Mengapa Gunung Berapi Anak Krakatau Bisa Menimbulkan Tsunami?

Oleh Afra Augesti pada 24 Des 2018, 08:30 WIB
Diperbarui 26 Des 2018, 08:13 WIB
Penampakan jejak abu vulkanis Gunung Anak Krakatau yang tertangkap kamera satelit NASA pada 24 September 2018 (NASA)

Liputan6.com, London - Kemarin, tepat pada 22 Desember 2018 sekitar  pukul 21.00 WIB, Ibu Pertiwi kembali dirundung duka. Musibah tsunami yang terjadi di Selat Sunda telah menelan korban jiwa.

Pinggiran pantai Anyer, Carita, hingga Tanjung Lesung (Banten), porak poranda. Menurut data yang dirilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), nyawa dari 222 orang dilaporkan melayang, 843 luka-luka dan 28 belum ditemukan. Jumlah tersebut bahkan diperkirakan akan terus bertambah.

Tidak ada peringatan ketika air laut tiba-tiba menyapu bibir pantai pada malam itu. Gempa pun tidak terasa. Namun, Badang Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengatakan, gelombang tinggi tersebut diperkirakan berasal dari aktivitas intensif Anak Krakatau --gunung berapi yang kini terus menunjukkan keaktifannya-- dan longsoran materialnya.

Tetapi, gemuruh dan letusan Anak Krakatau telah digambarkan oleh para ahli lokal sebagai skala yang relatif rendah dan semi kontinu. Dengan kata lain, itu tidak terlalu berbahaya.

Kendati demikian, hal yang perlu diketahui oleh masyarakat adalah bahwa gunung berapi yang berada di laut memiliki kemampuan untuk menghasilkan gelombang yang besar.

Citra satelit Gunung Anak Krakatau yang dirilis oleh NASA pada 23 Desember menunjukkan dengan jelas adanya keruntuhan di sisi barat-barat daya Anak Krakatau selama erupsi. Erupsi ini mengirim jutaan ton puing berbatu ke laut, sehingga mendorong gelombang pasang ke segala arah.

Citra satelit NASA di atas Gunung Anak Krakatau per tanggal 24 September 2018. (earthobservatory.nasa.gov)

Seorang ahli gunung berapi, Profesor Andy Hooper dari Leeds University, Inggris, menerangkan bahwa ia memiliki sedikit keraguan ketika memeriksa gambar-gambar dari radar pesawat ruang angkasa milik Eropa: Sentinel-1.

"Ketika muncul peningkatan ukuran kawah, ada fitur gelap baru di sisi barat (gunung) yang menunjukkan kerak sisi curam dalam bayangan, mungkin karena runtuh. Serta ada perubahan di garis pantai," ujarnya, sebagaimana dikutip dari BBC, Senin (24/12/2018).

Perbandingan antara citra satelit NASA dan foto-foto dari Sentinel, yang diperoleh sebelum tsunami, pun ia jabarkan.

Akan tetapi, anatomi yang tepat dari peristiwa ini tidak akan diketahui sampai tim peneliti dapat masuk ke area gunung berapi untuk melakukan survei secara akurat.

Sementara itu, Andy menambahkan bahwa longsor gunung lebih lanjut, bisa memicu lebih banyak tsunami.

Satu kelompok ilmuwan bahkan mencontohkan apa yang akan terjadi jika bagian barat daya --sisi Anak Krakatau yang saat ini dianggap paling tidak stabil-- runtuh.

"Gelombang yang tingginya mencapai puluhan meter akan menghantam pulau-pulau terdekat seperti Sertung, Panjang dan Rakata dalam waktu kurang dari satu menit," kata tim tersebut.

Namun, ketika gelombang-gelombang ini menyebar melintasi Selat Sunda, gelombang-gelombang itu akan berhamburan hingga mencapai ketinggian satu hingga tiga meter.

Wilayah ini diprediksi akan menjadi subyek pengawasan ketat dalam beberapa minggu ke depan.

Andy menambahkan, tsunami yang didorong oleh tanah longsor atau batuan dari gunung berapi, bisa sangat besar. Dalam catatan geologis, material vulkanik inilah yang bertanggung jawab atas terjadinya bencana alam dahsyat.

Baru-baru ini di Greenland pada tahun 2017, gelombang laut setinggi 100 meter muncul karena adanya longsoran batu yang memasuki fjord, di barat negara itu.

"Dan masih ada beberapa kemungkinan bahwa tsunami yang terjadi pada September di Sulawesi, diperkuat oleh perpindahan massa sedimen, baik yang memasuki air dari pantai atau menuruni lereng bawah laut di Teluk Palu," pungkas Andy.

 

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 of 2

Kata Peneilti Singapura

Tsunami Anyer
Kendaraan melintas di antara puing-puing setelah tsunami menerjang kawasan Anyer, Banten, Minggu (23/12). Tsunami menerjang pantai di Selat Sunda, khususnya di daerah Pandenglang, Lampung Selatan, dan Serang. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sementara itu, peneliti utama di Earth Observatory of Singapore, Profesor Benjamin P Horton, juga turut berkomentar atas musibah tsunami Anyer.

"Menurut mekanisme ini, gelombang tsunami dihasilkan oleh perpindahan tiba-tiba air yang disebabkan oleh ledakan vulkanik, oleh kegagalan lereng gunung berapi, atau dengan ledakan dan keruntuhan atau menelan ruang magmatik vulkanik," kata Profesor Benjamin seperti dikutip dari Channel NewsAsia, Minggu, 23 Desember 2018.

Menurut Pusat Informasi Tsunami Internasional, meskipun relatif jarang terjadi, letusan gunung berapi bawah laut dapat menyebabkan tsunami karena perpindahan air atau kemiringan lereng yang tiba-tiba.

Anak Krakatau adalah pulau vulkanik kecil yang muncul dari laut setengah abad setelah letusan mematikan Krakatau tahun 1883 yang menewaskan lebih dari 36.000 orang.

Menurut Badan Geologi Indonesia, Anak Krakatau telah menunjukkan tanda-tanda aktivitas tinggi selama berhari-hari, memuntahkan gumpalan abu ribuan meter ke udara. Gunung berapi itu meletus lagi pada Sabtu 22 Desember setelah pukul 21.00.

Sebuah letusan tepat sebelum 16.00 terjadi sebelumnya sekitar 13 menit, memicu gumpalan abu yang membubung ratusan meter ke angkasa.

Lanjutkan Membaca ↓