Donald Trump jadi Nama Spesies Amfibi Pengubur Kepala di Tanah

Oleh Rizki Akbar Hasan pada 19 Des 2018, 16:20 WIB
Diperbarui 19 Des 2018, 16:20 WIB
Ekspresi Donald Trump Saat Hadiri National Prayer Breakfast
Perbesar
Presiden AS Donald Trump saat menghadiri National Prayer Breakfast atau Sarapan Doa Nasional di sebuah hotel di Washington DC (8/2). (AFP Photo/Mandel Ngan)

Liputan6.com, London - Seekor amfibi yang baru ditemukan, yang memiliki kebiasaan mengubur kepalanya di pasir, dinamai menurut nama Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Penamaan itu kabarnya dilakukan sebagai tanggapan atas komentarnya tentang perubahan iklim.

Dermophis donaldtrumpi, yang ditemukan di Panama, diberi nama oleh kepala perusahaan yang telah mengajukan penawaran US$ 25.000 kepada badan lelang untuk mendapatkan hak istimewa.

Perusahaan itu mengatakan ingin meningkatkan kesadaran tentang perubahan iklim.

"Dermophis donaldtrumpi sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim dan karena itu terancam punah sebagai akibat langsung dari kebijakan iklim yang dilakukan oleh penyandang asli nama itu (Donald Trump)," kata co-founder EnviroBuild, Aidan Bell dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari BBC, Rabu (19/12/2018).

Makhluk kecil dan buta itu adalah sejenis caecilian yang hidup di bawah tanah. Aidan Bell menarik perbandingan karakteristik perilaku amfibi itu dengan Donald Trump.

"Perilaku (amfibi) itu untuk mengubur kepala ke bawah tanah seperti yang dilakukan Donald Trump ketika menghindari konsensus ilmiah tentang perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia," tulisnya.

 

Simak video pilihan berikut:

2 dari 2 halaman

Trump Membantah Perubahan Iklim Disebabkan oleh Manusia

Donald Trump mengunjungi American Cemetery of Suresnes di luar kota Paris dalam rangka peringatan berakhirnya Perang Dunia I (AFP)
Perbesar
Donald Trump mengunjungi American Cemetery of Suresnes di luar kota Paris dalam rangka peringatan berakhirnya Perang Dunia I (AFP)

Para ilmuwan terkemuka di dunia setuju bahwa perubahan iklim terutama disebabkan oleh manusia.

Tapi Trump, yang pemerintahannya telah mengejar agenda bahan bakar fosil, menuduh para ilmuwan tersebut memiliki "agenda politik" dan meragukan apakah manusia bertanggung jawab atas naiknya suhu Bumi.

"Saya tidak tahu bahwa itu buatan manusia," katanya dalam wawancara dengan CBS pada Oktober. "Saya tidak menyangkal perubahan iklim tetapi (suhu) sangat bisa kembali," tambahnya, tanpa menawarkan bukti.

Bulan lalu, Trump mempertanyakan laporan oleh pemerintahnya sendiri yang menemukan perubahan iklim akan menelan biaya ratusan miliar dolar AS setiap tahun dan merusak kesehatan.

"Saya tidak percaya," katanya kepada wartawan pada saat itu.

Setelah menjabat, dia mengumumkan bahwa AS akan menarik diri dari perjanjian iklim Paris, yang mengikat negara-negara untuk membatasi kenaikan suhu global.

Dia membenarkan keputusan itu dengan menegaskan bahwa dia telah terpilih untuk melayani warga Pittsburgh dan bukan Paris dan kesepakatan itu merugikan bisnis dan pekerja AS.

Lanjutkan Membaca ↓