Jasad hingga Harta Karun, Ini 3 Temuan Tak Terduga soal Tsunami Aceh

Oleh Teddy Tri Setio Berty pada 20 Des 2018, 20:40 WIB
Diperbarui 22 Des 2018, 20:13 WIB
Penemuan 30 Jenazah Korban Tsunami Aceh Bikin Kaget Warga

Liputan6.com, Aceh - Sejarah mengingat hari saat Bumi berguncang hebat. Pada 26 Desember 2004, gempa bumi bawah laut berkekuatan 9,1 Skala Richter mengguncang Samudera Hindia di lepas pantai Sumatera Utara, Indonesia.

Lindu memicu tsunami 30 meter. Lebih dari 230.000 orang tewas dan jutaan lainnya kehilangan tempat tinggal.

Setelah lebih dari satu dekade berlalu, kisah tsunami Aceh masih akan selalu teringat. Bahkan, ada sejumlah temuan yang sempat bikin geger yang menguak betapa pedihnya bencana itu.

Seperti dikutip dari berbagai sumber, Kamis (20/12/2018) berikut tiga temuan tak terduga dari tsunami Aceh:

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

 

2 dari 4 halaman

1. Temuan Makam Massal

Penemuan 30 Jenazah Korban Tsunami Aceh Bikin Kaget Warga
Warga membawa sisa-sisa korban tsunami dan gempa 2004 yang ditemukan di Kajhu, Provinsi Aceh (19/12). Penemuan korban tersebut membuat warga sekitar kaget dan berbondong-bondong menggali tanah di area sekitar. (AFP Photo/Chaideer Mahyuddin)

Menjelang 14 tahun peringatan gempa dan tsunami di Aceh, warga Desa Kajhu, Kecamatan Baitussalam, Kota Banda Aceh, digegerkan penemuan puluhan jenazah. Diduga, jasad itu merupakan korban tragedi gempa dan tsunami.

Penemuan jenazah yang jumlahnya mencapai 40 kantong itu berawal saat beberapa pekerja septic tank melakukan penggalian di sekitar kompleks perumahan Kajhu, Selasa, 18 Desember 2018, sore.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) Ahmad menjelaskan, puluhan jenazah tersebut kemungkinan besar korban gempa-tsunami pada 26 Desember 2004 yang dikubur secara massal di Dusun Lamseunong, Desa Kajhu. Namun, warga setempat tidak mengetahuinya.

"Kemarin sore pukul 17.00 WIB sekitar 40 kantong jenazah dan semuanya sudah dievakuasi, tetapi belum ada data yang akurat mengenai jumlah kantong yang masih akan ditemukan karena masih dalam proses penggalian," kata Dadek, kepada Liputan6.com.

3 dari 4 halaman

2. Harta Karun yang Tersibak Tsunami Aceh

Penemun jenazah korban tsunami di Desa Kajhu, Kecamatan Baitussalam, Kota Banda Aceh. (Liputan6.com/Rino Abonita)
Penemun jenazah korban tsunami di Desa Kajhu, Kecamatan Baitussalam, Kota Banda Aceh. (Liputan6.com/Rino Abonita)

Suatu hari, seorang wanita bernama Fatimah menyisiri rawa-rawa di Desa Gampong Pande, Aceh. Ia sedang mencari tiram. Tiba-tiba matanya melihat benda kotak yang teronggok di antara kubangan lumpur.

Kotak itu ditutupi koral dan tiram. Saat memukul permukaannya untuk mengambil tiram, benda itu tiba-tiba terbuka.

Perempuan itu kaget bukan kepalang. Sebab, isi kota tersebut ternyata koin-koin emas yang bertuliskan aksara Arab.

"Koin-koin itu tumpah ketika ia membuka peti itu," kata Abdullah, penduduk Gampong Pande, seperti dikutip dari Daily Mail, yang memuat artikel itu pada 2013.

Harta karun tersebut ditemukan dekat kuburan kuno yang keberadaannya dikuak gelombang tsunami dahsyat yang melantak Aceh pada 2004. Koin yang ditemukan diperkirakan berasal antara tahun 1200 hingga 1600 Masehi.

 

4 dari 4 halaman

3. Gua Perekam Riwayat Tsunami

Penemuan 30 Jenazah Korban Tsunami Aceh Bikin Kaget Warga
Warga melihat jenazah korban tsunami dan gempa 2004 di Kajhu, Aceh (19/12). Sekitar 30 jenazah korban tsunami Aceh dan gempa bumi ditemukan penduduk desa dekat lokasi konstruksi kompleks perumahan yang baru dibangun. (AFP Photo/Chaideer Mahyuddin)

Saat bencana mahadahsyat terjadi menimpa Aceh, tak ada satu pun catatan sejarah yang merekam gempa dahsyat serupa pada masa lalu. Ternyata, bukan manusia yang menyimpan riwayatnya, melainkan alam.

Ilmuwan menemukan sebuah gua di pesisir barat laut Sumatera di Aceh, yang secara mengagumkan merekam kejadian tsunami dahsyat yang pernah terjadi di Samudera Hindia sejak ribuan tahun lalu.

Gua kapur yang berada dekat Banda Aceh ternyata menyimpan deposit pasir yang dielak paksa oleh gelombang raksasa--yang dipicu gempa selama ribuan tahun. Para ahli menggunakan situs itu untuk membantu menentukan frekuensi bencana, seperti peristiwa 26 Desember 2004.

Caranya, dengan melakukan pengukuran usia sedimen tsunami yang berada di dalam gua. Yang pola lapisannya mudah dilihat, di antara lapisan kotoran kelelawar.

"Pasir tsunami terlihat jelas karena dipisahkan lapisan kotoran kelelawar. Tak ada hal yang membingungkan saat penentuan lapisan," kata ahli Dr Jessica Pilarczyk dalam pertemuan terbesar ahli geologi dunia, American Geophysical Union (AGU) Fall Meeting di San Francisco, seperti Liputan6.com kutip dari BBC.

Dr Jessica Pilarczyk adalah bagian dari tim riset yang dipimpin Prof Charles Rubin dari Earth Observatory of Singapore--sebuah institut di Nanyang Technological University Singapura.

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait