Dukung Nicolas Maduro, Rusia Kirim Dua Jet Pengebom ke Venezuela

Oleh Happy Ferdian Syah Utomo pada 11 Des 2018, 13:02 WIB
Diperbarui 12 Des 2018, 11:15 WIB
Salah satu jet pembom Rusia TU-160 "Blackjack" mendarat di Caracas untul latihan militer bersama antara Rusia dan Venezuela (AFP/Federico Parra_

Liputan6.com, Caracas - Pemerintah Rusia dilaporkan telah mendaratkan dua unit jet pengebom nuklir berjuluk "Blackjack" di Venezuela, sebagai bagian dari latihan gabungan kedua negara.

Namun, menurut para ahli, kegiatan itu dirancang untuk menunjukkan kekuatan militer Rusia yang semakin meningkat, sekaligus mendukung presiden Venezuela saat ini, Nicolás Maduro.

Dikutip dari The Guardian pada Selasa (11/12/2018), pesawat Tu-160 mendarat di Bandara Internasional Simón Bolívar di dekat Caracas pada Senin pagi, menurut media pemerintah Venezuela.

Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan dua jet pembom itu --digunakan dalam operasi militer di Suriah-- adalah bagian dari armada terbaru yang lebih besar, termasuk pesawat angkut militer An-124 dan pesawat jet penumpang Il-62, yang telah terbang lebih dari 10.000 kilometer ke Venezuela.

Menteri Pertahanan Venezuela, Vladimir Padrino López, mengatakan kedatangan pesawat pembom itu murni untuk latihan bersama, dan tidak dimaksudkan sebagai provokasi.

"Kami adalah pembuat perdamaian, bukan perang," katanya seperti dikutip oleh lembaga penyiaran negara, Venezolana de Televisión (VTV).

Duta besar Rusia di Caracas, Vladimir Zaemskiy, mengatakan kepada VTV bahwa kegiatan itu mencerminkan kemitraan militer yang telah berkembang di antara kedua negara.

Venezuela mulai menjalin hubungan diplomatik dengan Rusia di akhir masa kepemimpinan Hugo Chavez pada 2005.

Namun, beberapa pengamat mengatakan bahwa latihan militer bersama --yang didahului oleh kunjungan tiga hari ke Moskow-- kemungkinan dirancang Maduro untuk mengirim sinyal ke AS bahwa Venezuela tetap memiliki dukungan internasional.

"Latihan militer Rusia yang melibatkan Venezuela bukanlah hal baru, tetapi kemungkinan ada pesan khusus saat dilakukan sekarang," kata Harold Trinkunas, pengamat politik Amerika Latin dari Stanford University.

Trinkunas mengatakan penempatan itu "kemungkinan besar adalah sinyal dukungan untuk rezim Maduro ketika Rusia dan Venezuela sama-sama bersitegang dengan Amerika Serikat".

"Rusia juga dikabarkan telah tertarik untuk menggunakan kemampuan militer jangka panjangnya dalam beberapa tahun terakhir, dan kunjungan semacam itu ke Venezuela memenuhi fungsi tersebut," tambahnya.

 

Simak video pilihan berikut: 

 

2 dari 2 halaman

Rezim Maduro dan AS Bersitegang

Presiden Venezuela Nicolas Maduro (AP/Ariana Cubillas)
Presiden Venezuela Nicolas Maduro (AP/Ariana Cubillas)

Awal bulan ini, menteri pertahanan AS, James Mattis, menggambarkan Maduro sebagai penguasa lalim yang tidak bertanggung jawab, dan telah membuat negaranya jatuh ke dalam kehancuran.

Tahun lalu, Donald Trump mengatakan kepada wartawan ada "banyak pilihan" untuk menyelesaikan krisis Venezuela, sebelum menambahkan: "Dan omong-omong, saya tidak akan mengesampingkan opsi militer."

Sementara itu, Nicolas Maduro, yang menyalahkan keruntuhan ekonomi negaranya karena "perang ekonomi" oleh AS, kembali dari perjalanannya ke Rusia, menggembar-gemborkan bantuan senilai US$ 6 miliar (setara Rp 87 triliun), dalam bentuk investasi dan kesepakatan sebagian restrukturisasi ekonomi Venezuela.

Maduro mengecam AS pada Minggu malam, mengklaim upaya kudeta yang didukung Gedung Putih sedang terjadi, dan dirancang untuk "mengganggu kehidupan demokratis Venezuela".

Namun, Maduro tidak menunjukkan bukti untuk mendukung klaimnya itu, tetapi berjanji segera mengungkap rincian lebih lanjut.

 

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait