung dari serikat profesional independen mengatakan seorang demonstran yang terluka telah meninggal karena luka-lukanya, lapor kantor berita Associated Press.

Korban, yang diidentifikasi sebagai Abuzar Ahmed, dilaporkan ditembak di kepalanya pekan lalu di Gadarif.

Setidaknya 12 pengunjuk rasa telah terbunuh, kala demonstrasi mengecam kenaikan harga dan kesengsaraan ekonomi yang meluas, mencengkeram Sudan sejak 19 Desember.

Protes sejak itu meningkat menjadi seruan agar Bashir turun dari kursi kepresidenan.

Di lain pihak, Amnesty International mengatakan memiliki "laporan yang dapat dipercaya" bahwa polisi Sudan telah membunuh 37 demonstran sejak protes dimulai.

 

Simak video pilihan berikut: 

 

2 of 2

Penyelidikan Kasus Pembunuhan Demonstran

Warga kamp penampungan pengungsi di Bentui, Sudan Selatan, antri untuk mengisi kontainer mereka dengan air, 2 Juli 2014 (AP)
Warga kamp penampungan pengungsi di Bentui, Sudan Selatan, antri untuk mengisi kontainer mereka dengan air, 2 Juli 2014 (AP)

Sementara itu, partai Islamis papan atas Sudan, yang juga merupakan anggota pemerintahan Bashir, menyerukan penyelidikan atas pembunuhan demonstran.

Pada konferensi pers di Khartoum, pejabat senior Partai Kongres Populer Idris Suleman mengatakan laporan partainya sendiri mengindikasikan bahwa 17 orang tewas, dan 88 lainnya cedera dalam demonstrasi itu.

Mengutuk pembunuhan, partai tersebut mendesak pihak berwenang untuk menemukan mereka yang bertanggung jawab.

"Kami menyerukan kepada pemerintah untuk memulai penyelidikan atas pembunuhan itu," kata Suleman. "Mereka yang melakukan pembunuhan ini harus bertanggung jawab."

Polisi dan petugas keamanan tetap dikerahkan di beberapa bagian ibukota Sudan pada hari Rabu.

Bashir telah berusaha untuk menekan protes dengan bersumpah untuk "mengambil reformasi nyata" demi mengatasi kesengsaraan ekonomi Sudan.

Namun pernyataannya tampaknya tidak banyak membantu menenangkan para pengunjuk rasa yang marah karena kesulitan keuangan.

Sudan terperosok dalam kesulitan ekonomi, termasuk kekurangan mata uang asing yang akut dan inflasi yang melonjak.

Krisis telah memburuk meskipun pencabutan embargo ekonomi oleh Amerika Serikat pada Oktober 2017.

Inflasi hampir mencapai 70 persen dan mata uang pound sterling Sudan anjlok nilainya, sementara kekurangan roti dan bahan bakar telah dilaporkan di beberapa kota, termasuk Khartoum.

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait