Ini Persiapan Jepang Hadapi Potensi Gempa Dahsyat dan Tsunami 30 Meter

Oleh Teddy Tri Setio BertyElin Yunita Kristanti pada 16 Des 2018, 00:02 WIB
Diperbarui 17 Des 2018, 22:13 WIB
Gempa besar diperkirakan bisa terjadi di sepanjang Patahan Nankai Jepang

Liputan6.com, Tokyo - Tak ada yang bisa menebak dengan pasti, kapan dan di mana gempa besar akan terjadi. Namun, Jepang memetik banyak pelajaran dari peristiwa lindu dan tsunami yang terjadi pada masa lalu.

Salah satunya, dengan mempersiapkan diri untuk menghadapi potensi bencana di masa depan.

Seperti dikutip dari Japan Today, Sabtu 15 Desember 2018, Pemerintah Jepang mengestimasi, ada 70-80 persen peluang gempa dengan magnitudo 8 hingga 9 di sepanjang Palung atau Patahan Nankai (Nankai Trough) dalam waktu 30 tahun mendatang.

Patahan Nankai membentang lepas pantai Jepang tengah ke barat daya yang panjangnya mencapai 900 kilometer.

Dalam skenario terburuk, gempa tersebut bisa memicu tsunami dahsyat setinggi lebih dari 30 meter dan menewaskan hingga 323.000 orang, demikian menurut perkiraan pihak pemerintah.

Ilustrasi tsunami  (Pixabay)

 

Terkait hal tersebut, sebuah dewan pemerintah yang membidangi anti-bencana mengajukan skenario pesiapan. Salah satunya terkait evakuasi massal.

Dewan mengusulkan bahwa semua penduduk daerah pesisir di tengah dan barat jepang harus mengungsi jika wilayah tersebut dilanda gempa besar yang kemungkinan akan terjadi dalam tiga dekade ke depan.

Dewan meminta agar pihak pemerintah segera mengeluarkan perintah evakuasi untuk semua penduduk, termasuk di wilayah yang tidak langsung terdampak, jika gempa magnitudo 8 atau lebih terjadi di Patahan Nankai.

Warga juga disarankan tetap waspada dalam kurun waktu sekitar seminggu setelah gempa.

Kewaspadaan sangatlah penting, sebab, catatan masa lalu menunjukkan gempa kedua dengan skala yang relatif sama bisa saja terjadi mengikuti gempa besar di wilayah hiposentrum lain. Dalam kasus terpendek, jedanya hanya 32 jam.

Berdasarkan usulan tersebut, pemerintah akan menyusul pedoman tentang langkah-langkah menghadapi gempa untuk pemerintah kota dan sektor bisnis yang berpotensi terdampak bencana tersebut.

Wisatawan 'tur Fukushima ' melihat sapi yang memakan rumput yang terkontaminasi di sebuah peternakan di Namie, Prefektur Fukushima, setelah lima tahun pasca bencana nuklir yang dipicu gempa dan tsunami Jepang, 11 Februari 2016. (AFP PHOTO/Toru Yamanaka)

Pemerintah juga akan meninjau aturan terkait langkah-langkah menghadapi gempa bumi berskala besar.

Pemerintah bisa mengeluarkan perintah evakuasi untuk pemerintah kota yang diperkirakan akan terkena tsunami setinggi lebih dari 30 cm dalam waktu 30 menit setelah gempa.

Dan, pemerintah kota diharapkan mempersiapkan rencana evakuasi massal warganya sendiri.

Dewan juga mengusulkan dikeluarkannya imbauan jika gempa lebih kecil, dengan magnitude 7, terjadi. Atau, jika fenomena abnormal seperti deformasi bawah tanah terdeteksi bersama dengan tremor yang tidak cukup kuat untuk dirasakan oleh penduduk.

 

Saksikan video terkait gempa Jepang berikut ini:

2 dari 2 halaman

Prediksi Gempa Jepang

Parahnya Kerusakan Akibat Gempa di Jepang
Sejumlah warga melihat kondisi jalan yang mengalami kerusakan parah akibat Gempa magnitudo 6,7 di Sapporo, Hokkaido, Jepang, Kamis (6/9). (Hiroki Yamauchi/Kyodo News via AP)

Sebelumnya, panel ilmuwan yang tergabung dalam The Headquarters for Earthquake Research Promotion memperingatkan, sebuah lindu dahsyat berpotensi terjadi di Jepang.

Peringatan tersebut disampaikan pada Selasa 19 Desember 2017. Menurut para ilmuwan, gempa berpotensi mengguncang dengan kekuatan yang melampaui magnitudo 8,8 (bahkan ada yang menyebut 9) di pantai timur pulau Hokkaido.

Peluang terjadinya lindu antara 7 hingga 40 persen dalam kurun waktu 30 tahun.

"Saya berharap upaya persiapan bencana ditinjau berdasarkan kemungkinan gempa bumi raksasa, seperti yang pernah mengguncang wilayah Tohoku, juga bisa terjadi di Hokkaido," kata profesor seismologi di Universitas Tokyo, Naoshi Hirata, yang memimpin panel, seperti dikutip dari Asahi Shimbun, Rabu (20/12/2017).

Pada Maret 2011, gempa dengan magnitudo 9 mengguncang Honshu, pulau utama di Jepang. Lindu itu adalah yang terkuat dalam sejarah Negeri Matahari Terbit.

Gempa memicu tsunami raksasa, yang tingginya mencapai 40 meter. Gelombang gergasi kemudian menerjang daratan yang berjarak 10 km dari bibir pantai.

Gempa Besar Tohoku (Great Tohoku Earthquake) tersebut menyebabkan hampir 20 ribu orang tewas atau hilang.

Sementara itu, wilayah Hokkaido sudah lama tak diterjang gempa dahsyat. Menurut perkiraan panel tersebut, lindu raksasa di daerah itu biasanya terjadi dengan siklus 340-380 tahun.

Ilmuwan mengatakan, gempa raksasa terakhir terjadi 400 tahun lalu. Kala itu, tsunami dengan ketinggian 20 meter muncul setelahnya, menerjang daratan hingga 4 kilometer jauhnya.

Laporan tersebut juga mengetengahkan prediksi gempa di sejumlah wilayah lain. Misalnya, guncangan dengan kekuatan antara 7,8 hingga 8,5 diperkirakan akan terjadi di Nemuro. Peluangnya relatif tinggi, yakni 70 persen.

Kepulauan Kuril, khususnya di Shikotan dan Etorofu, memiliki peluang hingga 60 persen untuk diguncang gempa dahsyat.

Panel ilmuwan dalam The Headquarters for Earthquake Research Promotion juga memperingatkan, gempa yang kemungkinan terjadi pada masa depan, akan cukup besar untuk memengaruhi Prefektur Aomori, di mana pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) berada.

Persiapan harus dilakukan, mengingat pengalaman buruk yang menimpa PLTN Fukushima Dai-ici saat gempa magnitudo 9 mengguncang dan memicu tsunami pada 11 Maret 2011 lalu.

Tim panel yang dipimpin Naoshi Hirata, bekerja sama dengan Kantor Kabinet, akan mengevaluasi potensi ketinggian tsunami yang dihasilkan pada gempa besar yang akan datang.

Panel juga akan merevisi estimasi panjang patahan aktif yang ada di Jepang bagian barat.

Para ahli mengaku menemukan, jalur patahan (fault) geoteknik di sana lebih panjang dari perkiraan sebelumnya -- membentang dari bagian barat di wilayah Kin ki ke Prefektur Oita di Kyusu, dengan melewati wilayah Shikoku.

Sabuk patahan tersebut kini diperkirakan memiliki panjang 444 kilometer, bukan 360 km seperti perkiraan semula.

Menteri Sains dan Teknologi Jepang, Yoshimasa Hayashi mengatakan, apa yang disampaikan para ahli penting dalam mitigasi bencana.

"Kami berharap, laporan tersebut akan membantu pemerintah lokal untuk melakukan persiapan yang diperlukan dan meningkatkan kesadaran akan risiko bencana pada masyarakat," kata dia. 

Lanjutkan Membaca ↓