Presiden Afghanistan Tunjuk 2 Pengecam Pakistan Jadi Menteri Penting

Oleh Liputan6.com pada 24 Des 2018, 11:00 WIB
Diperbarui 24 Des 2018, 11:00 WIB
Presiden Afghanistan Ashraf Ghani
Perbesar
Presiden Afghanistan Ashraf Ghani (AP/Wakil Kohsar)

Liputan6.com, Kabul - Presiden Afghanistan Ashraf Ghani menunjuk dua tokoh oposisi garis keras yang kerap menentang Pakistan ke posisi keamanan penting, yang dinilai berpotensi memperumit upaya Amerika menghidupkan kembali perundingan damai dengan Taliban, menjelang penarikan mundur sekitar tujuh ribu personil pasukan Amerika pada musim panas mendatang.

Dikutip dari VOA Indonesia, Senin (24/12/2018), pengumuman itu dilakukan sang Presiden Afghanistan pada Minggu 23 Desember waktu setempat.

Ghani mengumumkan bahwa Amrullah Saleh akan menjadi Menteri Dalam Negeri, sementara Asadullah Khaleed menduduki posisi Menteri Pertahanan.

Keduanya adalah mantan kepala intelijen yang menilai Pakistan bersalah atas bangkitnya kembali Taliban beberapa tahun terakhir. Mereka bahkan menyerukan agar Pakistan dinyatakan sebagai negara yang mensponsori teror.

Kendati demikian penunjukkan ini masih harus disetujui oleh parlemen Afghanistan.

Pakistan, yang memiliki pengaruh terhadap Taliban, diketahui ikut serta dalam upaya terbaru Amerika untuk menghidupkan kembali proses perdamaian.

 

 

Saksikan juga video berikut ini:

2 dari 2 halaman

Kerja Sama Kontraterorisme 3 Negara

(kiri ke kanan) Menteri Luar Negeri China Wang Yi, Menteri Luar Negeri Afghanistan Salahuddin Rabbani, dan Menteri Luar Negeri Pakistan Shah Mehmood Qureshi (AP PHOTO)
Perbesar
(kiri ke kanan) Menteri Luar Negeri China Wang Yi, Menteri Luar Negeri Afghanistan Salahuddin Rabbani, dan Menteri Luar Negeri Pakistan Shah Mehmood Qureshi (AP PHOTO)

Sementara itu, China, Afghanistan, dan Pakistan belum lama ini menandatangani nota kesepahaman trilateral untuk meningkatkan kerja sama kontraterorisme dan keamanan. Teken itu dilakukan pada Sabtu 16 Desember 2018 waktu setempat.

Ketiga negara juga secara kolektif menegaskan seruan kepada Taliban untuk bergabung dalam pembicaraan perdamaian dengan Afghanistan, demikian seperti dikutip dari Voice of America (VOA), Senin 17 Desember 2018.

Para menteri luar negeri ketiga negara bertemu di Kabul, untuk putaran kedua perundingan, di mana mereka menerapkan pemahaman dan juga berjanji untuk bekerja bersama untuk konektivitas regional, serta pembangunan ekonomi.

Beijing memulai platform dan menjadi tuan rumah pertemuan perdana tahun lalu dengan misi untuk membantu meredakan ketegangan dan kecurigaan yang telah lama menjangkiti hubungan Afghanistan dengan Pakistan.

Analis isu China telah mengatakan, ketegangan antara kedua negara telah menghambat upaya untuk memerangi terorisme, mempromosikan perdamaian regional, serta konektivitas ekonomi. Tensi mereka, di lain hal, juga merugikan China --yang bertetangga dengan Afghanistan dan Pakistan-- sehubungan dengan isu terorisme.

Menteri Luar Negeri China Wang Yi mengatakan pada konferensi pers bersama setelah pertemuan itu bahwa negaranya akan melanjutkan upaya diplomatik untuk membantu meningkatkan hubungan tegang Kabul dengan Islamabad untuk melanjutkan misi perdamaian dan visi pembangunan kawasan yang digagas Tiongkok.

Menteri Luar Negeri Pakistan Shah Mehmood Qureshi mencatat entitas teroris--seperti Islamic State (IS) di Afghanistan dan Pakistan, Gerakan Islam Turkistan Timur anti-China (ETIM) dan Gerakan Islam Uzbekistan (IMU)--dapat mengancam perdamaian regional dan hanya bisa dikalahkan melalui upaya bersama.

"Ini adalah kemajuan dan akan membantu kami mencapai apa yang ingin kami capai bersama," kata Qureshi kepada wartawan, mengomentari penandatanganan kesepahaman itu.

Para pejabat China khawatir bahwa ketidakstabilan Afghanistan yang berkelanjutan dapat mendorong ETIM untuk menimbulkan masalah di wilayah Xinjiang Barat, China, yang berbatasan dengan Afghanistan dan Pakistan.

Baca selengkapnya di sini.

 

Lanjutkan Membaca ↓