Menteri Pertahanan AS Mengundurkan Diri, Berselisih dengan Donald Trump?

Oleh Happy Ferdian Syah Utomo pada 21 Des 2018, 12:33 WIB
Diperbarui 21 Des 2018, 12:33 WIB
Menteri Pertahanan AS Jim Mattis (AP Photo)
Perbesar
Menteri Pertahanan AS Jim Mattis (AP Photo)

Liputan6.com, Washington DC - Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Jim Mattis mengundurkan diri dari jabatannya dengan mengumumkan "pensiun dini", pada Kamis 20 Desember 2018. Dia mengatakan akan meninggalkan jabatannya pada Februari mendatang.

Mattis mengumumkan hal tersebut, sehari setelah kabar kontroversial bahwa Donald Trump segera menarik seluruh pasukan AS dari Suriah.

Dikutip dari BBC pada Jumat (21/12/2018), Trump mengetwit bahwa Jenderal Mattis adalah sosok yang berjasa dalam mendapatkan kesepakatan sekutu dan negara-negara lain, untuk membayar lebih pada bagian kewajiban militer mereka.

Namun, Donald Trump tidak menyebut siapa yang akan menggantikan posisi Jim Mattis. Dia mengatakan akan melakukan penunjukkan segera.

Dalam surat pengunduran dirinya, Mattis menulis pandangannya tentang "memperlakukan sekutu dengan hormat" dan menggunakan "semua alat kekuasaan Amerika untuk pertahanan bersama".

"Karena Anda (Trump) memiliki hak untuk memiliki menteri pertahanan yang pandangannya lebih selaras dengan Anda, saya yakin adalah tepat bagi saya untuk mundur," lanjut Mattis.

Menanggapi berita itu, Senator Republik Lindsey Graham mengatakan bahwa Mattis "harus bangga dengan layanan yang ia berikan kepada Presiden (Trump) dan AS".

"Dia telah berjuang melawan milisi radikal selama beberapa dekade, serta memberikan nasihat militer yang baik dan etis kepada Presiden Trump," twit Graham.

Selain itu, Graham yang juga duduk di komite layanan bersenjata AS, mengkritik Donald Trump atas penarikan pasukan AS dari Suriah, di mana menyebutnya seperti "kesalahan besar Obama".

Dia memperingatkan bahwa keputusan itu memiliki "konsekuensi yang menghancurkan", baik di Suriah maupun di luar. Selain itu, Graham juga khawatir bahwa kesepakatan tersebut berarti menyerahkan pengaruh besar ke ke Rusia dan Iran.

 

Simak video pilihan berikut: 

 

2 dari 2 halaman

Kontroversi Penarikan Pasukan AS

Pasukan demokrasi Suriah dan militer AS melakukan patroli keamanan di Kota Al-Darbasiyah (AFP/Delil Souleiman)
Perbesar
Pasukan demokrasi Suriah dan militer AS melakukan patroli keamanan di Kota Al-Darbasiyah (AFP/Delil Souleiman)

Donald Trump mengumumkan keputusannya untuk menarik sekitar 2.000 pasukan AS dari Suriah pada Rabu 19 Desember, menegaskan bahwa ISIS telah dikalahkan di sana.

Berita itu, yang disambut dengan kritik keras, bertentangan dengan pendapat Jim Mattis, yang memperingatkan bahwa penarikan dini dari Suriah akan menjadi "kesalahan strategis".

Pasukan AS telah membantu membersihkan sebagian besar wilayah timur laut Suriah dari pengaruh ISIS. Meski begitu, kelompok militan tersebut masih memiliki beberapa kantong pertahanan aktif.

Di lain pihak, Pentagon mengatakan penarikan tersebut sebagai transisi ke "fase operaso berikutnya" dalam upaya melenyapkan ISIS. Namun, mereka tidak memberikan rincian lebih lanjut akan hal itu.

Donald Trump, yang telah lama berjanji untuk menarik pasukan AS dari Suriah, mengatakan di Twitter bahwa sudah waktunya untuk membawa mereka pulang setelah "kemenangan bersejarah".

Dalam tweet selanjutnya, Trump membela keputusannya dan mengatakan itu seharusnya tidak mengejutkan.

Lanjutkan Membaca ↓