14-12-2012: Firasat Buruk Jelang Pembantaian di Sekolah Sandy Hook

Oleh Rizki Akbar Hasan pada 14 Des 2018, 06:00 WIB
Diperbarui 14 Des 2018, 07:16 WIB
Pembantaian di Sekolah Sandy Hook 14 Desember 2012 (AP Photo/Jessica Hill)

Liputan6.com, Newton - Logan Dryer adalah murid taman kanak-kanak di Sandy Hook. Namun, sudah beberapa bulan, bocah 5 tahun itu terus-menerus gelisah setiap kali menuju ke sekolahnya. Entah mengapa, ia selalu takut.

Untung ada Madeleine Hsu dan Caroline Previdi, dua bocah perempuan berusia enam tahun yang berperan jadi pelindung Logan. Keduanya selalu duduk di sebelahnya di dalam bus sekolah.

"Sekolah itu menyenangkan, jangan takut," kata mereka pada bocah laki-laki yang sedang mengalami serangan panik.

Namun, seperti dikutip dari Los Angeles Times, pada Jumat pagi, 14 Desember 2012, serangan panik yang dialami Logan kian menjadi. Ia gelisah bukan kepalang. Menangis, berteriak, meronta. Sang ibu pun mengizinkannya tak naik bus sekolah.

Kepanikan Logan mungkin adalah firasat buruk. Sebab, pada hari itu sebuah kejadian mengerikan menimpa Sandy Hook. Dan, dua 'malaikat pelindungnya' masuk daftar korban tewas.

Kala itu Adam Lanza, pemuda pemalu yang tak banyak cakap menjelma menjadi pembunuh berdarah dingin. Ia memberondong ibunya sendiri, Nancy dengan senapan kaliber 22. Jasad korban, dengan empat peluru di kepalanya, ditemukan di tempat tidur.

Lalu, Adam menyetir mobil Honda Civic ke kompleks sekolah Sandy Hook, mengenakan tutup telinga, membawa ratusan amunisi di rompi militernya, lalu menembak secara membabi buta.

Total, ia menembakkan 154 peluru saat bergerak di sepanjang koridor sekolah. Menggunakan Bushmaster AR-15 milik ibunya. Total 26 orang tewas akibat perbuatannya, termasuk murid-murid dan sejumlah guru.

"Ada seseorang melepaskan tembakan di sini, di SD Sandy Hook," kata salah satu penelepon ke kantor layanan darurat 911 Newtown, Connecticut, seperti dikutip dari News.com.au.

Tak diketahui apa motif di balik penembakan di Sekolah Sandy Hook tersebut. Setelah melakukan aksi jahatnya, Adam Lanza kemudian bunuh diri, dengan menembakkan peluru ke kepalanya sendiri.

2 of 3

Pengaruh Gen Jahat?

Dokumen Sandy Hook (1)
Adam Lanza menembak mati ibunya di rumah mereka di Connecticut pada 14 Desember 2012, lalu mengemudi ke sekolah dan membunuh 20 siswa kelas satu dan enam karyawan. (Sumber AP Photo/Western Connecticut State University)

Menurut laporan yang dirilis ke publik, Adam Lanza diduga terobsesi dengan pembunuhan massal.

"Terutama serangan pada 1999 di Columbine High School di Colorado," demikian dijabarkan sebuah laporan investigasi yang dilansir USA Today.

Tragedi Columbine merupakan peristiwa penembakan membabi-buta yang terjadi pada Selasa, 20 April 1999, di SMA Columbine di Distrik Jefferson, Colorado, dekat Denver, Amerika Serikat.

Dua siswa remaja bernama Eric Harris dan Dylan Klebold, melakukan penembakan membabi-buta hingga menewaskan 12 rekan siswa dan seorang guru, serta melukai 24 orang lainnya. Kemudian, mereka bunuh diri.

Menurut keterangan penyidik, Adam Lanza yang berusia 20 tahun itu didiagnosis mengalami sindrom Asperger yang tidak suka disentuh dan tak suka diatur saat tumbuh dewasa. Namun sayang, para peneliti belum dapat menentukan motif penembakan tersebut.

Ia tak bisa dimintai keterangan, jasad Lanza dengan luka tembak di kepala ditemukan di lokasi pembantaian. Diduga bunuh diri.

Selain polisi yang terus menyelidiki kasus ini, para ilmuwan diminta untuk menyelidiki DNA Adam Lanza, untuk mengungkap apakah ada gen "iblis" atau gen "jahat" yang berperan menyebabkan dia melakukan pembantaian.

Studi kontroversial ini akan melihat apakah ada kelainan atau mutasi pada DNA individu. Ini akan menjadi yang pertama yang dilakukan pada seorang pelaku pembunuhan massal.

Juru bicara University of Connecticut, Tom Green kepada ABC News, mengatakan, permintaan itu datang dari Pemeriksa Medis Connecticut, H. Wayne Carver yang melakukan penanganan post-mortem atau otopsi pada semua korban.

Terkait penelitian itu, Arthur Geaudet, profesor dari Baylor College of Medicine mengatakan, ilmuwan genetika di University of Connecticut kemungkinan, "akan mendeteksi kelainan pada apa yang disebut sebagai mutasi gen."

"Mereka akan mencari mutasi yang mungkin berkaitan dengan penyakit mental, juga uang berpotensi meningkatkan risiko perilaku kekerasan."

Beaudet, yang juga ketua departemen molekuler dan genetika manusia di Baylor College of Medicine, di Houstin, Texas, mengatakan, ahli genetika seharusnya melakukan studi seperti ini.

Dia mengatakan, meski belum tentu orang yang punya mutasi genetika serupa pasti akan menjadi pelaku penembakan massal. "Namun, beberapa dari pelaku bisa jadi punya gen yang bermutasi, yang mungkin menyebabkan skizofrenia, maupun skizofrenia terkait perilaku kekerasan," kata Beaudet.

Dengan mempelajari kelainan genetika, dia menambahkan, kita dapat mempelajari kondisinya secara lebih baik, siapa yang berisiko, juga perawatan apa yang bisa diberikan. "Untuk menghentikan penembakan massal lain atau mengurangi risikonya."

Meski dikenal pemalu dan anti-sosial, tak ada tanda-tanda kekerasan yang ditunjukkan Lanza. Ia diketahui menghabiskan waktu berjam-jam di ruangan bawah tanah rumahnya, bermain video game tembak-tembak.

Kondisi mentalnya mungkin dipengaruhi perceraian orangtuanya, dan fakta bahwa sang ibu, Nancy Lanza, adalah seorang "prepper", yang menimbun senjata dan makanan untuk menghadapi bencana, juga kiamat.

 

3 of 3

Lemparan Sepatu untuk George W Bush

Momen pelemparan sepatu ke arah Presiden George W Bush saat berada di Irak (AP)
Momen pelemparan sepatu ke arah Presiden George W Bush saat berada di Irak (AP)

Selain pembantaian di Sandy Hook, sejumlah peristiwa penting dalam sejarah juga terjadi pada 14 Desember.

Pada 2003, Saddam Hussein, jatuh ke 'tangan' tentara AS. Ia ditemukan bersembunyi di sebuah bunker kecil di rumah lokasi pertanian sekitar 10 mil (15 km) selatan dari kota asalnya, Tikrit.

Sementara, pada 4 Desember 2008, Presiden Amerika Serikat (AS) George Walter Bush atau George W Bush nyaris terkena lemparan sepatu.

Tak hanya satu, tapi dua alas kaki itu 'terbang' ke arah Presiden AS ke-43 itu, di tengah-tengah acara jumpa pers bersama Perdana Menteri Nouri Al-Maliki.

Awalnya, seorang wartawan berdiri dan berteriak, "Ini tanda perpisahan dari rakyat Irak, an***," kemudian melempar sepasang sepatunya ke arah Presiden Bush. Lemparan itu meleset.

Refleks Bush sempurna, ia berhasil menunduk untuk menghindari serangan sepatu terbang dua kali berturut-turut. Sementara orang-orang dalam ruangan jumpa pers itu kebingungan dan beralih pandangan ke arah jurnalis yang melayangkan alas kakinya.

"Yang bisa saya katakan adalah, sepatu itu nomor 10," canda Presiden Bush setelah insiden, seperti dimuat BBC kala itu.

Pelempar sepatu kemudian dibawa pergi oleh para pengawal dan jumpa pers dilanjutkan. Para wartawan menyebut insiden itu sebagai insiden simbolik.

Rakyat Irak lazim melempar sepatu, dan sejumlah orang menggunakan sepatu untuk memukuli patung Saddam Hussein di Baghdad setelah dia digulingkan.

Lemparan sepatu dianggap sebagai hinaan terburuk dalam budaya Arab.

Lanjutkan Membaca ↓