Jamal Khashoggi dan Para Jurnalis Korban Persekusi Masuk Daftar Person of the Year 2018

Oleh Rizki Akbar Hasan pada 12 Des 2018, 14:00 WIB
Diperbarui 12 Des 2018, 17:17 WIB
Dua Jurnalis Dipenjara, Kedubes Myanmar Didemo Pewarta

Liputan6.com, Washington DC - Sejumlah jurnalis yang terbunuh, terpenjara, atau yang diberedel di penjuru dunia menjadi Person of the Year 2018 versi majalah ternama Amerika Serikat, Time.

Time's Person of the Year merupakan sebuah ajang penghargaan tahunan yang memprofilkan pria, wanita, pasangan, kelompok, gagasan, tempat, atau mesin "yang terbaik maupun terburuk, ... telah menjadi hal yang paling berpengaruh atas peristiwa tahun ini."

Jamal Khashoggi, jurnalis Arab Saudi yang dibunuh oleh aparatur negaranya menjadi salah satu nama yang masuk daftar. Wajahnya terpampang dalam sampul salah satu edisi Time's Person of the Year.

Para staf surat kabar lokal Amerika Serikat, Capital Gazette yang menjadi korban penembakan massal, juga ikut dicantumkan.

Jamal Khashoggi (kiri) dan staf The Capital Gazette (kanan) dalam sampul Time's Person of the Year (screengrab / Time)

Tak ketinggalan, dua wartawan kantor berita Reuters, Wa Lone dan Kyaw Soe Oo yang dipenjara oleh Myanmar akibat jurnalisme-nya soal krisis kemanusiaan Rohingya. Istri mereka, yang memegang foto suaminya masing-masing, menjadi sampul salah satu edisi Time's Person of the Year.

Majalah Time mengatakan mereka dipilih karena telah "mengambil risiko besar dalam mengejar kebenaran yang lebih besar, untuk pencarian fakta yang tidak sempurna tetapi penting, untuk berbicara dan menyuarakan".

Berikut para jurnalis dunia yang menjadi Time's Person of the Year, seperti dikutip dari BBC, Rabu (12/12/2018).

 

Simak video pilihan berikut:

2 of 5

1. Jamal Khashoggi

Foto Jamal Khashoggi, wartawan Arab Saudi yang dibunuh di Istanbul (AP/Jacquelyn Martin)
Foto Jamal Khashoggi, wartawan Arab Saudi yang dibunuh di Istanbul (AP/Jacquelyn Martin)

Kolumnis The Washington Post yang dibunuh di tangan agen Saudi di Istanbul digambarkan oleh majalah Time sebagai "komentator dan kritikus yang produktif dari putra mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman."

Jamal Khashoggi terakhir terlihat pada 2 Oktober ketika dia memasuki konsulat Saudi di Istanbul untuk mendapatkan surat-surat yang dia butuhkan untuk menikahi tunangannya di Turki. Dia menghilang tak lama setelah memasuki gedung diplomatik, memicu Arab Saudi menghasilkan berbagai narasi yang kontradiktif untuk menjelaskan keberadaannya.

Riyadh akhirnya mengakui Khashoggi meninggal di konsulat tak lama setelah dia masuk, menyalahkan kematiannya pada agen-agen nakal --sebuah penjelasan yang telah dikritik, dengan beberapa pihak menuduh bahwa Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman, penguasa de facto Arab Saudi, menjadi otak dari pembunuhan itu.

Tubuh Khashoggi belum dikembalikan ke keluarganya, di tengah laporan itu dipotong secara brutal dan mungkin terlarut dalam asam.

"Diyakini telah dibunuh atas perintah Putra Mahkota (Arab Saudi), kematiannya memicu kecaman internasional dan pengawasan terhadap rezim Saudi," kata Time.

Beberapa bulan sebelum kematiannya, Khashoggi rajin menulis kolom opini untuk The Washington Post yang yang berisi kritik terhadap kebijakan pemerintahan Pangeran MBS--yang kini menjadi pemimpin de facto Arab Saudi-- atas kebijakan domestik dan kebijakan luar negerinya, campur tangan Saudi dalam perang di Yaman, dan penindasan terhadap perbedaan pendapat dan media di kerajaan.

3 of 5

2. Jurnalis Surat Kabar Capital Gazette

Penembakan di Kantor Koran AS
Gubernur Maryland, Larry Hogan (tengah) mendatangi lokasi penembakan brutal di kantor surat kabar lokal di Annapolis, AS, Kamis (28/6). Hogan menyampaikan duka atas tragedi yang terjadi di gedung Capital Gazette. (AP/Susan Walsh)

Seorang pria bersenjata berjalan ke kantor surat kabar Capital Gazette di Annapolis, Maryland, pada 28 Juli 2018. Pelaku melepas tembakan, menewaskan lima anggota staf editorial.

Tersangka memiliki dendam lama terhadap surat kabar itu setelah gagal menggugatnya karena pencemaran nama baik pada 2012, kata para penyelidik.

Terlepas dari kengerian yang terjadi di tempat kerja mereka, staf tetap bekerja di tempat parkir kantor untuk menerbitkan edisi keesokan harinya. Serta menerbitkan obituari rekan-rekan mereka, lalu meninggalkan halaman editorial kosong dengan catatan bertuliskan: "kami tidak bisa berkata-kata."

4 of 5

3. Maria Ressa dan Rappler

Ilustrasi Bendera Filipina (Wikipedia.org)
Bendera Filipina (Wikipedia.org)

Mantan wartawan CNN Maria Ressa mendirikan situs berita online Rappler-nya di Filipina pada tahun 2012, dan sejak itu memperoleh reputasi sebagai jurnalisme investigatif yang keras mengkritik.

Mereka secara terbuka mengkritik Presiden Rodrigo Duterte, mempertanyakan keakuratan pernyataan publiknya, khususnya atas perang mematikannya terhadap narkoba.

Beberapa bulan setelah Duterte terpilih menjadi pressiden pada 2016, Rappler menerbitkan laporan terperinci mengenai dugaan bahwa bot otomatis dan akun Facebook palsu digunakan untuk memperkuat kampanye pro-Duterte --sesuatu yang ditolak oleh tim presiden.

Duterte telah melabeli laporan Rappler sebagai "melintir" dan melarang wartawan politiknya memasuki kantor kepresidenan.

Pada Januari tahun ini, Rappler dicabut izinnya oleh negara, memicu perdebatan nasional tentang kebebasan pers.

November ini, Maria Ressa dan situs beritanya dituduh melakukan penghindaran pajak --sesuatu yang dikatakannya adalah "bentuk jelas dari intimidasi dan pelecehan yang berkelanjutan".

5 of 5

4. Wa Lone dan Kyaw Soe Oo

Dua Jurnalis Dipenjara, Kedubes Myanmar Didemo Pewarta
Jurnalis mengikat tangan saat unjuk rasa di depan Kedubes Myanmar, Jakarta, Jumat (7/9). Mereka mendesak pemerintah Myanmar membebaskan Wa Lone dan Kyaw Soe Oo yang menulis laporan serangan militer di Rakhine. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Wartawan Reuters Wa Lone dan Kyaw Soe Oo, keduanya warga Myanmar, dijatuhi hukuman tujuh tahun penjara pada bulan September karena melanggar undang-undang rahasia negara.

Itu berasal dari pekerjaan mereka pada September 2017 yang menginvestigasi terkait pembunuhan 10 pria Rohingya oleh tentara di desa Rakhine utara Inn Dinn.

Kedua jurnalis ditangkap pada bulan Desember 2017 saat membawa dokumen resmi yang telah diberikan oleh dua petugas polisi. Mereka selalu mempertahankan ketidakbersalahan mereka dan mengatakan mereka dijebak oleh polisi.

Kasus ini telah dilihat secara luas sebagai ujian kebebasan pers di Myanmar.

Aung San Suu Kyi, yang pernah dilihat sebagai suar hak asasi manusia dan demokrasi, telah menghadapi kecaman internasional atas penanganan pemerintahnya atas kasus tersebut.

Dia membela putusan yang mengatakan dua wartawan telah melanggar hukum dan bahwa vonis mereka "tidak ada hubungannya dengan kebebasan berekspresi sama sekali".

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by