Serangan Israel Bikin Jatuh Pesawat Rusia, Tapi Putin Tidak Murka, Kenapa?

Oleh Happy Ferdian Syah Utomo pada 13 Des 2018, 12:02 WIB
Pesawat Il-20 milik militer Rusia dilaporkan hilang di wilayah udara Suriah pada Senin, 17 September 2018 (AP/TASS./Yuri Smityuk)

Liputan6.com, Moskow - Insiden tertembak jatuhnya pesawat Rusia oleh Israel disebut oleh Vladimir Putin sebagai "rangkaian situasi tragis", namun tidak juga segera memberi tanggapan tegas terhadapnya. Moskow tak lantas mengecam Tel Aviv. 

Hal tersebut, menurut beberapa pengamat, membuat Israel berada di posisi terjepit, yang mengarah ke pertanyaan tentang apakah Rusia akan terus memberi negeri zionis kebebasan berkuasa atas sebagian wilayah udara Suriah.

"Jet tempur Israel menyerang sasaran terkait Iran di Suriah. Pertahanan udara Suriah mencoba untuk menggagalkan serangan Israel, dan secara tidak sengaja menabrak sebuah pesawat Angkatan Udara Rusia dengan rudal buatan Rusia," lapor surat kabar Haaretz, sebagaimana dikutip dari Asia Times pada Kamis (13/12/2018).

Laporan tersebut juga memuat beberapa dugaan pengamat, yang menyebut kecelakaan maut itu --yang merenggut nyawa awak pesawat Il-20 yang jatuh-- bisa menjadi masalah serius bagi Israel, dan bahkan mungkin membahayakan kebebasan strategisnya di Suriah.

Di lain pihak, beberapa pengamat menilai insiden itu sebagai hal memalukan bagi Moskow, yang enggan mengakui bahwa senjata buatan Rusia yang ditembakkan oleh rezim Suriah itu menjatuhkan salah satu jet tempur andalannya.

Namun Kementerian Pertahanan Rusia masih menyalahkan Israel karena menggunakan pesawat Il-20 Rusia "sebagai tameng".

Klaim itu bertentangan dengan laporan Israel bahwa jet-jetnya telah kembali ke wilayah udara resminya pada saat insiden itu terjadi.

Putin kemudian melunakkan tanggapan Rusia, menunjukkan insiden maut itu adalah hasil dari "rangkaian situasi tragis".

 

Simak video pilihan berikut:

 

2 of 2

Rusia Terbelenggu?

Presiden Rusia Vladimir Putin (AP/Alexei Nikolsky)
Presiden Rusia Vladimir Putin (AP/Alexei Nikolsky)

Beberapa pengamat, sebagaimana dikutip dari JPost.com, menilai insiden itu menggambarkan bahwa beragam kekuatan yang saling bekerjasama di Suriah, tidak berkomunikasi dengan baik dalam mengambil sikap.

Spekulasi muncul, mengatakan Rusia mungkin menuntut peringatan sebelum serangan terjadi, untuk kemudian menegakkan zona larangan terbang di dekat pangkalan tertentu, atau memasok sistem pertahanan udara yang lebih maju kepada pasukan Bashar al-Assad.

Rusia dilaporkan memiliki sistem S-400 di daerah itu dan serangan-serangan ini tampaknya menunjukkan Moskow tidak mau menggunakan sistem terkait. Di satu sisi, Negeri Beruang Merah juga menjual perangkat pertahanan canggih itu ke Turki dan pembeli lain.

Ini menempatkan Rusia dalam belenggu. Jika menggunakan sistem pertahanan yang canggih tersebut, bisa jadi itu dapat meningkatkan konflik.

Tetapi, jika tidak menggunakannya, maka Suriah akan bertanya-tanya mengapa Rusia tidak membela armada pesawat dan asetnya sendiri di wilayah konflik terkait. Hal tersebut berarti memicu keraguan terhadap sistem pertahanan S-400.

 

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait