Inggris Tolak Klaim Donald Trump yang Sebut ISIS Sudah Kalah di Suriah

Oleh Rizki Akbar Hasan pada 20 Des 2018, 16:21 WIB
Diperbarui 20 Des 2018, 20:48 WIB
Operasi angkatan bersenjata pemerintah Suriah di benteng terakhir ISIS di Deir ez-Zor (AFP)

Liputan6.com, London - Pemerintah Inggris telah membantah klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa ISIS telah dikalahkan di Suriah --sebuah klaim yang memicunya untuk menarik pasukan AS dari negara yang dilanda perang menahun itu.

Sebelumnya, Trump mengisyaratkan bahwa pasukan AS dapat menarik diri dari Suriah, mengatakan bahwa penanganan kelompok militan ISIS adalah "satu-satunya alasan" bagi tentara Amerika untuk berada di Suriah.

Namun seorang juru bicara pemerintah Inggris menjelaskan, ancaman yang ditimbulkan oleh ISIS masih tersisa, sementara menteri junior Kementerian Pertahanan Inggris Tobias Ellwood menyebut bahwa kelompok teroris itu masih "sangat hidup," demikian seperti dikutip dari The Guardian, Kamis (20/12/2018).

Inggris adalah bagian dari koalisi pimpinan AS yang melakukan serangan udara terhadap ISIS di Suriah.

Ketidaksetujuan Inggris, terkhusus menteri Ellwood, terhadap rencana Trump terlihat dalam unggahan Twitter keduanya.

Trump mengunggah twit pada Rabu: "Kami telah mengalahkan ISIS di Suriah, satu-satunya alasan saya berada di sana selama menjabat."

Ellwood menjawab: "Saya sangat tidak setuju. Itu (ISIS) telah berubah menjadi bentuk ekstremisme lain dan ancamannya sangat hidup."

Sedangkan pada kesempatan terpisah, seorang juru bicara pemerintah Inggris mengatakan bahwa ISIS, atau Daesh, masih merupakan ancaman. "Koalisi global terhadap Daesh telah membuat kemajuan besar."

"Tapi masih banyak yang harus dilakukan dan kita tidak boleh melupakan ancaman mereka. Bahkan tanpa wilayah, Daesh akan tetap menjadi ancaman. Sebagaimana telah dijelaskan oleh Amerika Serikat, perkembangan di Suriah ini tidak menandakan berakhirnya koalisi global atau kampanyenya. Kami akan terus bekerja dengan anggota koalisi untuk mencapai ini."

"Kami tetap berkomitmen pada koalisi global dan kampanye untuk menolak wilayah ISIS dan memastikan kekalahannya yang abadi, bekerja bersama mitra regional kami yang kritis di Suriah dan sekitarnya. Ketika situasi di lapangan berkembang, kami akan terus mendiskusikan bagaimana kami mencapai tujuan ini dengan mitra koalisi kami, termasuk AS."

Pemerintahan Trump diperkirakan akan menarik semua sekitar 2.000 pasukan Amerika dari Suriah. Perencanaan penarikan telah dimulai dan pasukan akan mulai pergi secepat mungkin.

Keputusan itu menggarisbawahi pembagian antara Trump dan penasihat militernya, yang telah mengatakan dalam beberapa pekan terakhir bahwa kantong militan ISIS tetap ada dan kebijakan AS adalah menjaga pasukan tetap di tempatnya sampai kelompok itu diberantas.

Pasukan khusus Inggris diyakini berada di Suriah, meskipun pemerintah tidak pernah berkomentar mengenai penempatan mereka.

Tom Tugendhat, ketua komite pemilihan urusan luar negeri Inggris, mengatakan langkah Trump adalah kejutan.

"Ini adalah operasi yang dilakukan AS, dan melakukannya secara efektif, tidak hanya di Suriah tetapi untuk mempertahankan dukungan bagi pemerintah di Irak juga," katanya kepada Channel 4 News.

"Namun, apa yang kami coba baca di sini adalah intrik internal Gedung Putih dan Pentagon. Cukup jelas bahwa kami mendapat indikasi berbeda yang datang dari Menteri Pertahanan AS Jim Mattis dan Presiden Trump."

Pada Rabu 19 Desember, Kementerian Pertahanan AS merilis sebuah pernyataan yang mengatakan telah memulai proses penarikan pasukan AS dari Suriah, tetapi tampaknya menentang pernyataan Trump bahwa kampanye ISIS sudah berakhir.

"Koalisi telah membebaskan wilayah yang dikuasai ISIS, tetapi kampanye melawan ISIS belum berakhir," kata juru bicara Pentagon Dana White dalam sebuah pernyataan.

 

Simak video pilihan berikut:

 

2 of 2

Pasukan Pro-AS di Suriah: Donald Trump Berkhianat ...

Bendera Suriah (AP/Hassan Ammar)
Bendera Suriah (AP/Hassan Ammar)

Pasukan sekutu Amerika Serikat di Suriah melihat keputusan terbaru Presiden Donald Trump pada 19 Desember 2018 untuk menarik militer dari negara yang dilanda perang itu sebagai sebuah "tusukan di belakang."

Menurut laporan lembaga pemantau Syrian Observatory for Human Rights, kabar itu telah sampai ke telinga Syrian Democratic Forces (SDF) di lapangan, di mana militer AS telah memberitahu mitranya bahwa mereka akan menarik pasukan dari wilayah yang dikuasai di Suriah Utara, di samping daerah-daerah di mana pertempuran melawan ISIS masih berlangsung, demikian seperti dikutip dari The National, Kamis (20/12/2018). Baca selengkapnya...

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by