2 Pembunuh Jamal Khashoggi Pernah ke Israel untuk Negosiasi Alat Mata-Mata?

Oleh Rizki Akbar Hasan pada 20 Des 2018, 14:55 WIB
Diperbarui 20 Des 2018, 14:55 WIB
Jamal Khashoggi, sosok wartawan Arab Saudi yang tewas di konsulat negaranya di Istanbul, Turki, 2 Oktober 2018 (AP)
Perbesar
Jamal Khashoggi, sosok wartawan Arab Saudi yang tewas di konsulat negaranya di Istanbul, Turki, 2 Oktober 2018 (AP)

Liputan6.com, Riyadh - Dua pejabat senior Arab Saudi yang dipecat karena diduga terlibat dalam pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi, ternyata dikabarkan pernah mewakili Putra Mahkota untuk melawat ke Israel guna menegosiasikan prospek transaksi teknologi spionase.

Kabar itu dilaporkan oleh surat kabar Amerika Serikat The Wall Street Journal pertengahan pekan ini, mengutip sumber-sumber anonim yang akrab dengan hal tersebut, demikian seperti dilansir The Middle East Eye, Kamis (20/12/2018).

Menurut sumber-sumber surat kabar itu, Mayor Jenderal Ahmed al-Assiri, mantan wakil kepala intelijen Saudi yang dipecat oleh Riyadh pada Oktober, mengunjungi Israel untuk membahas bagaimana Arab Saudi dapat mengambil manfaat dari teknologi intelijen Israel.

The WSJ mengatakan bahwa satu lagi pembantu terdekat Putra Mahkota Mohammed bin Salman, Saud al-Qahtani, yang juga dipecat atas pembunuhan Jamal Khashoggi, juga terlibat dalam upaya-upaya rahasia untuk meningkatkan hubungan Saudi-Israel lewat transaksi teknologi spionase.

Seorang sumber mengatakan kepada The WSJ bahwa Qahtani, penasihat media putra mahkota, mengeluarkan arahan kepada pers Saudi untuk membantu melunakkan citra Israel dan terlibat dalam pembelian teknologi spyware dari perusahaan Israel.

"Qahtani adalah pemain kunci dalam semua ini," kata seorang pejabat Saudi. "Dia menginginkan yang terbaik dan dia tahu bahwa perusahaan Israel menawarkan yang terbaik."

Sementara itu, The WSJ juga melaporkan bahwa Amerika Serikat telah menjadi kekuatan pendorong dalam upaya meningkatkan hubungan antara Israel dan Arab Saudi, karena pemerintahan Presiden Donald Trump telah mempromosikan hubungan yang kuat antara pemerintah Israel dan negara-negara Teluk sebagai cara untuk melawan Iran.

Hubungan Saudi-Israel telah berkembang di sektor teknologi, keamanan dan bisnis.

Pemerintah Saudi telah menimbang prospek investasi senilai US$ 100 juta di berbagai perusahaan teknologi Israel, The WSJ melaporkan, mengutip orang-orang yang akrab dengan kesepakatan itu. Sementara perusahaan Israel melihat Arab Saudi memiliki pasar yang menguntungkan untuk produk mereka.

Namun, kemarahan global setelah pembunuhan Jamal Khashoggi telah menjadi kemunduran bagi hubungan Saudi-Israel yang sedang berkembang, karena Riyadh tidak ingin terperosok dalam skandal lain.

"Semuanya telah mendingin tepat setelah pembunuhan Khashoggi," kata seorang pejabat senior pemerintah Saudi kepada The WSJ. "Mereka tak ingin ini muncul sekarang dan menyebabkan reaksi lain."

 

Simak video pilihan berikut:

2 dari 2 halaman

Laporan dari Pembelot Saudi di Kanada

Foto Jamal Khashoggi, wartawan Arab Saudi yang dibunuh di Istanbul (AP/Jacquelyn Martin)
Perbesar
Foto Jamal Khashoggi, wartawan Arab Saudi yang dibunuh di Istanbul (AP/Jacquelyn Martin)

Sementara itu, awal bulan ini, seorang pembangkang Saudi di Kanada mengatakan dia menggugat sebuah perusahaan perangkat lunak Israel yang katanya membantu Riyadh meretas ponselnya untuk memata-matai korespondensinya dengan Jamal Khashoggi, yang dibunuh di konsulat Saudi di Istanbul pada 2 Oktober.

Pembangkang Saudi, Omar Abdulaziz, adalah seorang kritikus terkemuka terhadap pemerintah Arab Saudi dan putra mahkota kuatnya, Pangeran Mohammed bin Salman.

Dia menuduh bahwa perusahaan Israel NSO group membantu Riyadh meretas ponselnya, yang memungkinkan pemerintah Saudi untuk memantau pesan Whatsapp antara dirinya dan Khashoggi, beberapa pekan sebelum kematian wartawan.

Pesan WhatsApp mereka, yang Abdulaziz bagikan dengan CNN, melukiskan gambaran dari keduanya menciptakan strategi untuk membangun oposisi terhadap bin Salman.

Lanjutkan Membaca ↓